Home » » Biro Jodoh Rada Edan

Biro Jodoh Rada Edan

Written By Amoe Hirata on Jumat, 02 Mei 2014 | 18.00


            Keputusan Margono untuk beralih profesi menjadi “Biro Jodoh” semakin bulat. Orang-orang di kampungnya geleng-geleng kepala melihat ulah Margono yang aneh-aneh. Dulu saja, Margono sempat bikin heboh masyarakat, katanya mau pindah agama ke lain Islam saja atau bahkan atheis saja sekalian. Tapi begitulah Margono seolah tiada henti membikin sensasi. Dan dia selalu punya alasan yang sulit dibantah oleh masyarakat sekitar.
            Yang bikin masyarakat heran ialah wong sudah enak-enak mapan jadi scurity alias Satpam Pabrik, eh malah mengundurkan diri, alih-alih menjadi 'Biro Jodoh'. Ada tetangganya yang nyelethuk , “dasar bocah edan! Diri sendiri saja belum punya calon malah pingin jadi 'Tukang Biro Jodoh'. Lagian, mana ada yang percaya”. Yang lain ada yang menimpali, “biarin saja semaunya sendiri wong itu haknya kok, yang penting ga bikin rusuh di kampung kita kan ga masalah”.
            Mendengar gosip-gosip yang sedemikian deras, Marsiti, kakak Margono sudah tidak tahan lagi ingin menanyakan langsung pada Margono. “Mar! Apa bener kamu mau jadi Biro Jodoh?. “ Iya Mbakyu”. “Kamu tuh sukanya aneh-aneh saja, wong bayaran jadi Satpam lumayan gede, eh malah keluar jadi Biro Jodoh yang ga jelas jluntrungan-nya. Kamu nih, pacar, calon saja ga punya mau sok jadi Biro Jodoh”. “Sek tah, aku pindah profesi bukan tanpa alasan Mbakyu. Memang benar sih gaji Satpam lumayan banyak, tapi yang bikin aku ga betah tuh lama-lama aku kayak jadi budak saja. Semua harus ikut atasan. Atasan bohong harus ikut bohong. Atasan ga bener harus kut ga bener. Aku merasa sebagai manusia sudah tidak punya kemerdekaan lagi untuk menentukan sikap. Aku merasa menjadi budak”.
            “Lalu, apa hubungannya coba, dari profesi Satpam beralih menjadi Biro Jodoh?”. “Gini mbakyu, manusia di kampung kita ini sudah kena racun industrialisasi, budaya konsumerisme sudah semakin menggejala, akibatnya tak dapat dielakkan lagi munculnya sikap egois, individualis dan apatis. Semua kesuksesan diukur dengan materi. Yang sukses itu ya yang duitnya banyak; yang hartanya melimpah ruah. Dampak yang paling nyata ialah akan terjadi kesenjangan sosial pada masyarakat kita. Kalau sudah terjadi kesenjangan, maka sebagai manusia, tidak lagi mampu menjalin budaya egaliter, guyup, rukun dan tak mampu menciptakan suasana kemesraan sosial yang benar-benar orisinil, tanpa pamrih. Karena yang ada hanya persaingan-persaingan pencapaian materi. Gengsi lebih ditonjolkan. Akibatnya banyak manusia yang tidak manusiawi. Atau manusia sudah mengalami titik nadhir menjadi bersifat hewani, dari ahsanu taqwim menuju asfala safilin”.
“Nah, maksudku mau alih profesi jadi Biro Jodoh tuh ga sedangkal seperti yang dipikirkan banyak orang. Biro Jodoh di sini lebih bersifat kontekstual daripada tekstual. Karena saking banyaknya orang yang sudah ga akur dengan manusia-manusia lain; manusia semakin tersekat-sekat; manusia semakin senjang maka perlu diadakan Biro Jodoh yang menciptakan terjadinya hubungan harmonis antara yang satu dengan yang lain. Syukur-syukur bisa menikah(menyatukankan ide dan visi) ke depan demi kemaslahatan sosial. Gampangane begini Mbakyu, orang kan sudah semakin ga peduli satu sama lain akibat salah memaknai atau mabuk industrialisasi, maka banyak terjadi perceraian di sana-sini. Maka sebagai Biro Jodoh, saya ingin memberikan jasa tanpa pamrih untuk mencipatakan kohesi-kohesi sosial yang membuat kemanusian manusia tidak luntur”.

“Kamu ini Mar, ada aja alasannya. Yang jelas, penjelasanmu mbikin aku semakin puyeng dan tidak mudeng. Cuman terakhir inget pesenku ya Mar! Kamu mau ngelakuin apa saja terserah kamu. Yang penting, perlu kamu pegang bener-bener nasehat Emak sewaktu masih hidup dulu. “Kapanpun dan dimanapun kamu berada jangan pernah membuat kerugian bagi orang lain. Minimal kalau ga bisa berbuat baik ya jangan bikin resek. Berbuat baiklah dimanapun dan kapanpun kepada siapa dan apapun”. “Iyo Mbakyu, suatu saat mbaknyu akan mengerti sendiri jalan hidup yang aku tempuh. Yang jelas nasehat emak kita itu tidak pernah aku tinggalkan dan selalu aku jadikan acuan dalam setiap tindakanku, meskipun kadang-kadang atau bahkan seringkali orang salah paham pada tindakanku. Aku juga tidak maksa mereka untuk memahamiku”. [Jawab Margono sambil ngluyur ke depan rumah].
Share this article :

0 komentar:

Speak up your mind

Tell us what you're thinking... !

 
Copyright © 2011. Amoe Hirata - All Rights Reserved
Maskolis' Creation Published by Mahmud Budi Setiawan