Home » » Mengucapkan Salam kepada Non-Muslim

Mengucapkan Salam kepada Non-Muslim

Written By Amoe Hirata on Senin, 24 November 2014 | 14.59


            Masalah mengucapkan salam kepada non-muslim sebenarnya sudah sangat jelas hukumnya haram. Tapi pada kenyataannya ada segolongan orang yang mengaku dirinya muslim(baca buku: Fiqih Lintas Agama) menganggap bahwa hukumnya tidak haram. Adapun hadits-hadits yang menjelaskan keharamannya, dianggap sebagai hadits yang bermasalah baik secara sanad maupun matan. Hadits-hadits yang dijadikan sasaran biasanya seperti berikut ini:
صحيح مسلم (7/ 5)
5789 – حَدَّثَنَا قُتَيْبَةُ بْنُ سَعِيدٍ حَدَّثَنَا عَبْدُ الْعَزِيزِ – يَعْنِى الدَّرَاوَرْدِىَّ – عَنْ سُهَيْلٍ عَنْ أَبِيهِ عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ –صلى الله عليه وسلم- قَالَ « لاَ تَبْدَءُوا الْيَهُودَ وَلاَ النَّصَارَى بِالسَّلاَمِ فَإِذَا لَقِيتُمْ أَحَدَهُمْ فِى طَرِيقٍ فَاضْطَرُّوهُ إِلَى أَضْيَقِهِ ».
Telah menceritakan kepada kami Qutaibah bin Sa`id, telah menceritakan kepada kamu Abdul Aziz-yaitu Al-Darawardi- bersumber dari Suhail dari bapaknya dari Abu Hurairah bahwasanya Rasulullah shallallahu `alaihi wasallam bersabda: “jangan memulai salam pada orang yahudi dan nashrani. Jika salah seorang dari kalian bertemu mereka di jalan, maka desaklah ke pinggir”(Hr. Muslim)
سنن الترمذي –طبعة بشار –ومعها حواشي (4/ 357)
12- بَابُ مَا جَاءَ فِي التَّسْلِيمِ عَلَى أَهْلِ الذِّمَّةِ
2700- حَدَّثَنَا قُتَيْبَةُ ، قَالَ : حَدَّثَنَا عَبْدُ العَزِيزِ بْنُ مُحَمَّدٍ ، عَنْ سُهَيْلِ بْنِ أَبِي صَالِحٍ ، عَنْ أَبِيهِ ، عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ ، أَنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ : لاَ تَبْدَأُوا الْيَهُودَ وَالنَّصَارَى بِالسَّلاَمِ ، وَإِذَا لَقِيتُمْ أَحَدَهُمْ فِي طَرِيقٍ فَاضْطَرُّوهُ إِلَى أَضْيَقِهِ.
هَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ صَحِيحٌ.
Telah menceritakan kepada kami Qutaibah, ia berkata: telah menceritakan kepada kami Abdul `Aziz bin Muhammad, dari Suhail bin Abi Shalih, dari bapaknya, dari Abu Hurairah, bahwasanya Rasulullah shallallahu `alaihi wassallam bersabda: “Jangan memulai salam pada orang yahudi dan nashrani. Sedangkan jika kalian menjumpai salah seorang dari antara mereka di jalan, maka paksalah mereka ke pinggir”(Hr. Tirmidzi).
صحيح البخاري (الطبعة الهندية) (ص: 3042)
6024 - حَدَّثَنَا عَبْدُ الْعَزِيزِ بْنُ عَبْدِ اللهِ حَدَّثَنَا إِبْرَاهِيمُ بْنُ سَعْدٍ عَنْ صَالِحٍ عَنِ ابْنِ شِهَابٍ عَنْ عُرْوَةَ بْنِ الزُّبَيْرِ أَنَّ عَائِشَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهَا زَوْجَ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَتْ دَخَلَ رَهْطٌ مِنَ الْيَهُودِ عَلَى رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالُوا السَّامُ عَلَيْكُمْ قَالَتْ عَائِشَةُ فَفَهِمْتُهَا فَقُلْتُ وَعَلَيْكُمُ السَّامُ وَاللَّعْنَةُ قَالَتْ فَقَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَهْلًا يَا عَائِشَةُ إِنَّ اللهَ يُحِبُّ الرِّفْقَ فِي الْأَمْرِ كُلِّهِ فَقُلْتُ يَا رَسُولَ اللهِ أَوَلَمْ تَسْمَعْ مَا قَالُوا قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَدْ قُلْتُ وَعَلَيْكُمْ
Sesungguhnya A’isyah RA istri nabi SAW berkata, “Sekelompok kaum dari Yahudi memasuki ruangan Rasulillah SAW untuk berkata ‘assaamu alaikum’. A’isyah berkata, “Saya memahami kalimat itu. Sontak saya menjawab ‘wa alaikumussaamu wallanah’,” artinya: Semoga kalian juga dilanda kematian dan laknat.Sontak Rasulillah SAW bersabda, “ (Menjawabnya) yang lembut ya A’isyah, sungguh Allah cinta kelembutan dalam perkara semuanya.” A’isyah berkata, “Saya sontak menjawab ‘ya Rasulallah, apa baginda tidak mendengar yang mereka katakan?’.  Rasulillah SAW bersabda, “Sungguh saya tadi telah mengucapkan ‘wa alaikum’ kok.”(Hr. Bukhari).

Beberapa catatan penghujat hadits:

Pertama, salam yang diucapkan oleh orang-orang Yahudi adalah salam penghinaan, yaitu “assāmu `alaikum” bukan salam perdamaian “assalamu`alaikum”. Kedua, yang memulai mengucapkan salam penghinaan adalah orang-orang Yahudi, bukan Nabi. Ketiga, sikap para tamu Yahudi kepada Nabi adalah sikap kebencian. Keempat, Nabi menegur Aisyah agar tidak bertindak kasar pada tamu Yahudi. Karena Allah mencintai keramahan dan kelembuta. Kelima, karena itu, cukup bagi Nabi untuk menjawab salam orang-orang Yahudi itu dengan “wa`alaikum”.

Hadits-hadits yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah sering dipersoalkan karena beberapa alasan. Pertama,  ia terlalu sering meriwayatkan apa yang sebenarnya tidak pasti diucapkan oleh Rasulullah s.a.w. Kedua, diduga keras ia adalah orang yang pelupa dan dia mengakui sifat pelupa ini. Ketiga,  hadits yang diriwayatkan Abu Hurairah terlalu banyak dalam waktu yang singkat. Ia meriwayatkan 5300 hadits hanya dalam waktu tiga tahun. Keempat, ia adalah orang pemalas yang tidak punya pekerjaan tetap selain mengikuti Rasulullah kemanapun pergi. Ia pernah menolak pekerjaan yang ditawarkan oleh Umar. Kelima, banyak hadits-hadit yang diriwayatkan Abu Hurairah bertentangan dengan hadits-hadits yang diriwayatkan oleh para sahabat lain yang terpercaya, seperti Aisyah.

Hadits-hadits yang diriwayatkan Abu Hurairah tersebut bertentangan dengan watak dasar Islam yang menekankan kedamaian, keramahan dan kelembutan. Riwayatnya juga bertentangan dengan riwayat lain yang menerangkan bahwa beliau mengucapkan (memulai) mengucapkan salam pada Najasyi, Raja Ethiopia, melalui suratnya.

Intinya: Secara sanad hadits di atas bermasalah karena dalam sanadnya terdapat sahabat yang bernama Abu Hurairah. Secara matan, hadit tersebut bertentangan dengan watak dasar Islam yang mengajarkan kedamaian.

Benarkah tuduhan tersebut? Berikut ini akan disajikan beberapa jawaban:

Pertama: Kita harus mengetahui terlebih dahulu makna hadits tersebut melalui syarah hadits Muslim dan Tirmidzi:
Penjelasan Imam Nawawi tentang hadits riwayat Muslim:


Menurut imam Nawawi mengenai pengharaman memulia salam pada Yahudi –meskipun ada beberapa pendapat, hukumnya menurut madzhab Syafi`i ialah haram, karena argumentasi orang yang membolehkan sangat lemah.  Sebagai penjelasan berikut:
شرح النووي على مسلم (14/ 145)
واختلف العلماء فى رد السلام على الكفار وابتدائهم به فمذهبنا تحريم ابتدائهم به ووجوب رده عليهم بأن يقول وعليكم أو عليكم فقط ودليلنا فى الابتداء قوله صلى الله عليه و سلم لاتبدأوا اليهود ولاالنصارى بالسلام وفى الرد قوله صلى الله عليه و سلم فقولوا وعليكم وبهذا الذى ذكرناه عن مذهبنا قال أكثر العلماء وعامة السلف وذهبت طائفة إلى جواز ابتدائنا لهم بالسلام روى ذلك عن بن عباس وأبي أمامة وبن أبى محيريز وهو وجه لبعض أصحابنا حكاه الماوردى لكنه قال يقول السلام عليك ولايقول عليكم بالجمع واحتج هؤلاء بعموم الأحاديث وبافشاء السلام وهى حجة باطلة لأنه عام مخصوص بحديث لاتبدأو اليهود ولاالنصارى بالسلام وقال بعض أصحابنا يكره ابتداؤهم بالسلام ولايحرم وهذا ضعيف أيضا لأن النهى للتحريم فالصواب تحريم ابتدائهم وحكى القاضي عن جماعة أنه يجوز ابتداؤهم به للضرورة والحاجة أو سبب وهو قول علقمة والنخعى وعن الأوزاعى أنه قال ان سلمت فقد سلم الصالحون وان تركت فقد ترك الصالحون وقالت طائفة من العلماء لايرد عليهم السلام ورواه بن وهب وأشهب عن مالك وقال بعض أصحابنا يجوز أن يقول فى الرد عليهم وعليكم السلام ولكن لايقول ورحمة الله حكاه الماوردى وهو ضعيف مخالف للأحاديث والله أعلم ويجوز الابتداء بالسلام على جمع فيهم مسلمون وكفار أو مسلم وكفار ويقصد المسلمين للحديث السابق أنه صلى الله عليه و سلم سلم على مجلس فيه اخلاط من المسلمين والمشركين قوله صلى الله عليه و سلم ياعائشة ان الله يحب الرفق فى الأمر كله هذا من عظيم خلقه صلى الله عليه و سلم وكمال حلمه وفيه حث على الرفق والصبر والحلم وملاطفة الناس ما لم تدع حاجة إلى المخاشنة قولها عليكم السام والذام هو بالذال المعجمة وتخفيف الميم وهو الذم ويقال بالهمزة أيضا والأشهر ترك الهمز وألفه منقلبة عن واو والذام والذيم والذم بمعنى العيب وروى الدام بالدال المهملة ومعناه الدائم وممن ذكر أنه روى بالمهملة بن الأثير ونقل القاضي الاتفاق على أنه بالمعجمة قال ولو روى بالمهملة لكان له وجه والله أعلم
Penjelasan tentang desaklah mereka (orang kafir dzimmi) ke pinggir berarti ketika ada sekumpulan orang muslim sedang berjalan kemudian ada orang kafir berjalan, maka disuruh minggir, kalau sampai membuat jalan padat dan sesak maka tidak masalah. Kalaupun disuruh mendesak kepinggir maka tidak sampai membuat mereka jatuh ke got atau dibenturkan ke tembok. Sebagaimana penjelasan berikut:

شرح النووي على مسلم (14/ 147)
قوله صلى الله عليه و سلم واذا لقيتم أحدهم فى طريق فاضطروه إلى أضيقة قال أصحابنا لايترك للذمى صدر الطريق بل يضطر إلى أضيقه اذا كان المسلمون يطرقون فان خلت الطريق عن الزحمة فلاحرج قالوا وليكن التضييق بحيث لايقع فى وهدة ولايصدمه جدار ونحوه والله أعلم

Penjelasan ustadz Mubarakfuri terhadap hadits tersebut sebagaimana imam Nawawi. hanya saja beliau menerangkan yang dimaksud dengan desaklah ialah jika ada tembok maka suruh bersandar di tembok, adapun jika tidak ada, maka mereka disuruh berpaling dari tengah jalan menuju pinggir jalan. Penjelasannya sebagaimana berikut:

تحفة الأحوذي (5/ 188)
( فاضطروه ) أي ألجئوه ( إلى أضيقه ) أي أضيق الطريق بحيث لو كان في الطريق جدار يلتصق بالجدار وإلا فيأمره ليعدل عن وسط الطريق إلى أحد طرفيه
الإصابة في تمييز الصحابة (7/ 512)

Dari penjelasan kedua pensyarah hadits tersebut, sama sekali tidak menunjukkan bahwa yang dimaksud dengan desaklah pada hadits tersebut bukanlah menyakiti. Karena kalau menyakiti, akan bertentangan dengan hadits yang berbunyi:
سنن أبى داود-ن (3/ 136)
3054 - حَدَّثَنَا سُلَيْمَانُ بْنُ دَاوُدَ الْمَهْرِىُّ أَخْبَرَنَا ابْنُ وَهْبٍ حَدَّثَنِى أَبُو صَخْرٍ الْمَدِينِىُّ أَنَّ صَفْوَانَ بْنَ سُلَيْمٍ أَخْبَرَهُ عَنْ عِدَّةٍ مِنْ أَبْنَاءِ أَصْحَابِ رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- عَنْ آبَائِهِمْ دِنْيَةً عَنْ رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ « أَلاَ مَنْ ظَلَمَ مُعَاهِدًا أَوِ انْتَقَصَهُ أَوْ كَلَّفَهُ فَوْقَ طَاقَتِهِ أَوْ أَخَذَ مِنْهُ شَيْئًا بِغَيْرِ طِيبِ نَفْسٍ فَأَنَا حَجِيجُهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ ».
Hadits ini secara tegas menunjukkan bahwa kita dilarang mendzalimi orang kafir dzimmi.

Kedua: Beberapa tuduhan mengenai Abu Hurairah bisa dijawab sebagai berikut:
Pertama,  tidak benar jika dikatakan ia terlalu sering meriwayatkan apa yang sebenarnya tidak pasti diucapkan oleh Rasulullah s.a.w. karena si penghujat tidak menunjukkan bukti. Kedua, tidak benar jika Abu Hurairah diduga keras sebagai orang yang pelupa dan dia mengakui sifat pelupa ini. Memang awalnya dia lupa tapi setelah Rasulullah mendoakannya, hafalannya jadi kuat sebagaimana hadits tersebut:
صحيح البخاري (الطبعة الهندية) (ص: 77)
119 - حَدَّثَنَا أَحْمَدُ بْنُ أَبِي بَكْرٍ أَبُو مُصْعَبٍ قَالَ حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ بْنِ دِينَارٍ عَنِ ابْنِ أَبِي ذِئْبٍ عَنْ سَعِيدٍ الْمَقْبُرِيِّ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قُلْتُ يَا رَسُولَ اللهِ إِنِّي أَسْمَعُ مِنْكَ حَدِيثًا كَثِيرًا أَنْسَاهُ قَالَ ابْسُطْ رِدَاءَكَ فَبَسَطْتُهُ قَالَ فَغَرَفَ بِيَدَيْهِ ثُمَّ قَالَ ضُمَّهُ فَضَمَمْتُهُ فَمَا نَسِيتُ شَيْئًا بَعْدَهُ
 Ketiga,  hadits yang diriwayatkan Abu Hurairah terlalu banyak dalam waktu yang singkat. Ia meriwayatkan 5300 hadits hanya dalam waktu tiga tahun. Waktu tiga tahun menghafal Cuma 5300 hadit adalah hal yang sangat mudah. Apalagi sanad yang dihafal langsung ke Rasulullah, tidak serumit sanad hadits belakangan. Kemudian Abu Hurairah juga bermulazamah dengan Rasulullah, maka sekali lagi menghafal hadits dengan jumlah tersebut tidaklah mustahil. Al-Qur`an saja yang jumlahnya enam ribu lebih ayatnya bisa dihafal selama setahun(bahkan kerang dari setahun) apaligi hadits yang Cuma 5300. Keempat, sangat tidak benar dan cendrung emosional jika dikatakan bahwa Abu Hurairah adalah orang pemalas yang tidak punya pekerjaan tetap selain mengikuti Rasulullah kemanapun pergi. Karena beliau memang potensinya dalam bidang tersebut. Ada banyak sahabat yang seperti Abu Hurairah yang disebut Ahli Shuffah, yang kebiasaannya adalah mengikuti pengajian yang diadakan Nabi. Adapun tuduhan yang menyatakan bahwa ia pernah menolak pekerjaan yang ditawarkan oleh Umar, barangkali bersandarkan hadits yang disebut oleh Ibnu Hajar dalam kitab al-Ishōbah yang berbunyi demikian:
الإصابة في تمييز الصحابة (7/ 512)
 عن محمد بن سيرين عن أبي هريرة أن عمر بن الخطاب دعاه ليستعمله فأبى أن يعمل له فقال أتكره العمل وقد طلبه من كان خيرا منك قال من قال يوسف بن يعقوب عليهما السلام فقال أبو هريرة يوسف نبي بن نبي وأنا أبو هريرة بن أميمة أخشى ثلاثا واثنين فقال عمر ألا قلت خمسا قال أخشى أن أقول بغير علم أو أقضى بغير حق وأن يضرب ظهري ويشتم عرضي وينزع مالي قلت سنده ضعيف جدا
Hadits ini jelas-jelas dikomentari oleh Imam Ibnu Hajar sebagai hadits yang sangat lemah. Kemudian yang kelima, dikatakan bahwa hadits-hadit yang diriwayatkan Abu Hurairah bertentangan dengan hadits-hadits yang diriwayatkan oleh para sahabat lain yang terpercaya, seperti Aisyah. Tuduhan ini tidak berdasar, karena kebanyakan hadits yang diriwayatkan Abu Hurairah itu disalah pahami oleh penghujat.

Dari beberapa jawaban di atas jelaslah bahwa alasan yang dipakai oleh penghujat hadits ini sangat lemah. Kelemahan yang paling nampak dari penghujat ialah ketika memahami hadits selalu berangkat dari pemahaman yang sudah ada. Hadits hanya sebagai justifikasi dari pendapat yang diyakini, tanpa mengindahkan dan memperhatikan hadits-hadits lain. Kemudian, ketika mengutip hadits biasanya hanya dimaknai sepotong-sepotong sesuai dengan keinginannya.

Kesimpulan: Hadits tersebut shahih baik secara sanad maupun matan. Beberapa tuduhan yang disematkan pada Abu Hurairah sangat lemah dan tak berdasar kuat. Hukum memulai(mengucapkan) salam adalah haram. Adapun yang dimaksud dengan mendesak orang kafir ke pinggir jalan bukan berarti mencelakai, dan hanya pada kondisi tertentu. Mempertentangkan potongan hadits tersebut dengan watak Islam yang menekankan kedamaian adalah kesembronoan.

Wallahu a`lam bi al-shawāb
Share this article :

0 komentar:

Speak up your mind

Tell us what you're thinking... !

 
Copyright © 2011. Amoe Hirata - All Rights Reserved
Maskolis' Creation Published by Mahmud Budi Setiawan