Home » » Dakwah Pember-DAYA-an

Dakwah Pember-DAYA-an

Written By Amoe Hirata on Selasa, 13 Januari 2015 | 08.47

            Di berbagai kuliahnya, ada yang menarik dari statemen Dr. Zainuddin Muhammad Zaid, Dosen Hadits di Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya terkait masalah dakwah. Beliau sering menandaskan pentingnya dakwah pemberdayaan sebagai manivestasi dari dakwah Nabi Muhammad shallallāhu `alaihi wasallam. Dakwah pemberdayaan adalah dakwah yang dilakukan dengan cara lembut dan bijaksana. Bukan seperti yang sedang terjadi dewasa ini, ketika dakwah merasa diri paling benar, serta menyalah-nyalahkan orang yang tidak sepaham dengannya.
Ciri khas dari dakwah yang ini menggambarkan corak dakwah yang bersifat memberdayakan dan mengembangkan umat, bukan menghukumi atau memaki-maki orang yang salah. Bila terjadi kesalahan pada komunikan dakwah, maka dilaukan dialog dengan pendekatan persuasif. Orang yang salah diberi kesempatan terlebih dahulu menyampaikan unek-uneknya, kemudian da`i mengikuti cara berpikirnya, dengan cara itu secara tidak sadar komunikan dakwah bisa menyadari kesalahannya tanpa harus disalah-salahkan.
            Paling tidak ada dua contoh yang dijadikan landasan beliau dalam mengaffirmasi dakwah pemberdayaan ini. Pertama, kisah orang Arab badui yang kencing di masjid, sebagaimana hadits berikut:

عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ أَنَّ أَعْرَابِيًّا بَالَ فِي الْمَسْجِدِ فَقَامُوا إِلَيْهِ فَقَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا تُزْرِمُوهُ ثُمَّ دَعَا بِدَلْوٍ مِنْ مَاءٍ فَصُبَّ عَلَيْهِ

Bersumber dari Anas bin Malik: (suatu saat) ada orang Arab gunung (badui) kencing di masjid lalu (para sahabat yang ada di masjid) berdiri (untuk mencegahnya).(melihat sikap mereka) lalu Rasulullah shallallāhu `alaihi wasallam bersabda: “Jangan kamu potong dia (biarkan sampai selesai)”. (setelah selesai) kemudian belia meminta setimba air kemudian disiramkan pada (tempat yang dikencingi)nya.(Hr. Bukhari). Bersumber dari sahabat yang sama, imam Muslim dalam Shahihnya mernambahkan: “(Setelah kencing di masjid), orang Arab badui tersebut dipanggil. Lalu beliau berkata padanya: : “Sesungguhnya masjid ini tidak pantas untuk dikencingi atau untuk buang kotoran. Masjid hanyalah tempat untuk berdzikir pada Allah azza wajalla, shalat, membaca al-Qur`an”(Hr. Muslim).
Sedangkan dalam riwayat Abu Dawud lebih jelas dikatakan: (ketika para sahabat mau segera mencegah orang Arab badui kencing) beliau bersabda: “Sesungguhnya kalian diutus untuk mempermudah, bukan mempersulit. Siramkan seember air di atas (tempat yang dikencingi)nya”(Hr. Abu Daud). Dari hadit tersebut, Rasullah memberikan contoh dakwah pemberdayaan. Ia tidak langsung menyalahkan orang yang kencing di masjid(lantaran tidak tahu Islam), kemudian setelah selesai baru beliau ingatkan dengan cara lembut dan memikat hati.
Kedua, contoh yang baerkaitan dengan sahabat yang sedang menkonsultasikan kelahiran anaknya yang sama sekali tidak mirip dengan diri dan istrinya, sebagaimana hadits berikut:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ أَعْرَابِيًّا أَتَى رَسُولَ اللهِ صلى الله عليه وسلم فَقَالَ إِنَّ امْرَأَتِي وَلَدَتْ غُلاَمًا أَسْوَدَ وَإِنِّي أَنْكَرْتُهُ فَقَالَ لَهُ رَسُولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم هَلْ لَكَ مِنْ إِبِلٍ قَالَ نَعَمْ قَالَ فَمَا أَلْوَانُهَا قَالَ حُمْرٌ قَالَ هَلْ فِيهَا مِنْ أَوْرَقَ قَالَ إِنَّ فِيهَا لَوُرْقًا قَالَ فَأَنَّى تُرَى ذَلِكَ جَاءَهَا قَالَ يَا رَسُولَ اللهِ عِرْقٌ نَزَعَهَا قَالَ وَلَعَلَّ هَذَا عِرْقٌ نَزَعَهُ وَلَمْ يُرَخِّصْ لَهُ فِي الاِنْتِفَاءِ مِنْهُ.

Bersumber dari Abu Hurairah Ra., bahwasanya Rasululloh shallallohu ‘alaihi wasallam pernah kedatangan seorang arab badui dan berujar; ‘Wahai Rasululloh, istriku melahirkan bayi hitam.’ Nabi bertanya; “Apakah kamu punya unta?” ‘ya’ jawabnya. Nabi bertanya lagi: “Apa warnanya?” ‘Merah’ Jawabnya. Nabi bertanya lagi: “apakah disana ada warna kecoklat-coklatan?” ‘ya’ jawabnya. Nabi bertanya lagi; “darimana warna itu ada?” ‘pendapat saya, warna itu diturunkan karena akar keturunan.’ Nabi bersabda: “warna anakmu bisa jadi juga karena akar keturunan.”
Lihat bagaimana beliau tidak langsung memberikan penjelasan sepihak, tapi beliau mengajaknya dialog interaktif terlebih hingga ia sendiri mengetahui letak kesalahannya dan bisa menerima kebenaran secara lega. Dakwah-dakwah dengan model seperti ini sangat dibutuhkan di segala zaman, terutama zaman ini yang diwarnai dengan banyaknya pertikaian dan pertengkaran antarsesama Muslim. Seyogyanya setiap kali berdakwah, harus meneladani Nabi yang menerapkan firman Allah: “Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik”(Qs. An-Nahl: 125).
Share this article :

0 komentar:

Speak up your mind

Tell us what you're thinking... !

 
Copyright © 2011. Amoe Hirata - All Rights Reserved
Maskolis' Creation Published by Mahmud Budi Setiawan