Home » » Ekor Besar atau Kepala Kecil?

Ekor Besar atau Kepala Kecil?

Written By Amoe Hirata on Rabu, 26 November 2014 | 07.59

            Bagi yang mendewa-dewakan ilmuan Barat dalam segala bidangnya, ada baiknya membaca biografi secara detail bagaimana mereka menjalani kehidupan. Apakah orang seperti Emmanuel Kant, J.S Mile, Roger Bacon, Martin Luther, Emile Durkhaim, Nietzsche, Hume, F. Engle, Karl Marx, Derida, dan lain sebagainya bisa menjalani kehidupanya dengan sukses. Ternyata kehebatan mereka hanya dalam tataran berfikir, tapi secara umum mereka gagal dalam menjalankan institusi kecil rumah tangga. Tak jarang juga yang gila dan terkena penyakit-penyakit aneh. Worldvew yang dikotomis tidak memungkinkan mereka mengharmonikan antara kebutuhan jiwa dan raga. Orang yang tidak bisa mengurusi kehidupannya dengan baik, apa pantas dijadikan panutan? Mengurusi diri sendiri saja tidak bisa, bagaimana bisa mengurisi orang lain. Dalam Islam, yang disebut ulama adalah mereka yang cerdas baik intelektual maupun spiritual. Di dalamnya tidak ada istilah dikotomi. Sehingga mereka bisa mengatasi diri sebelum mengatasi orang lain. Kehidupan mereka sangat berimbang. Adapun ilmuan Barat secara umum –kalau tidak boleh dikatakan semua- hidupnya penuh bimbang. Sekarang kita mau jadi ekor ilmuan Barat, meski besar, atau menegakkan kepala sendiri meski kecil?. 
Share this article :

2 komentar:

  1. lebih baik jadi kepala teri dari pada jadi ekor Gajah walaupun besar...!bisa kan

    BalasHapus

 
Copyright © 2011. Amoe Hirata - All Rights Reserved
Maskolis' Creation Published by Mahmud Budi Setiawan