Home » » Cinta Shalih Menjadi Salah Pilih

Cinta Shalih Menjadi Salah Pilih

Written By Amoe Hirata on Sabtu, 17 Januari 2015 | 08.30

            Di  malam yang sunyi, beriring terang cahaya purnama, Salma Hourin `Ien melamun di kamar sendiri, disertai teman santriwati yang sudah tidur pulas berkelana di alam mimpi. Jiwa dan raganya seolah tak meyakini, terhadap apa yang baru saja Ia alami. Raut wajah begitu sumringah, jiwanya begitu senang membuncah. Rasa suka dan senang menyelimuti hati yang lagi riang. Amboi, rupanya Ia sedang jatuh cinta. Dara yang belum pernah merasakan cinta, baru saja hatinya ditaut -ditembak- oleh teman seangkatannya sendiri sesama santri, namanya Shalih Azka Rijâl. Siapa yang menyangka kalau bakal menjadi seperti ini. Lamunannya menjelajah kemana-mana. Kepalanya dipenuhi tanda tanya. Baru saja, Shalih mengucapkan sesuatu di hadapannya: “Bolehkah aku berharap lebih padamu?”. Antara kaget, tercengang, dan gugup Salma pun mengiyakan permintaan Shalih. Jadilah kedua insan yang lagi dirundung asmara ini sebagai ‘sepasang kekasih’, meskipun kalau ditelisik lebih dalam sebenarnya dalam dunia kesantrian yang notabene memegang nila-nilai islami tidak ada istilah kekasih-kekasihan atau pacaran yang bukan mahram, tetapi keduanya seakan larut oleh cinta yang sama-sama sedang dirasakan.
Salma pun tak kuat untuk menyimpan kebahagiaan yang sedang Ia rasakan. Ia pun bercerita panjang-lebar kepada teman sesama santriwatinya yang sedang ada di rumahnya, namanya Syafa Zaskia. “Syafa...Syafa...bangun dong aku mau curhat(curah hati) nih”. “Ada apa Salma? Kamu kok senyam-senyum gitu? Lagi ulang tahun ya?” tanya Syafa keheranan. Akhirnya, diceritakanlah semua apa yang sedang terjadi. Ketika mendengar cerita Salma, Syafa pun juga merasa kaget sekaligus senang, rupanya temannya sedang jatuh cinta. Tapi tetap saja Syafa mengingatkan agar jangan sampai melampaui batas kewajaran, kalau memang serius ya harus benar-benar dijaga nilai-nilai agama, sebab bagaimanapun juga keduanya adalah pernah menjadi santri. Santri yang baik adalah santri yang benar-benar menjaga kesantrian bukan saja ketika menjadi santri, tapi juga ketika sudah berada di luar harus tetap menjaga nilai-nilai yang diajarkan selama ini. “Wow, surprise banget ya Salma, aku ga nyangka lho kalau Shalih berani menembak kamu langsung. Di rumah kamu sendiri lagi. Wuih hebat. Aku salut dengan keberanian Shalih, hehehe. Menurutku sih kamu sudah tepat menerimanya. Ia orangnya baik, cerdas, pintar dan insyaallah calon imam yang shalih seperti namanya” komentar Syafa. “Ah kamu Syafa, bisa aja kamu menghibur aku, pokoknya tak aminin deh semoga Ia akan menjadi imam shalihku, âmîn ya Rabb” sahut Salma dengan mantap.
Syafa wajar kalau kaget mendengar penuturan Salma mengenai Shalih. Pasalnya, Shalih, Aditiya, dan Syafa pergi ke Jakarta sebenarnya untuk mengikuti tes ujian kelulusan ke Universitas Islam Madinah. Nah sesudah tes, ketiganya ditawarin main kerumah Salma yang kebetulan rumahnya dekat dengan lokasi tes. Ketiganya pun mau menginap di rumah Salma. Nah ketika di rumah Salma itu lah, Shalih mengungkapkan perasaannya di depan Salma, tanpa sepengetahuan orang tuanya. Teman cowok Shalih pun kaget ketika mendengar bahwa Shalih ‘menembak’ Salma, sebab selama ini yang Aditiya tahu berkaitan dengan temannya ini, biasanya sukanya diskusi dan sangat minim membicarakan cewek, rupanya selama ini benih-benih kekaguman Shalih terhadap Salma, sudah tumbuh berkembang semenjak menjadi santri di ma`had Al-Barakah. Sebagai teman, Aditiya pun tetap memberi support atau dukungan kepada Shalih. “Insyaallah kamu tak salah pilih Leh, Salma adalah anak yang baik, dewasa dan pintar. Semoga Ia menjadi istri terbaikmu” komentar Aditiya kepada Shalih ketika Ia tahu tentang hubungan yang baru saja terjalin.
Beberapa bulan kemudian, hubungan tetap terjalin mulus. Bahkan, kedua orang tua dari Shalih dan Salma pun sudah sama-sama tahu mengenai hubungan kedua anak mereka. Hanya saja karena Shalih masih mau melanjutkan studinya ke Universitas Islam Madinah, maka untuk sementara keduabelahpihak tidak merasa perlu untuk lebih serius membicarakan pernikahan. Keduanya bermodalkan rasa saling percaya saja. Akhirnya keduanya sama-sama kuliah. Menjalin hubungan cinta jarak jauh atau istilah gaulnya love distance. Hari berganti hari, minggu berganti minggu, tahun berganti tahun, keduanya masih tetap menjalin komunikasi yang baik melalui chatting via Yahoo Massenger, facebook, atau telefon. Setelah lima tahun kemudian, akhirnya Shalih pulang ke Indonesia. Ia berusaha melanjutkan progam S-2nya. Di sisi lain, Ia juga berusaha untuk segera menemui keluarga Salma, untuk segera membicarakan secara serius mengenai pernikahan keduanya.
Karena ada beberapa kendala yang dihadapi oleh Shalih berkaitan dengan pertemuan antara kedua keluarga, sampai pada akhirnya Shalih mengajak ketemuan di daerah yang lebih dekat dengan rumahnya atau di rumah yang dekat dengan saudaranya tapi juga tak terlalu jauh dari rumah Salma. Hal ini dilakukan Shalih mengingat kedua orang tuanya yang sudah tua, sehingga Ia merasa kasihan kalau harus menempuh perjalanan jauh, dari Jawa Timur ke Jawa Barat(keluarga Shalih ingin tahu langsung tentang Salma). Namun sangat disayangkan, keputusan pun buntu. Keduanya sama-sama bersikeras pada keinginan dan caranya masing-masing. Salma beserta keluarga menolak kalau pihak perempuan yang harus datang ke laki-laki. Mestinya, menurut mereka: cowoklah yang harus datang ke pihak cewek. Karena tidak ada upaya untuk saling mengalah maka hubungan antara keduanya kandas di tengah jalan. Si Shalih terlihat seolah tak begitu memperjuangkan cinta, karena pertimbangan keluarga, Si Salma pun merasa sudah tidak bisa diteruskan karena merasa dipermainkan. Dengan sangat berat hubungan yang terjalin antara keduanya bertahun-tahun akhirnya sirna.
Mimpi-mimpi yang selama ini dibangun Salma di hati dan pikirannya sudah buyar. Ia sedih, kecewa, mangkel, marah, kesal dan jengkel. Betapa tidak, demi cinta, Ia rela bertahun-tahun untuk menunggu calon Imamnya, bahkan dia berusaha diam dan tak menerima laki-laki lain hanya untuk menunggu Shalih, tapi rupanya Si Shalih tak mau memperjuangkan cinta - hanya karena masalah yang seharusnya bisa diselesaikan tanpa harus memutuskan hubungan - lenyaplah impian Salma. Ternyata –baginya-, calon suami yang Ia anggap Shalih selama ini, ternyata salah pilih. Pada buku diary-nya ia menulis sesuatu:
Kukira daun yang hijau
Membuat kalbu
Selalu sejuk memandang
Ternyata kering melayu
Membuatku
Sedih tak terbayang

Kukira cinta Shalih
Mengantarku
Pada cinta sejati
Ternyata aku salah pilih
Membuatku
Terjerembab pada cinta ilusi
Berhari-hari Ia menangis sejadi-jadinya. Ia merenung, mengevaluasi, melihat kembali ke belakang mengenai hubungan yang selama ini dijalin bersama Shalih. Akhirnya dalam perenungannya yang panjang, Ia menemukan beberapa pelajaran yang berharga di dalam hidupnya. Di antara pelajaran-pelajaran itu ialah sebagai berikut:

  1. Cinta yang dibangun berdasarkan maksiat, hasilnya akan membuat cinta tersesat.
  2. Cinta itu bukan banyak janji, tapi segera komitmen menjadi suami-istri.
  3. Kalau benar cinta, jangan menunggu lama, semakin lama menunggu, maka akan semakin berliku.
  4. Cinta bukan untuk diumbar dengan kata-kata, tapi perlu dibuktikan dengan komitmen pada orang tua.
  5. Jangan gampang percaya dengan penampilan dan kelebihan, tanpa komitmen yang jelas maka keduanya hanyalah bualan.
  6. Bagi para cewek, perhatikan benar-benar sajak berikut ini:

Kalau aku diam
Bukan berarti
Cinta ini padam
Aku hanya berbagi
Ketika kau halal jadi imam
Itulah cinta sejati

Jadi jangan gampang terbujuk oleh rayuan cowok. Kalau pun si cowok serius, jangan gampang mengumbar sesuatu yang belum halal padanya, tunggulah sampai halal, dan nanti itu akan menjadi lebih indah insyallah.
  1. Kalau kamu jatuh pada cinta yang salah, bersyukurlah pada Allah subhânahu wata`âla yang telah menyelamatkanmu dari cinta yang salah, yakinlah bahwa Allah akan membibingmu pada cinta yang sejati yang tak kan membuatmu susah.
  2. Untuk para cowok, kalau memang cinta dan gentleman jangan pernah menyuruh cewek datang ke cowok, seharusnya cowoklah yang datang ke cewek.
  3. Jangan sampai larut dalam kesedihan, apalagi sedih hanya karena cinta yang salah pilih, cepatlah bangkit karena Allah subhânahu wata`âla menyiapkan jodoh yang lebih baik untuk kita.
  4. Untuk menuju ‘cinta sejati’, terkadang Allah menguji kita dengan ‘cinta imitasi’, kalau kita tidak terpengaruh dengan ‘cinta imitasi’, maka Allah akan menganugerahkan pada kita ‘cinta sejati’.
Itulah beberapa pelajaran yang sempat ditulis oleh Salma. Sekarang Ia merasa lebih tenang, bahkan bersyukur karena tidak jadi dengan Shalih. Sewaktu Ia mendengar kalau Shalih sudah menikah dengan perempuan lain, Ia membatin: “Semoga perempuan itu tidak salah pilih”. Baginya, cinta Shalih adalah masa lalu, Ia yakin ada yang lebih baik darinya. Apa yang dialaminya memberi banyak pelajaran berharga yang Ia rangkum pada kalimat berikut:
KETIKA ‘CINTA SHALIH’ MENJADI ‘CINTA SALAH PILIH’, MAKA JANGAN BERSEDIH!, JIKA KITA MAU BERUPAYA DAN BERDOA DENGAN GIGIH, PASTI ALLAH SWT AKAN MEMBIMBING CINTA KITA KEPADA CINTA SEJATI DAN JERNIH.
Share this article :

0 komentar:

Speak up your mind

Tell us what you're thinking... !

 
Copyright © 2011. Amoe Hirata - All Rights Reserved
Maskolis' Creation Published by Mahmud Budi Setiawan