Home » » Politisasi Agama

Politisasi Agama

Written By Amoe Hirata on Jumat, 16 Januari 2015 | 09.00

            Sebagai harapan sosial keagamaan, maraknya aktivis Islam yang memperjuangkan spirit Islam sebagai sistem kehidupan merupakan realita yang patut didukung dan disyukuri.  Ketika pergerakan organisasi keagamaan semakin dinamis dan menyebarluas ini berarti nilai keberagamaan individu sudah mulai hidup; ini berarti nilai keberagamaan sudah bergerak lebih jauh dari sekadar formalitas. Namun yang menjadi masalah kemudian ialah ketika salah mempersepsikan dan memposisikan subtansi dari agama. Agama sebagai entitas nilai, memiliki berbagai macam aspek. Merupakan kecerobohan besar jika ada gerakan keagamaan yang salah dalam mempersepsikan spirit inti dari lahirnya agama. Contoh konkrit ialah gerakan-gerakan yang mengatas namakan agama dengan semangat perjuangan tinggi untuk memperjuangkan agama melalui jalur politik.
           Sebenarnya politik memang bagian daripada agama, namun ketika politik dijadikan sebagai tujuan sentral dari lahirnya agama, maka pada gilirannya akan merusak esensi agama. Sesuatu yang semestinya didahulukan seperti dakwah islamiyah, malah terabaikan dengan perjuangan yang fokusnya harus politik. Apa jadinya jika politik dijadikan tema sentral sebagai maksud diturunkannya agama? Pada realitanya perjuangan agama atas nama politik dan kekuasaan di sepenjang sejarah kehidupan umat Islam akan selalu mengalami kegagalan karena, agama sudah dipengaruhi oleh kepentingan kelompok dan golongan. Agama meskipun tanpa piranti politik dan kekuasaan pada realitanya masih bisa eksis berkat kontinuitas dakwah yang selalu diupayakan dan dijalankan. Di sisi lain penjuangan agama melalui fokus politik terkadang atau bahkan kebanyakan –kalau tidak boleh dibilang semua- memperburuk citra Islam di mata orang non Islam, sehingga malah menghalangi dakwah Islam masuk ke dalam hati mereka.
            Pada kesampatan yang lain ada juga gerkan yang fokusnya hanya dalam jihad perang. Meraka mempersepsikan kata kunci agama adalah jihad perang. Agama tidak akan bisa berkembang tanpa adanya jihad dalam pengertian perang. Pada titik dan porsi tertentu jihad memang sangat diperlukan dan wajib dilaksanakan. Namun menjadikan jihad sebagai unsur utama dalam agama kemudian mengabaikan unsur yang lebih penting berupa dakwah sebagaimana tugas para Nabi, maka jihad hanya akan menjadi malapetaka bagi agama dan pemeluknya. Yang menonjol dan nampak dominan dari wajah agama hanyalah kekerasan dan otoritarian.
         Konsekuensinya wajah agama yang sebelumnya sangat padhang bersinar, menjadi redup lantaran salah memperioritaskan unsur penting agama. Kebanyakan gerakan Islam ribut dan sibuk dalam hal teknis penyebaran agama, sedangkan hal inti hampir tak tersentuh. Maka jangan heran ketika reaksi dari komunikan dakwah begitu sangat bertolak belakang dengan yang diinginkan, karena salah dalam menggambarkan wajah Islam. Realitas demikian bisa dikonversikan dengan berbagaimacam gerakan yang salah dalam mempersepsikan Islam. Yang inti menjadi sampingan, yang sampingan menjadi inti. Dengan bahasa lain: yang subtansial menjadi sekadar instrumentak, sedangkan yang instrumental menjadi subtansial. Akibat dari kesalahkaprahan tafsir ini berdampak negatif bagi agama dan pemeluknya. Tapi untungnya agama Islam ini dilindungi oleh Allah ta`ala sehingga usaha apapun untuk menghancurkan agama Islam akan menuai kegagalan.
Buku ini ditulis oleh  Wahidudin Khan. Beliau lahir di India pada tanggal 10 Oktober 1925. Ia merupakan Pemikir Muslim India kontemporer. Beliau memiliki pemikiran brilian yang berusaha mengharmonikan sistem salafi dengan sistem ilmiah dan filosofis. Dengan metode ini, ia berusaha berdialog dengan orang-orang atheis dan skular pada sejumlah besar dari karangannya. Karangannya memiliki keistimewaan sebagai berikut: menggabungkan antara kesederhanaan dan kedalaman sehingga (senantiasa) relevan dengan berbagai macam pembaca. Ia sangat terkesan dengan pemikiran Abu A`la Al-Al-Maududi dan Abu Hasan An-Nadawi. Beliau memiliki karangan[1] yang banyak diantaranya yang berbahasa Inggris: Religion and Science. God Arises: Evidence of God in Nature & Science. In Search of God. Islam and Modern Challenges. The Way to Find God. The Quran, an abiding wonder. The Moral Vision : Islamic Ethics for Success in Life. Women Between Islam and Western Society. A Treasury Of The Qur'an. The Prophet Muhammad : A Simple Guide to His Life. ISLAM: THE VOICE OF HUMAN NATURE. Islam and the Modern Man. ISLAM: CREATOR OF THE MODERN AGE. Islam As It Is. A Treasury Of The Qur'an. Ada juga yang diterjemahkan ke dalam bahasa Arab diantaranya: al-Islam Yatahadda. Ad-Din Fi Muwaajahati al-`Ilmi. Hikmah ad-Din. Tajdid `Ulumu ad-Din. Al-Muslimun baina al-Maadhi wa al-Hadhir wa al-Mustaqbal. Khawathir wa al-`Ibar. dan buku yang sedang diresensi saat ini: Tarikhu ad-Dakwah Ila al-Islam.
Buku ini merupak ringkasan dari buku yang berjudul: al-Tafsiru al-Khathi` karya Wahidudin Khan. Buku ini lahir sebagai kritikan terhadap karya-karya ‘guru’nya yaitu Abu al-A`la al-Al-Maududi. Dalam berbagai bukunya Al-Maududi menyerukan bahwa sistem khilafah adalah sistem final dan ideal yang harus ditegakkan kalau umat Islam ingin mendapat kejayaannya kembali seperti masa silam. Ide inti dari Al-Maududi dijelaskan oleh beliau ialah, ‘menghidupkan sistem khilafah yang bercirikan: menjawab pengkritik dengan jawaban yang memuaskan, mendorongnya untuk kritis, memuji dan memuliakannya serta melenyapkan sistem kerajaan yang bercirikan: memberangus pengkritik, membungkamnya dengan ejekan dan ancaman, dan jika tidak berhenti maka dihentikan dengan cambuk atau penjara.
Wahidudin Khan dahulunya merupakan anggota dari Jama`ah Islamiyah yang dipimpin oleh Abu A`la Al-Al-Maududi. Namun perjalanan kemudian ketika Wahidudin Khan mencoba mengkritisi ide inti Al-Al-Maududi lambat laun terjadi kesenjangan yang luar biasa sehingga pada akhirnya Wahidudin Khan keluar dari Jama`ah Islamiyah. Al-Maududi dan pendukung nalar dan tradisi kritis, namun ketika hal itu benar-benar diterapkan nyatanya Ia dan pendukungnya tersinggung. Seolah-olah khusus Jama`ah Islam pasti benar dan anti kriti, adapun kritikan layak ditujukan pada selain Jama`ah Islamiyah. Bahkan ketika kritikan itu berlangsung melalui surat-menyurat selama dua tahun Wahidudin Khan bukan mendapat penghormatan lantaran kritis, tapi malah mendapat jawaban pedas sebagaimana berikut: “Kajian studimu sangat kurang sekali, ini merupakan merupakan bencana di atas bencana, sesungguhnya kamu berbicara dari tempat yang tinggi, sungguh aku tidak akan menanggapi orang yang mempunyai padndangan seperti ini, padahal ilmunya sedikit”.
“Sebagaimana Karl Marxs menafsirkan realitas kehidupan dengan dominasi tafsir materi sebagai fokus tafsir, demikian pula ustad Abu A`la al-Al-Maududi menafsirkan agama dengan dominasi politik, sebagai fokus tafsirnya”. Demikian Wahidudin Khan memulai tulisannya. Dari sini pula asal mula penulisan judul buku di atas. Bahwa unsur politik terlalu dominan untuk menafsirkan agama Islam. Ia melanjutkan bahwa untuk mempersepsi kehidupan yang terdiri dari berbagaimacam aspek, maka biasanya dilakukan dengan tiga pendekatan: Pertama: Pendekatan Qonuni(hukum) pendekatan ini memberikan gambaran bagian-bagian yang menonjol secara tepat dan tak berlebihan, masing-masing digambarkan sebagaimana adanya.
  Kedua: Pendekatan khithabi(retoris) pendekatan ini memberikan gambaran yang khusus pada satu aspek sekaligus melebih-lebihkannya di banding aspek yang lain. Ketiga: Pendekatan Tafsiri(interpretatif) pendekatan ini memberikan gambaran kesatuan aspek dengan mengambil satu aspek sebagai landasan dari berbagai aspek yang dianggap memiliki hubungan dan kesatuan. Nah, ketika berbicara mengenai agama yang memiliki berbagai macam aspek, Ustat Al-Maududi menggunakan pendekatan ketiga yaitu metode tafsiri(interpretatif). Jadi Al-Maududi menempatkan politik sebagai aspek utama yang melatari risalah Islam. Pada intinya tanpa politik agama hanya akan menjadi kosong dan tak dapat dipahami, seakan-akan (ketika politik tak ada) maka sama saja seperti membuang seperempat agama –menurut ungkapannya-.
            Yang menjadi masalah menurut penulis ketika membaca karya-karya Abu A`la Al-Al-Maududi bukanlah pada aspek politik dan perjuangannya pada ranah politik. Yang dijadikan masalah ialah bahwa Al-Maududi dalam kebanyakan karyanya memposisikan politik sebagai unsur utama dari agama. Sehingga unsur-unsur lain dari agama yang lebih penting dan inti menjadi terkesampingkan dan kurang mendapat perhatian yang proporsional. Ini sangat mirip dengan apa yang dilakukan oleh Karl Marxs yang mencopa menginterpretasikan kehidupan manusia pada aspek materi saja sehingga lahir paham Materialisme. Sungguh pun materi itu sangat penting, tetapi menjadikannya sebagai fokus utama sehingga melupakan unsur rohani manusia, hanya akan merusak manusia.Sejarah membuktikan bahwa pemahaman materialisme adalah pemahaman yang salah, dan ketika benar-benar dipraktikkan dalam kehidupan nyata, hanya menjadi bencana bagi kehidupan manusia. Bahkan dipolitisir dan dieksploitir oleh golongan tertentu. Kesalahan mendasar Al-Maududi ialah pada ranah filosofis pemikiran. Ini  jauh lebih bebahaya dibanding dengan kesalahan orang yang menambah dan mengurangi agama.
            Diantara karya Al-Maududi yang sarat akan nuansa politis dalam menafsirkan subtansi agama ialah: Dustur al-Jama`ah al-Islamiyah, al-Musslimun wa al-Sharaa` al-Siyaasi al-Raahin, Tajdidu al-Din wa Ihyaauhu, al-Tafhiimaat, al-Khuthab, al-Nadhratu al-Tahliliyah fi al-Ibaadah al-Islaamiyah, al-Ususu al-Khuluqiyah li al-harakah al-Islamiyah-Ihsaan, Syahaadatu al-Hak, Lailatu al-Mi`raaj dan lain sebagainya yang secara umum muatan politik sangan kental dalam menafsirkan agama. Dalam karya-karya Al-Maududi ini dinyatakan bahwa politik merupakan perkara inti dari agama, semua aspek agama berada dalam bingkai politik. Tujuannya jelas pada akhirnya ialah mengkudeta pemimpin yang dzalim, durhaka serta mendirikan khilafah dan memilih pemimpin yang adil. Karena pada intinya kesejahteraan kehidupan manusia terletak pada siapa yang menguasai, jika  penguasa baik maka akan tercipta kesejahteraan manusia secara otomatis.
      Pada pembahasan lain maksud inti agama menurut Al-Maududi ialah: menegakkan kepemimpinan (imaamah) yang baik dan menegakkan sistem yang hak di muka bumi. Pada kesempatan lain Al-Maududi meinterpretasikan agama yang hak ialah ketaatan absolut terhadap kekuatan Allah dalam arti kekuasaan-Nya. Ia juga menyatakan bahwa tugas Nabi Muhammad ketika diutus ialah mendirikan pemerintahan Islam. Adapun ibadah dalam pengertian politik yang dipahami oleh Al-Maududi dimaksudkan sebagai pembersih jiwa dan sebagai persiapan pendidikan umat untuk tugas yang mulia yaitu memberangus dan menumpas hegomoni kekuasaan para penguasa tiran dan otoriter di muka bumi. Intinya politik sebagai subtansi dalam menafsirkan agama.
            Pada buku karangan Wahidudin Khan ini juga dipaparkan dalil-dalil yang dijadikan pijakan oleh Al-Maududi baik Al-Qur`an(diantaranya As-Syura: 13, Al-Maududi menafsirkan agama sebagai penegakan hukum-hukum Allah) maupun As-Sunnah(diantarannya hadits yang mengisahkan sifat Nabi Muhammad dalam Taurat:

   
وَلَنْ يَقْبِضَهُ اللهُ حَتَّى يُقِيمَ بِهِ الْمِلَّةَ الْعَوْجَاءَ بِأَنْ يَقُولُوا لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَيَفْتَحُ بِهَا أَعْيُنًا عُمْيًا وَآذَانًا صُمًّا وَقُلُوبًا غُلْفً

yang artinya  Allah tak akan mematikannya hingga Beliau meluruskan agama-agama yg bengkok agar hanya mengucapkan Laa ilaaha illallah yg dengannya akan membuka mata yg buta, telinga yg tuli & hati yg tertutup. Dengan hadits ini beliau berkesimpulan bahwa tugas Nabi ialah menegakkan din(hukum) sebagaimana yg telah dijelaskan jauh sebelum kedatangannya dalam kitab Taurat) yang kemudian dikritisi sedemikian rupa oleh Wahidudin Khan, yang pada akhirnya disimpulkan bahwa dalil yang dijadikan hujjah oleh Al-Maududi sama sekali tidak tepat ketika politik dijadikan alasan sebagai tafsir inti agama.
            Di akhir pembahasan penulis menyatakan dengan tegas bahwa tujuan penulisan buku ini bukanlah menunjukkan aib atau kesalahan seseorang tapi sebagai nasihat. Kesalahan yang fatal ialah penyimpangan makana agama (memfokuskan agama pada politik). Penulis juga sempat memberikan dua usulan pada Al-Maududi dan Jama`ah Islamiyah agar menarik pernyataan bahwa yang inti dari agama ialah masalah politik dan agar pengikut Jamaah Islamiyah tidak menjadikan buku-buku Al-Maududi sebagai tafsiran mutlak atas agama(namun kedua usulan ini samasekali ditolak mereka). Meski berbeda pendapat dengan Al-Maududi, penulis secara obyektif juga menghormati dan mengakui kelebihan keunggulan dan jasa Al-Maududi dalam perjuangan Islam.
            Secara umum dengan sangat ilmiah, penulis mengkritisi kesalahan-kesalah yang dilakukan oleh ustadz Al-Maududi. Namun yang disayangkan ialah tulisan hanya berkisar pada menunjukkan kesalahan, adapun solusi secara konkrit belum bisa diwujudkan. Seharusnya semangat untuk menunjukkan, mengingatkan kesalahan orang harus diimbangi dengan kemampuan untuk memberikan solusi sehingga akan menimbulkan kesan yang baik. Tapi secara umum penulis dengan sangat santun dan pada batas kapabilatasnya telah mampu mengurai dan menjelaskan maksud yang dituliskannya.
            Buku ini pas dibaca oleh aktifis gerakan Islam. Manfaatnya ialah sebagai semacam evaluasi internal apakah selama ini gerakan yang diatasnamakan Islam benar-benar berjalan sesuai dengan ril Islam atau jangan-jangan sudah terlalu jauh dari tujuan inti Islam.


Judul Buku                  : التَّفْسِيْرُ السِّيَاسِيُّ لِلدِّيْنِ [al-Tafsiru al-Siyaasiyu li al-Diini].
Arti Judul                    : Tafsir Politik atas Agama.
Kategori                      : Pemikiran / Ideologi.
Pengarang                   : Wahidudin Khan
Penerbit                       : Daru al-Risalah al-Rabbaniyah .
Alamat Penerbit           : Mishru Jadidah, Kairo, Mesir.
Edisi Cetakan              : Cetekan Pertama.
Tahun Terbit               : 1991 M / 1411 H.
Tebal Buku                 : 76 Halaman.


Harga Buku                 : -

Share this article :

0 komentar:

Speak up your mind

Tell us what you're thinking... !

 
Copyright © 2011. Amoe Hirata - All Rights Reserved
Maskolis' Creation Published by Mahmud Budi Setiawan