Mengarifi ‘Bencana Alam’
Written By Amoe Hirata on Minggu, 28 Desember 2014 | 23.47
Di penghujung tahun 2014, bencana demi bencana silih berganti menimpa negeri pertiwi. Dari mulai banjir di Bandung, tanah longsor Banjar Negara, kebakaran pasar Klewer sampai jatuhnya pesawat Air Asia di selat Karimata. Semua terjadi dalam waktu yang tidak terlalu jauh. Namun yang menjadi masalah, apakah semua itu mampu membangunkan kesadaran internal khalayak umum, bahwa semua itu terjadi bukan karena semata bencana alam? Akankah alam murka, jika manusia bisa membina interaksi yang baik dengannya serta melakukan kewajiban secara baik terhadap Tuhannya. Tulisan ini mencoba mengarifi bencana dalam perspektif Islam.
Dalam Islam, alam diposisikan sebagai makhluk yang selalu bertasbih, bersujud, dan taat kepada titah-Nya: “Senantiasa bertasbih kepada Allah apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi. (Qs. Al-Jumu`ah: 1). Di ayat lain Allah berfirman: “hanya kepada Allah-lah sujud (patuh) segala apa yang di langit dan di bumi, baik taat (dengan kemauan sendiri) ataupun terpaksa”(Qs. Al-Ra`du: 15). Ini berarti, segala pergerakan alam, sejatinya seirama dengan kehendak Allah subhānahu wata`āla, karena pada dasarnya, apa yang mereka lakukan adalah bentuk ketaatan kepada-Nya.
Di samping itu –sebagaimana manusia- alam juga dibekali Allah dengan bahasa yang dimengerti di antara mereka, serta diberikan perasaan. Ia mampu bertasbih, memiliki bahasa tersendiri(Qs. An-Naml: 16), serta memiliki perasaan geram ketika melihat kondisi manusia yang tidak taat. Saat Fir`aun dan bala tentaranya ditenggelamkan di laut merah, al-Qur`an menggambarkan respon langit dan bumi: “Maka langit dan bumi tidak menangisi mereka dan mereka pun tidak diberi tangguh”(Qs. Ad-Dukhān: 10). Lihat bagaimana alam menahan kegeramannya terhadap orang yang durhaka.
Jika kita mengetahui bahwa alam selalu taat pada titah-Nya, memiliki perasaan sebagaimana kita, maka seyogyanya bencana alam yang terjadi menumbuhkan kearifan dalam benak manusia. Ia tidak terjadi begitu saja tanpa ada perilaku yang salah dari manusia. Mungkin selama ini manusia di bumi pertiwi terlalu bangga dengan dirinya sendiri, terlalu asyik dengan kemaksiatan sehingga tidak memperhatikan alam dan Tuhan. Maka jangan heran jika alam pun memberang. Semua terjadi tak lepas dari buah tangan manusia sendiri(baca: Qs. Ar-Rūm: 41).
Adanya bencana memberikan ruang pada manusia untuk mengevaluasi diri. Agar tidak mengeksploitasi alam untuk kepentingan pribadi; supaya tidak menceraikan Tuhan dari kehidupan; agar senantiasa taat dan berbuat baik supaya seirama dengan alam dan tidak menimbulkan murka Tuhan. Jika bencana tidak membuat insaf, dan maksiat tersebar luas tanpa ada yang mengingatkan, maka ada baiknya kita baca pesan Nabi Muhammad kepada Ummu Salamah: “Jika maksiat telah menyebar diantara umatku, Allah akan menurunkan adzab secara umum”. Ummu Salamah bertanya: “Wahai Rasulullah, bukankah di antara mereka ada orang shalih?” Rasulullah menjawab: “Ya”(Hr. Ahmad).
"Silahkan Natal & Tahun Baru"
Written By Amoe Hirata on Kamis, 25 Desember 2014 | 21.26
Silahkan Natal
Karena itu privasimu
Tapi jangan memaksa
Untuk mengucap
"Selamat Natal"
atas nama:
"TOLERANSI"
Lakum diinukum
Waliyadin
Bagimu agamamu
Bagiku agamaku
Silahkan Tahun Baru
Karena itu hakmu
Tapi jangan mengira
Bahwa mengucap:
"Selamat Tahun Baru"
adalah:
"Ajaran Nabi"
Man Tasyabbaha biqoumin
Fa huwa minhum
Barangsiapa menyerupai suatu kaum
Maka ia bagian dari mereka
Ide Diburu apa Ditunggu?
Written By Amoe Hirata on Rabu, 24 Desember 2014 | 16.03
Pernahkah
anda membaca buku karangan ulama kawakan, Imam Abu Faraj Ibnu Jauzi(508 H-597
H) yang berjudul ‘Shaidu al-Khāthir’?
Buku ini sangat istimewa. Paling tidak, dari judulnya saja sudah membuat
pembaca tertarik dan terinspirasi. Judul tersebut memiliki arti: “Memburu Ide”.
Bagi beliau –melalui judul di atas- yang namanya ide itu harus diburu. Coba
sejanak anda berimajinasi, bagaimana ketika berada diposisi sebagai pemburu?
Yang namanya berburu, persiapan harus matang. Barang yang diburu adalah barang
yang liar dan tidak bisa didapat dengan cara mudah. Dibutuhkan kekuatan, akurasi,
speed(kecepatan), dan timing(pemilihan waktu) tepat untuk
mendapatkan buruan yang sesuai dengan apa yang dikehendaki.
Demikian
halnya posisi ‘ide’ bagi seorang penulis.
Ide tidak akan didapat, jika hanya menunggu. Penulis yang mau
mendapatkan ide, maka ia harus mengaktifkan panca inderanya, melakukan
eksplorasi, mengalami, dan berusaha sedapat mungkin dengan segenap
kemampuannya. Semakin susah didapat, maka ide semakin berkualitas. Lantaran
karakter ide yang cepat datang dan pergi, maka –sebagaimana analogi di atas-
penulis harus menyiapkan alat untuk memburu. Salah satu alat yang paling sederhana
dan efektif, ialah dengan membiasakan diri untuk selalu membawa buku catatan
beserta pena. Setiap kali terlintas, maka segera ditulis. Ide bukan hanya
muncul dari bacaan buku dalam pengertian literal, ia justru banyak didapat dari
bacaan buku yang bersifat non-literal(alam).
Jangan “Berhitung” dengan Allah
Written By Amoe Hirata on Selasa, 23 Desember 2014 | 18.45
Tarmudzi
Syathir dengan semangat tinggi -atas nama iman-, setelah mendengar wejangan
dari Kh. Syukran, ia bertekad untuk tidak meninggalkan shalat berjama`ah
berikut sunah-sunahnya. Pria yang akrab disapa Setir itu, begitu terkesima
dengan pahala-pahala yang akan diperoleh jika melaksanankan shalat berikut
sunahnya. Dalam hati ia bergumam: “Lha kalau shalat sunnah shubuh saja
ganjarannya seperti dunia dan isinya, lalu bagaimana dengan shalat lainnya”. Ia
pun mulai berhitung, dan segera membuat planning matang untuk
amalan-amalannya ke depan.
Orang
seisi rumah pun menjadi kaget bukan main. Ga biasanya Setir rajin ibadah
seperti itu. Apalagi pria yang dikenal sebagai penjual bakso itu berubah secara
drastis. Bukan hanya seisi rumah, orang-orang di kampung pun geleng-geleng
kepala. Seisi kampung bergemuruh. Ia menjadi buah bibir masyarakat. Setir cuek
saja menghadapi kehebohan tersebut. Yang jelas sekarang dia merasa di atas
jalan yang benar. Iman serasa meningkat, hati begitu mantap dan kuat. Dalam
hati ia berseloroh: “para pedagang yang shalatnya ga rajin, bahkan ada yang ga
shalat saja rejekinya banyak, apalagi aku yang rajin ibadah”.
Mulailah
ia menjalankan aktivitas sebagaimana biasa. Di luar perkiraan, pendapatannya
ternyata semakin menurun. Para pelanggannya banyak yang kabur. Bahkan kalau
saja hari ini tidak ada teman-teman lamanya yang mampir, praktis dagangannya
tidak laku. Sedikit demi sedikit dengan sangat halusnya, keraguan mulai
menyusupi jiwanya. Ia mulai mempertanyakan, memberontak dan marah-marah dalam
munajatnya. “Ya Allah, katanya melakukan ibadah itu pahalanya besar. Lalu
kenapa rejekiku semakin ambyar(hancur lebur)?” begitulah ia bergumam
pada sepertiga malam. Waktu itu ia bertekad untuk menemui yai Syukran esok
hari.
Berkunjunglah
ia ke kediaman Pengasuh Pondok Pesantran Al-Ghuroba itu. Diceritakanlah semua
yang ia alami selama beberapa bulan. Dengan sangat serius beliau menyimak
sampai Setir selesai. Ketika sudah tuntas, akhirnya –dengan kepala dingin- Yai
Syukran menjelaskan: “Tir –maaf sebelumnya-, sebenarnya penjelasanku tentang
pahala, sama sekali tidak ada yang salah. Hanya saja, kamu kurang tepat
memahaminya. Padahal waktu itu `kan sudah aku buka kesempatan bertanya
selebar-lebarnya, namun di antara yang nanya tidak ada nama kamu”.
“Jadi begini
Tir, yang namanya pahala, itu hanya sebagai stimulus untuk menggiatkan ibadah.
Memang setiap orang akan mendapat pahala, jika ikhlas dan sesuai petunjuknya.
Namun perlu kamu ingat, dalam beribadah jangan main perhitungan dengan Allah. Lha
kenapa kita ga usah itung-itungan? Sederhana saja sebenarnya, apa yang
dianugerahkan Allah pada kita, tak ada putus-putusnya, dan kalau pun kita mau menghitung-hitungnya,
maka tidak akan mampu. Allah sendiri ketika memberi tak pernah menghitung. Di
samping itu Tir, yang namanya orang ngitung `kan barang yang dihitung jelas.
Lha kalau pahala, emang kamu bisa memastikan dapat pahala?”
“Perlu kamu
ketahui juga bahwa rejeki Allah itu tak terbatas pada penghasilan, uang. Kesehatan,
keimanan, kesempatan, dan umurmu adalah bagian dari rezeki-Nya. Mentang-mentang
ibadah banyak, jangan lantas dikaitkan dengan penghasilanmu. Kalau kamu
beribadah masih pamrih, kenapa kamu menuntut Allah memberi? Daganganmu ga laku,
jangan langsung dikaitkan dengan ibadahmu. Pastikan selalu husnudzan
pada-Nya.” Tukas Yai Yusran menasihati. “Lalu aku haru bagaimana yai, biar
pemahaman benar, tapi usahaku lancar?” tanya Setir. “Dalam menjalani hidup
berbekallah taqwa, karena ia adalah sebaik-baik bekal. Dengan takwa –sebagaimana
yang terdapat dalam surat At-Talaq: 2, 3, 4, dan 5- kamu akan mendapat beberapa
hal: diberi jalan keluar, dianugerahi rezeki yang tiada disangka-sangka,
dipermudah urusannya, dosa-dosanya dihapus dan ganjaran dibesarkan. Ingat! Justru
dengan taqwa, Allah akan memberi sesuatu yang tidak pernah diperhitungkan”.
Gerakan Penyelamat Peradaban
Written By Amoe Hirata on Minggu, 21 Desember 2014 | 06.00
Salah satu ide penting, yang mengharumkan
nama `Amru bin `Āsh, dalam belantika sejarah Islam ialah, ‘pembebasan
negeri Kinanah, Mesir’. Paling tidak ada beberapa alasan yang menggambarkan
urgensinya. Pertama, Mesir merupakan tempat strategis yang dijadikan
oleh Romawi timur dalam menancapkan kuasanya. Ketika wilayah ini bisa
dibebaskan, maka dakwah Islam sebagai rahmat bagi seantero alam pun tak
terhalang, dan kekuatan Romawi pada akan semakin menyempit. Kedua, Mesir
–sebagai peradaban besar kala itu- telah dijajah imperium Romawi selama
sembilan abad. Sudah saatnya ia dibangunkan kembali dari ‘tidur panjangnya’. Ketiga,
kolonialisasi yang dilakukan Romawi membuat penduduknya hidup dalam derita luar
biasa. Salah satu tugas Islam ialah membebaskan manusia dari berbagai tirani. Keempat,
usaha ini bisa dianalogikan sebagai upaya penyelamatan peradaban. Kebesaran
peradaban Mesir, harus diselamatkan peradaban baru yang dibawa Islam. Peninggalan
yang baik tetap dipertahankan, sedangkan yang jelek akan diisi dengan ruh
Islam. Kelima, sebagai keterpanggilan hati terhadap pesan ilahi: “Hai
orang-orang yang beriman, perangilah orang-orang kafir yang di sekitar kamu
itu,” tentu saja bukan kafir dzimmi, tapi kafir yang tirani,
penindas kemanusiaan, dan penghalang penyebaran dakwah damai.
Betapa pun penting ide `Amru bin `Āsh`Amru bin `Āsh, dalam lapangan ia menemukan beberapa
kendala. Pertama, yang dihadapi adalah imperium digdaya Romawi yang
berkuasa berabad-abad di Mesir. Konon, jumlah tentara romawi yang berada di
Mesir lebih dari lima puluh ribu pasukan. Kedua, ia sama sekali tidak
memiliki peta yang jelas terkait dengan potensi kekuatan dan peta wilayah tersebut. Ketiga, ia hanya memiliki
empat ribu pasukan. Keempat, untuk sampai ke Mesir, ia harus melewati
gurun sinai yang begitu luas dan sangat panas. Kelima, ide yang brilian
ini, awalnya mendapat penolakan keras dari Khalifah Umar bin Khattab. Dengan
kebijaksanaan dan kecerdikan yang dimiliki, kelima dari kendala tersebut bisa
diatasi dengan baik. Malah Umar bin Khattab-ketika pasukan sudah sampai daerah
Farma, Bus Sa`id- menambahkan empat ribu
pasukan, yang dikomandoi oleh empat panglima besar –yang satu orang senilai
dengan seribu orang- Zubair bin Awwām,
Ubadah bin Shāmit, Miqdād bin
`Amru, dan Muslamah bin Mukhallad. Kemenangan demi kemenangan pun dapat diraih
dengan gemilang. Pada akhirnya wilayah ini bisa dibebaskan dari cengkraman
kolonial peradaban, Romawi.
Penduduk Mesir sontak merasa gembira.
Kebebasan pun diberikan, meliputi agama, sosial, hak politik dan lain
sebagainya. Kekuasaan tirani sudah tumbang, telah tiba saatnya mereka bangkit dari
‘tidur panjang’. Wajah peradaban Mesir yang begitu kelam, sedikit demi sedikit
mulai terang berseri-seri. Tanpa paksaan, banyak orang berbondong-bondong
memeluk agama Islam. Kedatangan Islam benar-benar menjadi penyelamat bagi
peradaban besar yang ‘mati suri’. Uniknya dalam jangka waktu yang tidak sampai
satu Abad, penduduknya dengan senang hati telah berkomunikasi dengan bahasa
Arab. Lain halnya dengan Romawi, meskipun berabad-abad mereka menjajah Mesir,
mereka tidak mampu mengubah bahasa penduduk Mesir. Apa yang dilakukan `Amru bin `Āsh ini sungguh upaya yang patut diacungi jempol.
Pada abad-abad selanjutnya, dengan wilayah negara Islam lainnya, Mesir mampu
menjadi ‘negara berperadaban tinggi’. Mampu menjadi mercusuar peradaban dunia. Layaknya
Baghdad, Samara, Damaskus, ia juga menjadi pusat pengembangan ilmu-pengetahuan.
Banyak sekali ilmuan dan ulama yang lahir di sana. Demikianlah yang dilakukan
oleh `Amru bin `Āsh. Ide
besarnya, mengantarkannya sebagai tokoh penting dalam upaya, ‘penyelamatan
peradaban’. Namanya diabadikan dalam peninggalan masjid yang diberi nama `Amru
bin `Āsh. Wallahu a`lam bi al-Shawāb.
Melejitkan Dakwah dengan Tulisan
Written By Amoe Hirata on Sabtu, 20 Desember 2014 | 20.54
Sebagai
wahana untuk mencetak kader ulama yang ‘melek media tulis’, pagi ini (Sabtu, 20
Desember 2014) di UNIDA(Universitas Darussalam) Gontor, dari pukul 08.00 hingga
10.00, diadakan sebuah pelatihan bertajuk, ‘Mengenal Karakteristik Media’.
Acara ini dibawakan oleh Dr. Damanhuri Zuhri, Redaktur Umum Harian Republika.
Acara ini dihadiri oleh peserta PKU(Program Kaderisasi Ulama) Gontor serta
beberapa mahasiswa S1 dari UNIDA. Dari data yang ada, peserta yang hadir
diperkirakan mencapai lima puluhan. Tepat pukul 08.00 acara dibuka oleh Rudi
Candra yang didapuk sebagai moderator acara. Setelah pembukaan singkat dan
padat, kemudian acara diserahkan langsung kepada nara sumber.
Acara
pun dibuka dengan bahasa yang cair, sederhana,
dan bersahabat. Pria yang dulunya merupakan alumnus Pondok Pesantren Gontor
tahun 1982 ini, mampu menarik minat peserta dengan menceritakan pengalaman
hidupnya dalam dunia tulis-menulis. Beliau menceritakan awal kegemarannya dalam
bidang tersebut sudah dimulai sejak berada
di kelas tiga KMI(Kulliah Mu`allimīn)
Gontor. Rupanya, hobinya dalam bidang tersebut bukan saja membuat hasratnya
tersalurkan, tapi juga menghasilkan uang sebagai efek dari suatu keseriusan.
Tulisan pertamanya tentang teater(yang ditulis ketika masih di pondok Darus
Salam Gontor), dimuat di majalah Panji Masyarakat.
Jurnalis
senior Republika ini dalam pemaparan
selanjutnya menyampaikan pentingnya kepenulisan. Menurutnya menulis sangat urgen,
terutama kaitannya dengan dunia dakwah. “Dakwah dengan lisan –sebanyak apapun audiennya- yang mendengarkan hanya orang dalam ruangan
saja, namun dengan tulisan, dakwah bisa dinikmati oleh berjuta-juta orang”
tuturnya. Mengingat urgensi kepenulisan yang begitu tinggi, beliau mengharapkan
agar para peserta berdakwah melalui
tulisan. Apalagi sekarang adalah zaman informasi. Turut berpartisipasi dalam
dunia kepenulisan, membuat dakwah Islam semakin mudah disebarkan.
Pada
pembahasan selanjutnya, beliau menunjukkan sampel penulis sukses. Tokoh
sekaliber Hamka misalnya, meskipun secara akademis ia tidak mengenyam
pendidikan yang tinggi, namun dengan tulisan, namanya kemudian menjadi harum
dan abadi. Ustadz yusuf Mansur pun tak luput dari pembicaraan. Da`i muda ini
rupanya juga merupakan penulis produktif(ia menulis kolom Hikmah tiap hari
Senin di Republika). Pernah dalam satu kunjungan ke kantor Republika, ia
diminta untuk menulis. Dalam waktu setengah jam tulisan pun sudah rampung. Dari
kedua contoh tersebut, nara sumber ingin menunjukkan bahwa menulis itu mudah,
dan bisa mengangkat derajat seseorang.
Mengingat
waktu yang begitu terbatas, pada paparan berikutnya, pria kelahiran Betawi 1964
itu memberikan secara singkat materi kepenulisan. Materi tersebut di antaranya:
Pertama, mengenai unsur berita. Beliau menuturkan bahwa berita memiliki
beberapa unsur yaitu, aktual(terbaru), faktual(sesuai fakta), penting, dan
menarik. Tak lupa pula, ia menjelaskan tentang prinsip-prinsip dasar penulisan
yang meliputi 5W+1H(who, what, when, where, why, dan how).
Kemudian dengan bahasa yang renyah dan mudah dipahami, beliau memberikan
contoh-contoh sederhana terkait dengan tema bahasan tersebut.
Secara
garis besar, training yang diadakan dalam Hall Wisma UNIDA ini begitu mencerahkan.
Sudah saatnya para kader dakwah mulai berdakwah melalui jalur tulisan. Kalau
pada waktu dulu dengan alat sekadarnya saja, ulama sekelas Buya Hamka, mampu
mewarnai dunia dengan dakwah melalui media tulis, lalu bagaimana dengan para
da`i di zaman informasi seperti sekarang ini? Tentunya, tidak ada alasan lagi
untuk tidak berkarya. Para da`i sudah seyogyanya melanjutkan tradisi dakwah
ulama dalam bidang kepenulisan. Kita tentu ingat firman Allah: “Nūn, Demi qalam(pena) dan apa yang
ditulis(nya)”(Qs. Al-Qalam: 1). Melalui media tulisan, saatnya da`i
mewarnai dunia dengan kebaikan.
Arsitektur Peradaban
Setelah Khalid bin Walid memperoleh kemenangan
gemilang dalam pembebasan Persia, ia mendapatkan mandat lagi dari Khalifah Abu
Bakar untuk membantu sahabat Abu Ubaidah, Yazid bin Abi Sufyan, Surahbil bin
Hasanah, dan Amru bin Al-Ash yang sedang ditugasi membebaskan negeri Syam.
Sebagai catatan: empat tim yang dikirim ke Syam ternyata hanya memenangkan dua
peperangan kecil. Karena itulah Abu Bakar meminta Khalid untuk membantu mereka
di sana. Yang menjadi masalah kemudian ialah ia harus datang secepat mungkin ke
Syam, padahal jalur tercepat ialah melalui padang pasir Samawa. Kesulitan yang
dihadapi di antaranya: Pertama, tempatnya sangat berbahaya dan
membinasakan. Kedua, harus sampai tujuan kurang dari lima malam, karena
kalau lebih bisa membinasakan pasukan. Ketiga, pasukan yang dibawa
Khalid berjumlah sembilan ribu orang. Hal ini menuntut kesiapan logistik yang
matang. Tapi, kalau Khalid sukses, maka ia akan menjadi orang pertama kali yang
mampu menaklukkan gurun pasir Samawa, sekaligus menyerang Syam dari arah yang
tidak diperhitungkan sebelumnya.
Ia bermusyawarah dengan Rufai` bin
Umair Atha`i yang mempunyai pengalaman
melewatinya sewaktu masih kecil bersama ayahnya. Mulailah ia membuat
langkah-langkah strategis. Pertama, menghauskan dua puluh ekor onta,
kemudian diberi minum sebanyak-banyaknya, sebagai perbekalan selama perjalanan.
Kedua, menbawa kesiapan logistik semaksimal mungkin. Ketiga,
berdoa dan tawakkal kepada Allah ta`ala. Berangkatlah mereka atas nama
Allah. Menjelang hari kelima, ternyata perbekalan akan habis. Bila tidak
ditemukan sumber air, maka mereka akan binasa di tempat itu. Ketika itulah Rufai`
bin Umair Atha`i ingat bahwa di daerah
itu ada sumber air. Katanya, sumber itu ditandai dengan adanya pohon. Karena
matanya agak kabur, maka disuruhlah para pasukan untuk mencarinya. Pada
akhirnya, setelah mereka bermunajat pada Allah, ditemukanlah pohon tersebut,
lantas dipotong kemudian digali. Apa yang dikatakan Rufai` benar-benar
terbukti. Pada akhirnya mereka mendapatkan air dan tidak jadi tunduk pada
keganasan sahara. Khalid pun sampai tepat pada waktunya dari sebelah utara
Syam. Dengan bekal hanya sembilan ribu orang, ia bisa memenangkan lima
pertempuran berturut-turut.
Apa yang dilakukan Khalid sungguh
mencengangkan. Prestasi ini harus ditiru oleh para pemimpin yang menjadi
arsitektur peradaban. Paling tidak keistimewaan Khalid –yang patut diteladani
bagi setiap pemimpin- pada peristiwa tersebut ialah sebagai berikut:
Pertama, langkahnya yang cepat dalam mengambil keputusan. Kedua,
membuat keputusan yang tidak pernah dipikirkan oleh musuh(artinya kemampuan
imaginernya begitu luar biasa). Ketiga, perencanaan matang dan
kedisiplinan tinggi. Keempat, belajar dari pengalaman historis. Kelima,
yang terpenting dari semua itu ialah membangun hubungan intensif dengan
Allah ta`ala. Peradaban yang dibangun dengan keputusan yang cepat, unik(mengimajinasikan sesuatu dengan cara tak
biasa), perencanaan matang, berbasis pengalaman historis serta menjadikan Tuhan
sebagai tumpuan utama pada setiap gerak dan langkahnya, maka tak ayal lagi akan
melahirkan peradaban tinggi. Pencapaian Khalid di atas adalah salah satu bukti bagaimana
seharusnya pemimpin menjadi arsitektur peradaban. Dengan sangat cantik ia
membuktikan bahwa paduan antara spirit keimanan, ilmu mapan, pengalaman,
persiapan yang matang akan membawa umat Islam menuju kejayaan. Kalau ini
benar-benar dipegang, maka bukan hanya kemenangan yang akan didapatkan, tapi
juga akan sangat mampu mengarsiteki peradaban dan menjadi soko guru bagi
peradaban dunia.
Kebesaran Jiwa
Dalam doktrin ajaran syi`ah nama
Hasan bin Ali tak begitu terang benderang sebagaimana Husain bin Ali. Meskipun
keduanya sama-sama diakui sebagai bagian dari ahlu al-bait, namun yang
begitu ditonjolkan adalah Husain bin Ali yang wafat dalam tragedi karbala`. Ada
beberapa alasan yang bisa menjelaskannya secara historis. pertama, salah
satu istri Husain bin Ali berkebangsaan Persia, sehingga mereka sangat menjunjung sekali dirinya. Kedua, berbeda
dengan Hasan, Husain mau mengikuti tawaran syi`ah untuk membelot dari
pemerintahan Umawiah serta pergi ke Kufah untuk memenuhi permintaan penduduknya
yang mau mendukungnya. Yang terjadi, mereka –yang mau mendukung- pada akhirnya
tidak jadi mendukung, dan akhirnya Husain pun terbunuh di wilayah Karbala
akibat adanya provokator yang membuat suasana semakin berkecamuk. Padahal pada
waktu itu sudah ada opsi-opsi perdamaian. Takdir Allah berkata lain, lalu
terjadilah yang terjadi. Terbunuhnya Husain di Karbala, dijadikan hari besar di
kalangan syi`ah. Masalahnya kemudian ialah apakah Hasan bin Ali tak mempunyai
jasa besar sehingga tak mendapat pengagungan layaknya Husain radhiyallahu
`anhuma?
Berkaca dengan ‘cermin sejarah’
didapati fakta menarik bahwa jasa Hasan bin Ali jauh lebih besar dibanding
Husan bin Ali. Pada tahun empat puluh satu hijriah Hasan bin Ali menetapkan
keputusan fenomenal, ia rela melepas jabatan yang dimiliki secara sah demi
terciptanya perdamaian antara kaum muslimin. Padahal pada waktu itu kedua
kelompok besar ini sudah siap-siap berperang, namun karena kebesaran jiwa Hasan,
konflik besar internal kaum muslimin tidak terjadi. Apa yang dilakukan oleh
Hasan ini ternyata jauh-jauh hari sudah diprediksikan oleh Rasulullah: “Salah
satu dari cucuku ini kelak akan mendamaikan dua kelompok yang berselisih”.
Keputusan ini lebih bisa diambil oleh Hasan karena beliau memiliki sifat seperti
Rasulullah, Abu Bakar As-Shiddiq dan Utsman. Ia memiliki sifat: lemah lembut,
bijaksana, mengutamakan perdamaian, tidak frontal dan reaktif dalam menghadapi
masalah, dan mengutamakan persatuan umat. Adapun Husain –tanpa mengurangi
kemuliaannya sedikitpun- memiliki sifat: keras, reaksioner, tidak tahan dengan
yang namanya kezaliman, memilih cara-cara frontal. Dari kasus Hasan dan Husain
ini, setidaknya ada pelajaran berharga bagi para pemimpin skala peradaban.
Bahwa pemimpin besar adalah pemimpin yang berjiwa besar. Ia reala melepaskan
jabatan demi terciptanya suatu perdamaian. Sebab apalah fungsi jabatan jika
hanya menimbulkan kesengsaraan?
Langkah Nabi Menghadapi Orang Salah
“Setiap
anak Adam, pasti banyak salah. Sebaik-baik orang yang punya salah, ialah yang
banyak bertaubat”(Hr. Turmudzi). Adalah pernyataan Nabi Muhammad shallallāhu `alaihi wasallam yang
sudah jama` diketahui oleh kebanyakan orang Muslim. Namun, sangat sedikit
sekali yang mengetahui bagaimana teladan beliau dalam menghadapi orang-orang
yang berbuat salah? Tulisan ini akan mencoba memaparkan beberapa langkah Nabi dalam
menghadapi orang yang salah.
Dr.
Muhammad Munjid dalam salah satu ceramahnya menyebutkan ada beberapa langkah
Nabi dalam menghadapi orang yang berbuat salah. Pertama, menunjukkan sikap penuh kasih sayang terhadap orang yang
salah. Ketika ada orang yang berkonsultasi pada Nabi tentang kesalahannya
menggauli istri di siang hari pada bulan Ramadhan, dengan sangat lemah lembut
Rasulullah mengajaknya dialog, sampai pada akhirnya beliau menyuruhnya membayar
kafarah(tebusan), lantaran tidak bisa menebus, lalu dibantu Rasulullah.
Melihat kondisinya seperti itu, beliau tersenyum karena ternyata yang paling
pantas disedekahi adalah orang yang salah tersebut.
Kedua, meminta
secara baik-baik agar segera meninggalkan kesalahan Seperti Umar yang pernah
bersumpah atas nama ayahnya, kemudian langsung ditegur Nabi. Ketiga,
tidak memarahinya, tapi mengingatkan dengan cara sebaik-baiknya. Seperti yang
terjadi pada orang Arab badui yang kencing di masjid. Keempat, kalau pun
harus marah, beliau tidak marah untuk dirinya sendiri, tapi karena kehormatan
Allah dilanggar, sebagaimana penuturan Aisyah Ra. Kelima, mengingatkan
kesalahan dengan cara yang tidak menyakitkan, seperti menegur di depan umum.
Biasanya beliau memakai cara sindiran. Ketika Ka`ab bin Malik jelas-jelas
melakukan kesalahan lantaran tidak turut serta dalam perang Tabuk, Rasulullah
tidak memarahinya didepan umum, menanyakan sebabnya apa kemudian menjalankan
sanksi yang ditetapkan Allah padanya.
Keenam,
tidak sekadar menunjukkan kesalahan dengan cara halus, tetapi menunjukkan
aleternatif, solusi dan cara yang benar. Ketujuh, membuat orang yang
berbuat salah mengetahui kesalahannya sendiri. Ketika ada orang yang datang
pada Nabi ingin baiat dan turut serta hijrah tapi membuat orang tuanya sedih di
rumah lantaran kepergiannya, lalu beliau menyuruhnya kembali ke rumah dan
menyuruhnya membuat keduanya tertawa. Kedelapan,
adil dan obyektif dalam menghukumi kesalah orang. Kesembilan, menjauhkan
orang salah dari pertolongan setan. Kesepuluh, menunjukkan efek buruk
dari kesalahan. Sebagaimana Al-Qur`an menjelaskan dampak buruk khamer.
Beberapa
langkah tersebut adalah sebagian kecil
dari langkah Rasulullah dalam menghadapi orang yang berbuat salah. Semoga kita
sebagai umatnya bisa meneladaninya. Akhirnya, Orang yang salah itu bukan untuk
disalah-salahkan, tapi dingatkan dengan sebaik-baiknya agar tidak mengulangi
kesalahannya kembali.
Mengamputasi Virus Peradaban
Apa yang dihadapi oleh Ali bin Abi
Thalib Ra. pasca kepemimpinan Utsman bin Affan Ra. begitu rumit dan pelik. Di
satu sisi ia harus meredam potensi konflik yang setiap saat bisa meledak akibat
derasnya fitnah, ia juga dituntut menstabilkan kondisi negara yang lagi
mencekam, dan di sisi lain ia harus memberangus para musuh dan pemberontak yang
semakin hari semakin gencar dan membesar. Dalam kondisi dilematis seperti itu
ia mengalami pergolakan besar yang terangkum dalam peristiwa perang Jamal(antara
Aisyah dan Ali), perang Shifin(antara Muawiyah dan Ali yang kemudian melahirkan
peristiwa tahkīm[arbritase] yang kemudian memunculkan kelompok
Syi`ah dan Khawarij). Selama lima tahun masa kepemimpinannya, tidak sepi dari
yang namanya konflik. Uniknya dengan kondisi serumit itu, ia mampu membuktikan kapasitasnya
sebagai pemimpin.
Selama lima tahun ia berusaha dengan
sekuat tenaga untuk mencegah pemberontakan dan mengamankan negara. Salah satu
usahanya yang terhitung gemilang ialah memerangi kelompok Khawarij. Keberadaan
Khawarij sangat meresahkan umat. Sebenarnya Ali sudah berusaha dengan cara
persuasif(karena bagaimanapun juga Khawarij masih mengaku beragama Islam),
namun mereka semakin menjadi-jadi. Mereka melakukan perampokan dan membikin
kekacauan, gampang mengkafirkan orang, bahkan membunuh sahabat yang bernama Abdullah
bin Khabbab bin Art beserta isterinya yang sedang hamil bahkan mengeluarkan
janin dari perutnya. Dengan cekatan dan tegas akhirnya Ali memutuskan untuk
memerangi mereka. Langkah beliau sangat tepat dan brilian karena sebelum
mengatasi masalah eksternal, ia harus menyelesaikan masalah internal. Ibarat
virus yang menggerogoti tubuh bangunan peradaban Islam, maka khawarij harus ‘diamputasi’
agar tak menjalar ke seluruh ‘tubuh peradaban’.
Khawarij pun akhirnya bisa
diberangus. Peristiwa itu membuktikan kebenaran sabda Nabi Muhammad shallallahu
`alaihi wasallam jauh-jauh hari sebelum terjadi bahwa akan ada suatu
kelompok khawarij yang diibaratkan melesat dari agama sebagaimana melesatnya
panah dari busurnya. Mereka rajin shalat, puasa, dan membaca al-Qur`an namun
tidak dikaruniai pemahaman yang benar. Kejadian ini juga menimbulkan keluarnya
hukum terkait memerangi Khawarij, dan semakin jelas karakter mereka sehingga
bisa diantisipasi di kemudian hari. Ali begitu peka dengan masalah ‘virus
peradaban’ ini sehingga tidak sampai menggerogori tubuh umat Islam. Meskipun
pada akhirnya Ali terbunuh di tangan Abdurrahman bin Muljam, tapi setidaknya skala
prioritas Ali dalam mengatasi masalah sangat strategis, taktis, dan
mencengangkan di tengah dilematika permasalahan yang dihadapi. Demikianlah
seharusnya pemimpin, ia harus peka terhadap berbagai virus yang dapat
menghancurkan eksistensi bangsa. Dalam skala peradaban, virus-virus negatif,
betapaun kecilnya harus dibersihkan agar peradaban bisa berdiri kokoh.
"PENGORBANAN" Sebagai Sumbu Peradaban
Written By Amoe Hirata on Jumat, 19 Desember 2014 | 22.59
Salah satu keputusan fenomenal yang –baik
sengaja atau tidak- disalahpahami oleh sebagian orientalis dan musuh Islam
terkait dengan khalifah Utsman bin Affan ialah tentang istisyhād(red:
berkorban hingga syahid) di penghujung kepemimpinannya(tahun tiga puluh lima
hijriah). Pengorbanan yang dilakukan Utsman hingga nyawanya terenggut
pemberontak, dianggap sebagai bentuk kelembekan, kelemahan bahkan itu terjadi disebabkan
karena nepotisme yang dijalankannya. Padahal apa yang dilakukan Utsman bin
Affan sama sekali tidak seperti yang dituduhkan mereka. Paling tidak ada
beberapa hal yang menjelaskan masalah tersebut. Pertama, karakter Utsman
yang lemah lembut, tidak menghendaki terjadinya pertumpahan darah di antara
kaum muslimin(apa lagi pada waktu itu usianya sudah menginjak delapan puluhan
lebih). Kedua, berbeda dengan Umar(yang terkenal tegas), dalam
menyelesaikan masalah, Utsman begitu toleran dan cendrung menggunakan
pendekatan persuasif(pendekatan ini acap kali dimanfaatkan oleh
musuh-musuhnya). Ketiga, tuduhan bahwa Utsman melakukan nepotisme memang
terjadi, namun perlu digarisbawahi di sini apa yang dilakukannya bukanlah
nepotisme negatif, karena yang dia pilih berdasarkan spesifikasi keahlian yang
dimiliki. Contoh saja misalkan Mu`wiyah bin Abi Sufyan, ia tetap dijadikan
sebagai gubernur Damaskus karena pengalaman menjabat sejak masa Abu Bakar dan
Umar. Keempat, sebelum kejadian, ia bermimpi bertemu Rasulullah, dalam
mimpi itu ia diajak berbuka bersamanya. Secara tersirat ia menyadari bahwa hal
itu akan terjadi. Kelima, sejak jauh-jauh hari di waktu Rasulullah masih
hidup ia telah mendengar bahwa ia akan mati syahid.
Bila dianalisis lebih mendalam apa
yang dilakukan Utsman memiliki porsi kebenarannya. Pasalnya, pada masanya Islam
begitu tersebar luas di berbagai penjuru negeri. Sudah menjadi maklum jika
wilayah semakin luas, maka tingkat kompleksitas masalahnya juga akan bertambah
besar. Para sahabat kenamaan pun pada masanya diizinkan untuk menyebar di
seluruh pelosok negeri(berbeda dengan zaman Umar yang mempertahankan para sahabat
besar untuk dijadikan mitra musyawarah). Belum lagi luasnya negara yang
demikian besar berpusat di Madinah yang waktu itu –bila dibandingkan dengan
wilayah-wilayah lain- terbilang kecil dan tidak memiliki pertahanan dan militer
yang kuat. Sebenarnya sempat juga Muawiyah menawarkan padanya agar memindahkan
ibu kota negara ke Damaskus, karena dirasa di sana lebih aman daripada Madinah.
Ia tetap menolak dan tak kuasa meninggalkan daerah yang pernah ditinggali
Rasulullah shallahu `alaihi wassalam. Terjadilah apa yang terjadi di
tahun 45 Hijriah. Utsman terbunuh dalam kondisi puasa dan membaca ayat fasayakfīkahumullāh wa
huwa al-samī`u
al-`alīmu(Qs.
Al-Baqarah: 137). Bahkan jemari tangan dari istrinya yang bernama Na`ilah pun
terputus lantaran menangkis pedang pemberontak.
Apa yang dilakukan oleh Utsman adalah
pengorbanan yang luar biasa. Dengan keikhlasan hati, kasih sayang tinggi,
kelapangan dada, kebesaran jiwa, ia rela mengorbankan jiwanya demi persatuan
umat. Walaupun pada akhirnya penggorbanan yang dilakukan tidak serta merta
meredam fitnah yang sedang terjadi, tapi paling tidak spirit nilai yang
diajarkan oleh khalifah Utsman bin Affan begitu agung dan abadi, di antaranya: “pemimpin
besar adalah pemimpin yang berani mati untuk kepentingan rakyatnya; mampu
melampaui kepentingan pribadi; mengusahakan perdamaian secara intensif; cekatan
dalam memberi solusi dan sedapat mungkin mengatasi perpecahan internal”. Semuanya
masuk pada satu kata yaitu, ‘pengorbanan’. Karena pada dasarnya beberapa hal
seperti kuat, berani mati, tidak egois, pejuang perdamaian, pemecah solusi,
tidak akan bisa dijelmakan ketika semakan berkorban mengikis dalam jiwa
seseorang. Dengan semangat itulah sejarah mengabadikan namanya. Memang banyak
sekali yang berusaha memperburuk citranya, namun bagi siapa saja yang munshifi(adil)
dalam membaca sejarah –tentunya dengan sumber yang otoritatif- pasti akan
mengakui bahwa yang dilakukan oleh Utsman bin Affan Ra. , adalah pengorbanan
yang luar biasa yang harus dimiliki oleh setiap pemimpin. Hanya pemimpin yang
mempunyai pengorbanan tinggi yang akan mampu memimpin sebuah peradaban dan senantiasa
berkesan di hati umat ke depan. Wallahu a`lam bi al-Shawāb.
Menyibak Mutiara "Kesuksesan" dari Kerang "Kegagalan"
Written By Amoe Hirata on Kamis, 18 Desember 2014 | 09.08
Sudah hampir tiga tahun Zulfikar kuliah jurusan Ekonomi. Sampai sekarang entah kenapa tidak lulus-lulus. Ia merasa heran, usaha sudah di kerahkan, masuk kuliah rajin, tugas selalu di kerjakan. Sampai pada puncaknya, suatu saat ia terancam di-DO. Banyak orang mencaci makinya. Bodoh sekalih sih kamu, masak kuliah sudah tiga tahun masih semester satu, dasar tulalit kamu. Ia sungguh terpukul, tak ada seorang pun yang simpati padanya, dalam hati ia mau meluapkan amarahnya, tapi ia sadar memang kenyataanya dia tidak lulus-lulus juga hingga saat ini.
Terbesit dalam hatinya untuk menyudahi hidupnya. Sebab selama ini cita-citanya menjadi Ekonom terkenal tak juga tercapai. Jangankan sampai taraf Ekonom, kuliah saja tidak lulus-lulus. Pas mau bunuh diri ia teringat pesan agama bahwa bunuh diri hanya akan berakibat fatal bagi kita. Ia meng-urungkan niatnya dan mencoba menenangkan diri mencoba bangkit dan mengevaluasi diri. Kira-kira kenapa ya aku kok ga lulus-lulus? Belajar sudah, kuliah rajin, dan selalui ngerjain tugas dari dosen. Secara otak aku juga ga tergolong bodoh. Jangan-jangan barang kali aku salah jurusan.
Ternyata benar, kunci ketidaksuksesanya ialah karena ia tidak mempunyai bakat menjadi Ekonom. Ia terobsesi jadi Ekonom karena ia melihat bahwa Ekonom itu kaya-kaya dan terkenal makanya ia pingin sekali menjadi Ekonom. Di sisi lain teman dan lingkunganya sangat mendukung dirinya menjadi Ekonom. Jadilah ia bersemangat hingga memutuskan untuk masuk pada jurusan Ekonomi. Rupanya keinginan pribadi dan campur tangan orang lain itu malah membuat dia gagal.
Berhari-hari ia membuat evaluasi diri mencari bakat yang ia punya. Sampai pada kesimpulan bahwa ia berbakat menjadi penulis. Hari itu juga ia memutuskan untuk keluar dari kuliah jurusan Ekonomi dan pindah ke jurusan sastra. Ia amat bersemangat dan giat. Di luar jam kuliah ia selalu membaca buku-buku sastra, dari novel, cerpen, puisi dan lain sebagainya. Tak hanya itu, ia juga terus latihan menulis. Jerih payahnya membawa hasil. Pada akhirnya dia menjadi Penulis Besar dan terkenal. Sekarang ia menjadi kaya raya. Mutiara kesuksesanya justru diraih melalui kerang-kerang kegagalan yang menghimpit kehidupanya berupa berkali-kali gagal studi. namun ia tidak menyerah, ia membuat perombakan mendasar hingga akhirnya iadapat menguak bahwa mutiara "kesuksesan" nya ialah menjadi penulis.
Sikap:
-Jangan sampai kita salah dalam menentukan cita-cita. Jadikanlah orang lain sebagai jendela saja jangan lebih dari itu karena sebenarnya anda adalah kunci. Bila campur tangan dan keinginan diri tidak di landasi dengan pengetahuan potensi diri malah akan rentan gagal.
-Segera mencari bakat dan potensi kita karena hal ini dapat mempermudah jalan kesuksesan kita. Mengetahui potensi diri dapat membuat hidup lebih efisien dan produktif.
-Bila gagal jangan lekas putus asa karena pada hakekatnya jika anda cerdas menyikapi akan segera menyulapnya menjadi mutiara "kesuksesan".
Menjaga Keseimbangan Peradaban
Ketika
Islam sudah tersebar luas, gerakan pembebasan begitu pesat, kekayaan melimpah
ruah, khalifah Umar memutuskan untuk menghentikan gerakan pembebasan. Umar
menangis dan takut jika dunia yang begitu terbuka luas ini akan membuat umat
Islam terlena sehingga membuat mereka lebih mencintai dunia daripada agama.
Karena seperti yang diingatkan oleh Rasulullah, di antara penyakit berbahaya
yang menjangkiti sekaligus menghancurkan umat sebelum Islam ialah kecintaan
yang sangat terhadap dunia. Banyak lagi peringatan Rasulullah agar berhati-hati
terhadap dunia. Bagaimana kaum muslimin hampir terfitnah oleh dunia pasca
perang Badar Kubra, kalau saja tidak diingatkan olehnya. Demikian juga kaum
muslimin menuai kekalahan dalam perang uhud, ketika meresa terbuai dengan dunia
sehingga mengabaikan perintahnya. Demikian juga didapati dalam sepanjang
sejarah umat Islam, selama kaum muslimin tidak terpukau terhadap dunia, maka
bisa dipastikan mereka mendapatkan kemenangan gemilang.
Apa
yang dilakukan Umar sangat strategis dan penuh hikmah. Paling tidak bisa
dianalisis dengan beberapa analisis berikut: Pertama, pemberhentian
gerakan pembebesan untuk mencegah agar kaum muslimin tidak terjerumus dalam
cinta dunia. Sebab, cinta dunia adalah virus yang sangat ‘mematikan’. Kedua,
ada waktu untuk relaksasi dan mengevaluasi diri agar kaum muslimin tidak
terserang penyakit ghurur dengan kemenangan yang diraih serta menata
kembali niat secara benar. Ketiga, agar tertanam dalam diri sahabat
bahwa semangat inti dari gerakan pembebasan adalah bagaimana manusia bisa mendapatkan kebaikan Islam serta terbebas dari kukungan tirani apapun yang ada
di dunia. Keempat, meluruskan mindset berfikir. Bahwa dalam gerakan
pembebasan yang subtansial bukanlah peperangan. Perang hanyalah sebuah cara
terakhir ketika cara-cara damai tak mungkin dilakukan untuk mewujudkannya.
Sebab watak dasar Islam ialah rahmat bagi sekalian alam. Kelima, menjaga
keseimbangan peradaban. Yang terakhir ini sangat penting dan strategis karena
dalam peradaban, pemimpin tak hanya berpikir bagaimana meluaskan wilayah, ia
juga harus berfikir bagaimana menjaga, memelihara, mempertahankan negara agar
tetap stabil.
Gerakan Pembebasan
Salah
satu keputusan berani yang dilakukan Abu Bakar radhiyallahu `anhu ketika
menjadi khalifah ialah memulai harakah al-futūh(gerakan pembebasan). Gerakan ini terhitung
fenomenal karena melihat dari beberapa segi. Pertama, sepeninggal Nabi, kondisi
internal kaum muslimin masih belum stabil(seperti: gerakan pemurtadan, para
pembangkang zakat, pemberantasan Nabi palsu dan lain sebagainya). Kedua,
kekuatan kaum muslimin masih sangat lemah secara material. Ketiga, yang
dihadapi adalah raksasa besar kerajaan digdaya, Persia. Ketiga hal tersebut
jika dinalar secara logis, pasti tidak memihak pada keputusan Abu Bakar.
Sahabat yang lain pun ada yang pro dan kontra menanggapi permasalahan tersebut.
Tapi Abu Bakar tetap bersi Keras. Ia mengirim surat ke Khalid bin Walid, ketika
berada di Yamamah: “Setelah engkau memenangkan pertempuran Yamamah, ajak orang
yang bersamamu, jangan paksa siapapun, dengan berkah Allah pergilah, dan
buka(bebaskan)lah negeri Persia!”. Keputusan yang fenomenal ini ternyata
melahirkan lima belas kemenangan demi kemenangan secara berturut-turut.
Di antara yang menyebabkan Abu Bakar berani mengambil
keputusan yang fenomenal ini, bisa dianalisis sebagai berikut: Pertama, keimanan
yang sempurna. Kedua, ia menginginkan kebaikan tidak hanya menjadi
konsumsi pribadi, tapi juga dapat dirasakan oleh semua manusia. Ketiga,
keyakinan kuat bahwa agama ini akan dimenangkan. Ia ingat betul ayat yang
artinya: “Dialah yang telah mengutus Rasul-Nya dengan al-haq untuk
dimenangkan atas semua agama”(Qs. At-Taubah: 33). Ia juga mendengar hadits:
“Sesungguhnya Allah menghimpun bumi untukku, lalu aku melihat (ke arah)
timur dan barat, umatku benar-benar akan sampai pada kekuasaannya, sebagaimana yang telah Allah himpun untukku”(Hr.
Muslim). Itulah di antara beberapa hal yang bisa dianalisis dari
keputusan Abu Bakar. Buah dari keputusan ini sungguh luar biasa: Islam bisa menyebar
luas di penjuru, banyak yang berbondong-bondong masuk Islam, cahaya Islam bisa
dinikmati secara luas, dan yang pasti Islam muncul sebagai peradaban yang
disegani. Itu semua –setelah izin Allah- berasal dari keputusan ini, gerakan
pembebasan.
"Da`i Bola Bekel"
“Da`i itu seperti bola bekel ketika
dilempar mantul, bukan seperti telur ketika dilempar pecah”. Begitu kurang
lebih yang didengar oleh Mahesa Ala`uddin di salah satu forum pengajian yang
diisi oleh Ustadz Bachtiar Nasir. Ia memang tidak memperoleh penjelasan yang
detail darinya, namun pada tulisan ini akan diurai maknanya. Tentunya sesuai
dengan versi pemahaman Mahesa. “Pernyataan itu merupakan suatu nasihat yang
dahsyat untuk para da`i. Da`i itu harus kuat dan pantang menyerah. Ketika dia
gagal dalam jalur “A”, masih ada jalur “B, C, D, E, F, G, H, I, J, K,...” dan
seterusnya. Mentalnya tak gampang rapuh, hanya karena rintangan dan halangan
yang menimpanya. Tak gampang ayem laksana kerupuk yang terkena air atau
angin. Ketahanannya prima, fisik oke, intelektual joss, taktik
jitu, dan pantang putus asa. Jika terjegal, tak rapuh mental. Begitulah
seharusnya da`i, tahan di segala kondisi dan tak pernah kehilangan asa. Tak
pernah putus terhadap rahmat, tak pernah terhenti untuk taat”. Demikian
pemaknaan yang dibuat oleh Mahesa.
Apa yang dimaknai oleh Mahesa memang
benar adanya. Sebagai suatu contoh kecil saja, tentu kita pernah mendengar
sahabat Nabi yang bernama, Abdullah bi Rawāha
salah seorang pujangga sekaligus mujāhid
yang pantang menyerah di zaman Nabi. Ketika pada perang Mu`tah dia termasuk
yang diamanahi Rasulullah shalallallahu `alaihi wasallam memegang
bendera tatkala Zaid bin Haritsah dan Ja`far bin Abi Thalib gugur syahid. Dalam
perang itu terbukti. Gugurlah Zaid dan Ja`far kemudian bendera dipegang oleh
Abdullah bin Rawāhah. Dengan
semangat membara ia pantang menyerah. Ia berjuang menerobos di meadan laga,
hingga pada akhirnya tangan kanannya tertebas pedang. Apakah dia menyerah
begitu saja? Ternyata tidak. Bendera itu ia pinda di tangan kirinya. Ketika
tangan kirinya pun pada akhirnya tertebas, ia pindih semampunya di kaki sampai
pada akhirnya ia gugur syahid. Lihat betapa dia tak mau menyerah dengan
kondisi, di saat sulit seperti itu, ia semakin bangkit. Begitulah seharusnya
da`i. Kiranya kita haus dengan spirit mereka yang sangat melimpah.
Gebyar Ustadz & Da`i
Written By Amoe Hirata on Selasa, 16 Desember 2014 | 18.30
“Al-Qur`an
dan Sunnah hanya akan tetap menjadi teori jika tidak pernah dijalani”. “Zaman
sekarang banyak sekali ustadz. Tapi antara ilmu dan amal tidak melekat.
Kontennya memang membuat orang terpikat, tapi iman sama sekali tidak meningkat”.
Begitu kurang lebih pernyataan yang disampaikan oleh Yai Sangker(singkatan: sangar
dan keren) kepada Samsyudin. Pernyataan itu lahir karena dalam majlis pengajian
yang diasuhnya, ada yang menyatakan: “Al-hamdulillah ya sekarang umat Islam
Indonesia semakin religiusSemakin banyak kajian al-Qur`an dan Sunnah. Ustadz
dan da`i pun semakin melimpah. Semakin banyak orang yang ke masjid, semakin
banyak wanita berjilbab”. Semua itu baik menurut Yai Sangker. Namun bukan hanya
untuk itu al-Qur`an dan Sunnah dimaksudkan. Demikan juga da`i dan ustadz yang Cuma
jago bicara sedikit kerja; jago ceramah, diri sendiri takh berubah. Ilmu hanya
akan menjadi teori, bahkan di akhirat akan menjadi bumerang pribadi. Syamsudin,
setelah itu sanggat berhati-hati. Ia tidak mau menambah ilmu, kecuali telah
mengamalkannya.
Keharusan Menelaah Kembali Ushul Fiqh
Ushul
menurut bahasa berarti pokok atau asas bangunan. Sedangankan Fiqh menurut
istilah berarti ilmu yang berisi tentang
hukum-hukum syar`i amali(praktis) yang diambil dari dalil-dalilnya secara
terperinci. Ilmu Ushul Fiqh berarti ilmu yang berisi tentang kaidah-kaidah
kulli untuk menentukan hukum praktis syar`i yang diambil dari dalil-dalil
secara terperinci. Orang yang pertama kali dikenal sebagai pionir dalam
pengkodifikasian ilmu Ushul Fiqh adalah Imam Syafi`i melalu magnum opusnya yang
berjudul, ‘al-Risālah’.
Setelah Imam Syafi`i, perkembangan ilmu Ushul Fiqh dari tahun ke tahun semakin
pesat, hingga pada akhirnya nanti lahir dua aliran Ushul Fiqh yang terkenal
yaitu aliran ushul fiqh hanafiyah dan syafi`iyah.
Ilmu ini
sangat mulia dan agung dalam kacamata Islam. Kemuliaan ilmu ini dapat dilihat
dari alasan berikut: Pertama, materi yang dikandungnya sangat penting.
Letak pentingnya ialah kerena dengan ilmu ini mujtahid bisa menentukan hukum
dari permasalahan-permasalahan yang belum dialami sebelumnya. Kedua,
ilmu ini penting karena erat kaitannya dengan Ilmu Fiqh. Dalam al-Qur`an
sendiri ada anjuran untuk mempelajari Fiqh: “tidak sepatutnya bagi mukminin itu pergi semuanya (ke medan perang).
mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan di antara mereka beberapa orang
untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang agama”(Qs. At-Taubah: 122).
Sebagaimana
ilmu-ilmu syar`i yang lain, Ushul Fiqh memang lahir dari tangan ulama, namun
ini bukan berarti setiap yang dibuat ulama adalah bid`ah atau bahkan ditolak
kebenarannya. Terlalu banyak hal-hal yang tidak dikerjakan Nabi, tapi dilakukan
oleh orang-orang sesudahnya karena mengandung kebaikan dan tidak menyalahi
syariat. Contoh saja misalkan pengkodifikasian al-Qur`an, penyetandaran
al-Qur`an mushaf utsmani, pengadopsian khalifah Umar terhadap sistem
administrasi persia, termasuk ilmu-ilmu lain yang lahir semuanya tidak ada pada
masa Nabi. Biasanya yang mencoba menggugat Ushul Fiqh adalah orang-orang
liberal yang terpengaruh dengan paham relativisme.
Ada
yang berkata bahwa ilmu Ushul Fiqh adalah filsafatnya orang Islam. Pernyataan
ini sekilas benar namun lebih banyak ketidaktepatannya. Memang dalam ilmu Ushul
kekuatan logika digunakan dengan baik disertai dengan sarana lain berupa
pemhaman tentang bahasa dengan berbagai variabelnya, namun yang membedakannya
dengan filsafat, Ushul Fiqh dari segi orisinalitasnya berasal dari sumber hukum
islam. Sedangkan filsafat lahir dari dinamika pemikiran yang intensif yang
diwarisi dari filosof Yunani. Lagipula, Ushul Fiqh orientasi dan cara-caranya
sangat jelas, sedangkankan filsafat kebanyakan malah tidak mempunyai orientasi
jelas, kadang meskipun punya orientasi, tidak didukung dengan sarana-sarana
yang mumpuni. Karena itu, amat tidak tepat jika membandingkan antara Ushul Fiqh
dan Filsafat.
Setiap
ilmu mempunya tujuan, demikian pula Ushul Fiqh. Salah satu tujuan terpenting
dari Ushul Fiqh ialah mengolah dalil hingga menjadi sebuah hukum Fiqh. Tapi ini
tidak sembarangan. Ada beberapa perangkat ilmu yang harus dikuasai agar mampu
menggunakan ilmu ini, di antaranya bahasa Arab, al-Qur`an dan Sunnah.
Ironisnya, di zaman modern bahkan pasca-modern seperti sekarang ini, ada
beberapa pihak yang mengaku dirinya beragama Islam, bahkan dikenal sebagai
intelektual Islam, yang mulai merusak dan meragukan kemampuan Ushul Fiqh yang
diproduksi ulama. Mereka menganganggap Ushul Fiqh klasik perlu didekonstruksi.
Ulama kenamaan seperti Syafi`i misalnya diragukan otoritasnya. Berbagai
pendekatan studi yang diadopsi dari Barat dijadikan sebagai penggantinya. Ini
merupakan tantangan besar bagi ulama Ushul Fiqh. Bisakah Ushul Fiqh
dipertahankan di tengah arus studi ilmu Barat yang mengilfitrasi ilmu-ilmu
Islam termasuk ushul Fiqh. Kajian Ushul Fiqh perlu digiatkan kembali. Tugas
para ulama untuk menelaah ulang dan menyajikannya dengan sajian yang mudah
serta selaras dengan nafas Islam.
Da`i Galau
Written By Amoe Hirata on Senin, 15 Desember 2014 | 13.16
Baru saja dalam majlis ilmu yang diisi oleh Ust. Bachtiar Nasir di UNIDA Gontor terkait tema tentang, ‘Strategi dan Retorika Dakwah’, ada pernyataan menarik dari pengalaman beliau dalam dunia dakwah: “Dai yang takut menampilkan identitas kemuslimannya adalah dai galau”. Pernyataan ini terdengar sederhana tapi langsung menukik ke jantung pertahanan setiap da`i. Bagaimana mungkin da`i bisa benar-benar sukses dalam dakwahnya, jika sama identitasnya saja malu. Padahal dalam sejarah kita tentu pernah membaca betapa para sahabat dan penerusnya, merasa bangga dengan identitasnya sebagai da`i meskipun pada realitanya di antara mereka ada yang miskin.
Sebut saja misalnya Rib`i bin Abi `Amir, dengan pakaian sederhana dia tak merasa minder ketika manjadi utusan khilafah untuk menemui Rustum, Panglima Militer Persia. Ia percaya diri, ber-`izzah tinggi, merasa mulia dengan agama yang dibawa, bahkan kata-katanya yang dahsyat mampu mengguncang batin Rustum. Rustum membantin bagaimana mungkin orang Arab yang dulunya dianggap sebelah mata, dan acapkali menjadi subordinasi dari kedua imperium besar sekarang dengan sangat terhormat mampu berbicara dengan tegas, berisi dan menggetarkan hati.
Begitulah seharusnya da`i. Dakwah dipandang sebagai tugas mulia, bukan untuk mencari dunia. Di mana saja ia berada, semangat dakwah tetap membara dalam hatinya. Walau pada akhirnya dakwahnya ditolak, maka dengan bangga ia akan mengatakan: “Fasyhadu bianni muslimun(saksikanlah bahwasannya saya adalah seorang muslim)”. Ketika dakwah bukan untuk mencari dunia, maka jangan heran jika dunia yang mengejarnya. Namun jika dakwah untuk mengejar dunia, dunia belum tentu dapat, di akhirat akan menjadi orang yang sengsara.
Sedalam Ilmu Seluas Qalbu
Written By Amoe Hirata on Jumat, 12 Desember 2014 | 19.36
Malam hari ba`da Isya`, Sarikhuluk mencoba mengetes secara verbal calon peserta kajian di Pendopo Al-Ikhlas: "Bapak dan ibu, bagaimana menurut anda sekalian jika melihat orang muslim yang ga mengakui Muhammad, kadang shalat ga pakai wudhu, ga pakai ruku` dan sujud, [artinnya cuma takbir dan salam saja] kadang tahiyatnya tiga kali, ga zakat padahal hartanya sudah sampai nisab, siang hari Ramadhan ga berpuasa, ga haji padahal mampu?". Jawaban mereka sangat variatif. Ada yang membid`ahkan, ada yang mengkafirkan, ada yang menyesatkan, ada yang tak menjawab, dan ada yang bilang tidak tahu. Hanya ada satu yang menjawab lain daripada yang lain, yang kemudian membuat Sarikhuluk berdecak kagum.
Orangnya tidak terlihat meyakinkan, tapi coba baca jawabannya: "Orang muslim yang ga mengakui Muhammad tidak apa-apa asalkan hidup pada zaman sebelum Nabi Muhammad, karena pada dasarnya semua agama dari Allah adalah Islam. Shalat ga pakai wudhu tidak apa-apa asal masih suci. Shalat ga pakai ruku` dan sujud hanya takbir saja juga sangat disyariatkan dalam shalat shalat Mayyit. Tahiyyat sampai 3 kali memang harus dilakukan kalau dia jadi masbuq dirakaat terakhir shalat yang rakaatnya empat. Ga puasa di bulan Ramadhan wajib bagi wanita haidh, orang sakit parah, dan mubah bagi anak-anak. Ga zakat dan haji bagi yang mampu tidak apa-apa, asal sudah ditunaikan sebelumnya".
Orang di sekelilingnya tertegun dengan jawaban yang disampaikan orang tersebut. Mereka tidak menyangka mendapat jawaban tersebut. Akhirnya Sarikhuluk angkat bicara: "Bapak dan ibu sekalian, jawaban dari bapak Ngaiman tadi sungguh luar biasa. Ia menjawabnya dengan pendekatan ilmu syariah yang mantap. Ia tidak gampang menghukumi, mengklaim seseorang hanya sekadar melihat perbuatan lahiriah. Ia tidak terjebak dengan pertanyaan yang memojokkan. Dengan kedalaman ilmu dan ketenangan, ia mampu menjawab permasalahan dengan baik. Saya sangat berharap peserta kajian di Pendopo Al-Ikhlas ini tidak gegabah dalam menghukumi sesuatu. Hukum perlu beriring ilmu yang dalam, hati yang lapang, serta kemampuan untuk memecahkan solusi. Kalau warga di desa Jumeneng ini bersikap seperti dia, Insyaallah akan terjadi perubahan yang luar biasa, baik bagi individu, keluarga, masyarakat, dan bangsa" pungkas Sarikhuluk.
Ketulusan Hati Seorang Ibu
Written By Amoe Hirata on Jumat, 05 Desember 2014 | 19.06
Dari rahim sucimu ku memulai
Menatap dunia dengan lugu
Tak banyak yang ku tahu
Namun berkat bimbinganmu perlahan ku mulai mengerti…
Betapa repotnya kau mengasuh
Berhati ikhlas tak pernah pamrih
Walau berat kau tak pernah mengeluh
Walau sulit tak pernah sedih
Jalan titian dunia yang begitu curam
Membuat kaget tak terbayang
Namun dengan tenang kau tak tinggal diam
Menasehatiku dengan amat bijak dan sayang
Terkadang benak berpikir lancang
Untuk apa kau melakukan semuai ini
Apa karena harapan? Angan? Atau uang?
Setelah ku dalami baru ku mengerti bahwa itu hanya ketulusan hati
Menatap dunia dengan lugu
Tak banyak yang ku tahu
Namun berkat bimbinganmu perlahan ku mulai mengerti…
Betapa repotnya kau mengasuh
Berhati ikhlas tak pernah pamrih
Walau berat kau tak pernah mengeluh
Walau sulit tak pernah sedih
Jalan titian dunia yang begitu curam
Membuat kaget tak terbayang
Namun dengan tenang kau tak tinggal diam
Menasehatiku dengan amat bijak dan sayang
Terkadang benak berpikir lancang
Untuk apa kau melakukan semuai ini
Apa karena harapan? Angan? Atau uang?
Setelah ku dalami baru ku mengerti bahwa itu hanya ketulusan hati
(by Mahmud Budi Setiawan on Saturday, June 5, 2010 at 4:04pm)
Tragedi Penundaan
Written By Amoe Hirata on Minggu, 30 November 2014 | 00.23
Salah
satu ciri yang sangat inheren pada orang-orang besar ialah kesanggupan untuk
tidak menunda-nunda pekerjaan. Bagi mereka, penundaan adalah tragedi. Apa
jadinya jika Rasul menunda dakwahnya hingga semua keluarganya masuk Islam, apa
jadinya jika Abu Bakar menangguhkan Usamah bin Zaid ke negeri Syam, apa jadinya
jika Shalahudin Al-Ayyubi menunda misi sucinya membebaskan Al-Quds, apa jadinya
jika Soekarno-Hatta menunda proklamasi kemerdekaan Indonesia, apa jadinya jika
para pahlawan nasional berleha-leha menunda perjuangan untuk merebut
kemerdekaan? Satu detik waktu yang tersia, sangat berpengaruh terhadap kesuksesan
yang didamba. Karena itulah, penundaan sekecil apapun akan berdampak buruk bagi
kesuksesan.
Penundaan
berdampak buruk bukan terletak pada besar kecilnya pekerjaan, tapi pada cara
pandang yang salah terhadap pekerjaan. Pekerjaan yang semestinya harus
diselesaikan tepat waktu, kemudian diselesaikan seperti yang dimau. Inilah
mengapa dalam al-Qur`an ada ungkapan: Faidza faraghta fanshab(maka
apabila kamu telah selesai (dari suatu urusan), kerjakanlah dengan
sungguh-sungguh (urusan) yang lain). Ayat ini sangat jelas tidak memberi ruang
untuk penundaan, meskipun tidak menafikan jeda untuk istirahat. Pada ayat lain
digambarkan betapa penundaan selalu berbuah penyesalan. Sering disebutkan kata ‘ya
laitani’ sebagai gambaran penyesalan yang sangat luar biasa ketika gagal di
akhirat. Mereka menyesal karena sewaktu di dunia tidak melakukan amal dengan
sebaik-baiknya. Orang yang masuk surga saja menyesal karena tidak maksimal
beramal, apa lagi yang masuk neraka, pasti penyesalannya berkali-kali lipat. So,
penundaan adalah tragedi, bagi yang tidak mau menyesal di kemudian hari, maka
mulai detik ini segera melakukan sesuatu yang berarti.
Tanpa Sadar Berfikir Sekuler
Written By Amoe Hirata on Jumat, 28 November 2014 | 19.35
Pernahkah
anda mendengar ungkapan-ungkapan berikut: “Ini masjid, kalau mau pacaran di
luar masjid saja. Jangan mengotori
masjid dengan perbuatan maksiat”. “Ini bulan Ramadhan, jangan sekali-kali
berkata kotor”. “Ini masjid bukan pasar. Kalau mau berpolitik di luar masjid
saja”. “Kalau dana pribadi sih tidak apa-apa, ini dana umat maka dhalim kalau
sampai menyia-nyiakan dana umat”. Pernyataan-pernyataan tadi sekilas benar,
namun setelah dicermati ada kejanggalan-kejanggalan ketika dihadapkan dengan
pertanyaan-pertanyaan berikut: “Kalau pacaran memang haram, memang apa hanya
haram ketika di masjid? Perbuatan maksiat memangnya hanya dilarang ketika di
masjid”. “Emang boleh berkata kotor di luar bulan Ramadhan?”. “Emang Rasul
memisah-misahkan antara urusan masjid dan negara. Padahal menurut sejarahnya
masjid menjadi pusat kegiatan?”. “Emang kalau dana pribadi tidak dhalim kalau
disia-siakan?”. Itu hanya sekadar contoh. Karena masih banyak lagi contoh dari
pernyataan berpola fikir sekuler. Maka jangan heran jika didapati orang yang
ber-casing muslim, tapi cara pandangnya sekuler. Ini sangat halus, tapi
jarang yang bisa lolos.
Bila Tak Ikhlas Tak Bakal Jadi Daging
Di
depan terminal bus Ponorogo, saat menunggu bus jurusan Surabaya, ada seorang duduk
di sampingku. Dilihat dari gaya pakaiannya, terlihat seperti guru. Ia tiba-tiba
berbicara menyoal kenaikan tarif angkutan yang sangat melambung tinggi, padahal
BBM hanya naik dua ribu rupiah. Biasanya ongkos dari Ponorogo ke Madiun hanya
delapan ribu, sekarang naik jadi tiga belas ribu. Di sela-sela obrolan itulah
dia berkata: “Bila orang yang bayar tak ikhlas, maka tak akan jadi daging”. Apa
yang diucapkan orang ini seakan terdengar sederhana, namun ketika diresapi
secara mendalam, sangat sarat makna. Dari ucapannya tergambar suatu sikap
religius. Ia sangat peduli akan makna yang terkandung dalam agama, yaitu makna
keberkahan. Makna yang kian hari makin tercerabut dari orang-orang Indonesia.
Nilai perdagangan liberal telah menceraikan manusia dari akhlak. Keuntungan
menjadi muara tujuan. Akibatnya jelas, betapapun besar keuntungan yang didapat –karena
dihasilkan dengan cara mengeksploitasi orang lain-, maka hasil didapatkan tidak
akan berkah. “Tidak akan jadi daging” adalah gambaran nyata dari perbuatan yang
anti nilai, dan mendewakan keuntungan materi sehingga apa yang dihasilkan tidak
akan berkah dan berarti.
Menyibak Pesona MII Camplong
Para pembaca yang budiman, kita
sekalian mungkin pernah mendengar bait lagu yang dinyanyikan oleh Chrisye,
“masa-masa paling indah, masa-masa di sekolah”. Bila dicermati secara mendalam
ada benarnya juga bait lagu tersebut. Di antara masa-masa paling indah memang
pada masa di sekolah. Keindahan pada masa sekolah bisa dilihat dari proses kegiatan
akademis yang membentuk karakter keilmuan para siswa; komunikasi intensif antarsiswa
yang membangun kesadaran berkomunikasi-sosial; dan pengalaman-pengalaman tak
terlupakan sebagai proses penemuan jati diri. Beberapa hal itulah yang
menjadikan masa di sekolah adalah masa paling indah.
Jika bait lagu itu diganti menjadi
seperti ini, ‘masa-masa paling indah, masa-masa di ma`had(baca: pondok)’, maka
keindahannya bukan hanya paling indah, tapi paling paling dan paling indah.
Kenapa bisa demikian? Jawabannya –menurut hemat penulis- adalah sebagai
berikut: Pertama, berbeda dengan sistem sekolah di luar, di pondok
interaksi antar siswa(baca: santri) lebih banyak. Kalau diluar hanya enam
sampai tujuh jam, maka di pondok bisa ketemu sampai dua puluh empat jam. Hal
ini memungkinkan para santri mengenal lebih dalam, berinteraksi lebih intens, dan
berkomunikasi secara aktif untuk berbagi pengalaman, sehingga jika ada kenangan
indah, maka kenangan itu menjadi berlipat ganda dibandingkan dengan siswa di
sekolah luar.
Kedua, dari segi
pendisiplinan dan pengenalan potensi siswa, maka di pondok jauh lebih besar
peluangnya. Di sekolah luar mereka berdisiplin hanya sebatas ketika di sekolah,
adapun ketika sudah keluar dari sekolah, maka mereka sudah sangat bebas untuk memilih antara
disiplin atau tidak disiplin. Sedangkan di pondok, aturan berlaku bukan hanya
ketika masih di sekolah, tapi terus berlaku
sampai dua puluh empat jam. Ketiga, waktu untuk belajar di
sekolah luar, jauh lebih sedikit dibanding dengan di pondok. Kesempatan yang
begitu berharga ini, bila dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya, maka akan lebih
unggul yang di pondok lantaran keberlimpahan waktu yang tidak dijumpai di
sekolah luar.
Bertolak dari statemen(pernyataan) di atas, ada satu pertanyaan
besar yang mengusik hati penulis selama menjadi santri di MII( dari tahun
2002-2006): “Apa kira-kira kelebihan, keindahan, pesona dari MII?”. Waktu itu, setiap teman yang ditanya penulis,
kalau tidak menjawab, ‘bingung’ pasti menjawab, ‘tidak tahu’. Ternyata jawaban
itu masih belum juga bisa ditemukan
selama penulis berada di MII. Sampai akhirnya, ketika kuliah -melalui beberapa
perenungan-, mulai terjawablah pertanyaan tersebut dengan beberapa jawaban yang penulis kira
penting dan bisa dibagikan kepada para pembaca sekalian. Apa yang ditulis di
sini bisa jadi sangat berbeda dengan apa yang dirasakan dan dialami oleh santri
lain, tapi paling tidak tulisan ini bisa mengantarkan para pembaca untuk
menggali lebih dalam pesona MII.
KEBEBASAN
MENGEKSPLORASI POTENSI DIRI
Pendidikan yang baik adalah
pendidikan yang bisa mengarahkan anak didiknya sesuai dengan potensi yang
dimilikinya. Ini benar-benar ada dan saya alami ketika di MII. Karena tidak
diharuskan atau difokuskan kepada satu bentuk capaian-capain tertentu, maka
setiap santri bisa mengeksplorasi potensi yang ada. Bagi yang suka dalam bidang
olah raga, maka bisa mengembangkan potensinya dalam bidang olah raga. Bagi yang
suka kegiatan akademis keilmuan, maka bisa membuat tim diskusi untuk mengasah
potensi intelektualnya. Saya pikir ini adalah potensi besar yang dimiliki MII.
Santri-santri yang terlihat biasa, bahkan yang tak masuk lima besar dalam
prestasi akademis, ternyata ketika di luar bisa jauh lebih sukses sesuai dengan
potensi yang dimiliki. Tidak mengherankan, meskipun ketika di MII jurusan
ilmu-ilmu keagamaan, namun setelah keluar malah masuk jurusan yang
berbeda-beda. Uniknya, mereka bisa adaptasi dengan cepat. Jadi, kata kunci
pertama untuk menyibak pesona MII ialah lingkungannya yang memudahkan para
santri untuk mengeksplorasi potensi diri.
KEMANDIRIAN
DALAM BERKARYA
Kemandirian adalah merupakan di
antara tonggak dasar nilai yang diajarkan dalam ma`had. Di setiap pesantren,
nilai kemandirian pasti selalu dijumpai dan diajarkan. Namun, yang saya rasakan
ketika di MII, lebih dari sekadar kemandirian. Banyak sekali teman yang
walaupun tidak secara intensif dilatih oleh ustadz, namun karena kemandirian
dan ketekunannya, mereka mampu berkarya secara mandiri, bahkan kerap kali
memenangkan berbagai macam perlombaan ketika yang diadakan di luar pesantren.
Sebut saja misalkan lomba teater, baca kitab kuning, pidato, cerdas cermat, dan
lain sebagainya. Kemandirian dalam berkarya juga bisa disebut sebagai
kreativitas santri yang berbasis kemandirian.
MEMILIKI VISI
YANG SANGAT BAGUS
Yang tidak pernah terlupakan dari
MII sampai sekarang di benak penulis ialah terkait dengan visi ma`had yang
berbunyi, “Islami, tepercaya dan kompetitif”. Kata ‘islami’ menggambarkan bahwa
apa yang diajarkan di MII sangat islami. Islam menjadi shibgah(identitas)
utamanya. Kata ‘tepercaya’ membuat orang tua dan masyarakat luar akan merasa
aman dan nyaman ketika memondokkan anaknya di MII. Kepercayaan adalah modal
yang sangat berharga yang dimiliki MII. Meski tidak mempromosikan ma`had secara
besar-besaran, namun MII tidak pernah sepi dengan yang namanya santri. Kata
‘kompetitif’ menggambarkan bahwa MII
memacu santri dan lembaga untuk fastabiqul khairāt(kompetisi dalam kebaikan).
Kompetisi adalah stimulus yang memacu santri untuk mengoptimalkan segenap
potensinya menujuh arah yang lebih baik.
KEPEMIMPINAN
Di mana-mana, yang namanya pondok
–dari elemen terkecilnya- pasti tidak pernah lepas dengan yang namanya latihan
kepemimpinan. Di sadari atau tidak kepemimpinan sudah menjadi bagian yang
integral dari diri santri. Uniknya, meskipun kepemimpinan adalah bagian yang
sangat tidak terpisahkan dari santri, semua itu bersifat cair dan tidak ada
unsur eksploitatif. Semua bergerak sesuai dengan irama kepemimpinan pada skup
masing-masing. Dari pengalaman-pengalaman organisatorial kepemimpinan di MII,
rata-rata para alumni ketika keluar sudah di luar MII biasanya menempati
posisi-posisi penting dalam ranah kepemimpinan. Saya menjumpai sendiri fenomena
tersebut di luar.
KOMUNIKASI
YANG CAIR ANTARA SANTRI DAN ASATIDZ
Berbeda dari pondok-pondok
salaf(baca: tradisional) pada umumnya yang memperlakukan seorang yai dan
asatidz dengan begitu ta`dzimnya, di MII malah sebaliknya. Bukan berarti tidak
menghormati ustadz sama sekali, semua tetap menghormati ustadz, namun
komunikasi antara santri dan ustadz begitu cair, sehingga membuat santri tidak
canggung dalam menggali ilmu dari asatidz di luar waktu pelajaran formal. Fenomena
asatidz duduk sejajar dengan para santri di serambi masjid, atau bahkan
bersama-sama main sepak bola, voly dan olah raga lainnya merupakan hal yang
biasa dijumpai di MII. Waktu penulis masih di MII, penulis merasa sangat
beruntung karena di luar pelajaran formal, banyak sekali mendapat
pelajaran-pelajaran tambahan dari asatidz, baik melalui diskusi-diskusi ringan,
sampai pada kursus kecil-kecilan.
Komunikasi yang cair antara santri dan asatidz ini dampaknya sungguh
besar. Melieu(lingkungan) seperti ini memungkinkan santri berkembang
secara optimal karena didukung oleh para asatidz yang tidak membatasi
komunikasi secara struktural. Potensi-potensi santri yang sebelumnya masih
belum nampak, atau nampak tapi masih belum begitu dikembangkan, bisa dioptimalkan
dengan baik dalam suasana seperti ini.
SISTEM
PENDIDIKAN MODERN
Berbeda dari pondok salaf, sistem
yang dipakai di MII adalah sistem pondok modern. Para santri tidak melulu hanya
diajari membaca kitab kuning(baca: kitab arab gundul), tapi porsi keilmuan yang
notabene disebut ilmu Umum, juga diberikan. Sistem pendidikan yang proporsional
dan tak dikotomis seperti ini memungkinkan santri mendapatkan ilmu secara
integral. Karena pada dasarnya keduanya sama-sama penting. Tidak ada yang
namanya pemisahan ilmu, karena baik ilmu yang dianggap sebagai ilmu agama atau
dunia, jika diarahkan untuk kepentingan akhirat, maka namanya ilmu syar`i. Di
MII semua ilmu itu bisa didapat.
Itulah beberapa pesona yang dapat
disibak dari Ma`had Al itihat Al Islami Camplong Sampang Madura. Apa yang telah
penulis sebutkan ini hanya permulaan. Sangat tidak menutup kemungkinan dari
santri-santri lain banyak yang memiliki pengalaman-pengalaman yang luar biasa
ketika di MII dan bisa di-share(dibagi) di sini pada kesempatan yang
lain. Semua itu bisa ditulis sebagai upaya untuk mendukung dan mendorong agar
MII menjadi semakin baik. Penulis yakin
dan optimis, jika masing-masing di antara asatidz, santri dan para alumni
saling berpartisipasi dan mendukung MII(dengan berbagai bentuknya) maka ke
depan MII akan menjadi lebih baik. Ini tidak berlebihan karena jika dilihat
dari pesona-pesona yang ada tadi, MII sangat berpotensi melahirkan
generasi-generasi emas. Tinggal siapa yang mau menjemput momentum itu. Kalau bukan
sekarang, kapan lagi? Kalau bukan kita, siapa lagi? Hidup MII, semoga menjadi
yang terbaik di antara yang baik-baik.
Wallahu a`lam
bi al-Shawāb
Siman, Selasa
18 November 2014/05:00