Home » , , » SERIAL KELULUSAN UJIAN NASIONAL

SERIAL KELULUSAN UJIAN NASIONAL

Written By Amoe Hirata on Kamis, 01 Mei 2014 | 19.37


I
Antara Lulus Asli dan Imitasi

                  Salah satu instrumen untuk mengetahui sejauh mana pendidikan dan pengajaran dikatakan berhasil ialah dengan menggunakan mekanisme ujian. Ujian berasal dari kata “uji” yang berarti: Percobaan untuk mengetahui mutu sesuatu. Variasi ujian di dunia pendidikan meliputi ujian lisan, tulis dan praktis. Hasil dari percobaan untuk mengetahui mutu ini selanjutnya dinamakan lulus atau tak lulus. Siswa dikatakan lulus jika memiliki kualifikasi berikut: mengerjakan ujian secara jujur dan mandiri, antara hasil dengan kemampuan yang dimiliki tak terlalu terjadi kesenjangan jauh, artinya antara hasil dan kemampuan benar-benar berbanding lurus. Siswa dikatakan tidak lulus jika memiliki kualifikasi berikut: mengerjakan ujian secara tidak jujur dan tak mandiri, antara hasil dengan kemampuan yang dimiliki terjadi kesenjangan yang sangat jauh, artinya antara hasil dan kemampuan benar-benar berbanding lurus.
            Di tengah euforia Kelulusan Nasional saat ini, secara hasil tentu pasti ada dua kemungkinan. Antara lulus dan tidak lulus. Namun permasalahan kemudian ialah apakah kelulusan dan ketidaklulusan dari proses ujian yang telah diselenggarakan benar-benar wujud murni dari kemampuan dan potensi siswa yang selama ini ditempa dalam infrastruktur pendidikan berupa sekolah? Apa lagi jika dilihat dari sisi basis kurikulum pendidikan nasional didasarkan pada pendidikan karakter, yang berarti pendidikan tak telanjang nilai, pendidikan sangat berjalin kelindan dengan nilai-nilai akhlak dan moral. Artinya, bila benar-benar diperaktikkan secara jujur dan obyektif, benarkah hasil kelulusan dari ujian yang diselenggarakan benar-benarkan berbalut baju nila karakter seperti yang diinginkan dalam kurikulum nasional yang diantaranya berupa: kejujuran. Jawaban dari kedua pertanyaan tadi tentunya sudah barang tentu bisa dijawab dengan mudah oleh para pendidik dan pengajar bagi para siswa-siswa yang dididiknya.
            Kalau mau berpikir jujur, arif dan bijak, pada dasarnya hakikat kelulusan sangat mudah dipahami dan dimengerti. Siswa-siswi bisa dikatakan lulus jika benar-benar dihasilkan dari proses yang mandiri dan jujur, bukan dihasilkan dari pemberitahuan melalui para joki, makelar jawaban, yang pastinya tidak jujur. Siswa-siswi dikatakan tak lulus jika benar-benar dihasilkan dari proses yang tak mandiri dan tak jujur melalui pemberitahuan guru baik secara langsung maupun tak langsung. Namun kendala pendidikan selama ini memang mengendapkan suatu fakta penting bahwa ada kesenjangan yang sangat serius antara sistem yang ideal dengan eksperimentasi fakta yang ada di lapangan. Bahwa hasil kelulusan yang keluar tak mesti berbanding lurus dengan kemampuan dan kejujuran siswa. Apa lagi bila diperparah dengan kenyataan lain berupa maraknya joki-joki kunci jawaban yang turut serta menyukseskan kelulusan nasional. Akhirnya sudah pasti bisa ditebak. Kelulusan yang ada bila dibangun dengan ketidakmandirian dan ketidakjujuran adalah kepalsuan. Yang sangat parah dan mengerikan jika hal ini sudah dianggap legal secara kolektif baik oleh siswa maupun jajaran pendidik. Ini berakibat fatal pada tujuan awal diadakannya ujian yang dibangun berdasarkan kemampuan dan kejujuran siswa. Pendidikan semacam ini hanya mengajarkan anak pada orientasi sangat dangkal dan superfisial dari hakikat inti pendidikan. Ini juga bisa menghancurkan sistem pendidikan yang selama ini berusaha dibangun dengan susah payah berdasarkan karakter. Jangan heran jika akan muncul generasi yang akan mempunyai prinsis: tujuan boleh dilakukan dengan segala cara walaupun dilakukan dengan cara tak benar dan merugikan orang lain. Bila ini benar-benar terjadi maka pendidikan yang selama ini dibangun adalah pendidikan yang palsu.
            Ujian sudah mengalami semacam dekadensi supra liberal. Dekadensi karena tujuan mulia dari pendidikan tidak tercapai dengan baik walau hanya target standart, dan ini sangat-sangat bebas bahkan anti nila. Titik fokus bukan lagi pada proses pendidikan yang membuat siswa menjadi berkarakter dan beradab. Titik fokusnya berubah haluan pada hasil. Jadi akan muncul – dan pasti muncul – kenyataan yang menggelikan berupa: pendidik yang sukses adalah pendidik yang mampu meluluskan semua siswa walau dengan cara membocorkan jawaban atau mengajari langsung siswa sewaktu ujian; sekolah yang sukses adalah sekolah yang mampu membuat seluruh siswanya lulus meski harus ditempuh dengan membeli kunci jawaban. Secara natural hal ini akan berdampak negatif baik bagi para guru maupun siswa. Jangan heran jika ada guru yang malas ngajar karena merasa percuma karena pengajaran dan pendidikannya selama ini dicurangi dengan hasil kelulusan yang tak jujur; jangan heran jika para siswa akan lebih nyantai dan tak serius akibat mendapat pengaruh negatif dari kakak-kakak kelasnya bahwa tidak usah belajar serius-serius wong pada akhirnya nanti ujian diberi kunci jawaban dan pasti lulus. Kalau fakta demikian sudah menyebar kemana-mana dan menjadi semacam rahasia umum, maka lembaga pendidikan beserta jajaran pendidiknya sudah bisa dikatakan tak produktif alias mandul. Sangat wajar jika ada yang mengatakan bahwa ini bisa dikatakan sebagai usaha membisniskan pendidikan. Yang penting untung, semua jalan dilakukan; yang penting laba semua cara dilaksana.
            Pada akhirnya memang fenomena maupun kenyataan demikian tidak lantas membuat rasa pesimis yang demikian parah. Lulus dan tak lulus secara hakiki tetap bisa ditempuh asalkan berbagai pihak baik secara individu maupun sosial mau bekerja sama dalam menciptakan kondisi yang sangat bisa menumbuhkan kejujuran dan kemampuan siswa yang berkualitas. Bila kerjasama yang jujur dan mandiri sudah tercerabut dari hati setiap pendidik dan lembaga pendidikan untuk menciptakan pendidikan yang menghasilkan kelulusan yang jujur mandiri, maka selamat merayakan Hari Kepalsuan Kelulusan Ujian Nasional; selamat merayakan Hari Imitasi Nilai Ujian Nasional.

**********

II
Lulus Benar Lulus

            Hati Rani berdebar-debar penuh harap dan cemas. Ia bersama teman-teman sedang menuju sekolah untuk melihat langsung hasil kelulusan Ujian Nasional tingkat SMA.  Segala daya dan upaya sudah dikerahkan sedemikian rupa. Belajar sudah. Berdoa sudah. Tawakkal sudah. Tapi tetap saja merasa harap-harap cemas. Kecemasan Rani memang sangat beralasan. Di samping karena jumlah paket yang bertambah banyak menjadi 20 paket, ia juga termasuk siswi yang secara peringkat prestasinya sangat rendah. Bisa dikatakan peringkat pertama dari bawah. Kenyataan-kenyataan inilah yang membuat Rani cemas.
            Meski cemas tak sampai membuat ia putus asa dan lemas; meski khawatir, tak sampai membuatnya putus harapan dan ketar-ketir. Ia merasa beruntung punya ibu yang benar-benar bijak dan arif. Ibunya, sebelum Ijian Nasional berlangsung, selalu mewantikan padanya nasehat yang sangat berkesan dan sulit dilupakan: Nak! Pada dasarnya ujian tak hanya terbatas pada ujian sekolah belaka. Hidup ini juga merupakan ujian besar yang dibuat Allah untuk menguji siapa yang terbaik amalnya. Sebagaimana ujian sekolah, pasti dalam menjalankannya ada yang lulus dan ada yang tidak. Permasalahannya bukan terutama pada lulus atau tidak lulus. Permasalahannya sejauh mana kamu bisa menjadi berkarakter dalam proses pendidikan sehingga kamu benar-benar mendapat nilai yang nyata dan jujur. Meski tak lulus tapi kamu sudah berusaha dan jujur maka ketidaklulusanmu hanyalah kesuksesan yang tertunda. Tapi jika kamu lulus tapi dengan cara yang curang, maka hal itu merupakan kegagalan yang tertunda yang kelak bikin sengsara.  
            Sesampainya di sekolah, Rani dan teman-teman agak merasa tidak enak. Pasalnya, mimik muka, air muka Kepala Sekolah terlihat sedih dan seakan menahan kepedihan. Dikumpulkanlah para siswa di aula sekolah untuk mendengarkan hasil ujian nasional. Setelah salam dan pembukaan Kepala Sekolah menyatakan: Dengan pasrah dan penuh tawakkal kepada Allah, saya harap semua siswa tetap bersyukur bagi yang lulus, dan bagi yang tak lulus tetap bersabar. (Para siswa sudah mulai khawati jangan-jangan diantara mereka ada yang benar-benar tak lulus). Berdasarkan hasil yang saya terima dari Sub Rayon, bahwa semua siswa SMA Al-Fatihah, tidak ada yang tak lulus, alias lulus semuanya. (Para siswa mengekspresikan kegembiraannya. Ada yang berhamdalah, bertakbir, nyengir ada juga yang sujud syukur). Nilai yang terbaik diraih oleh siswi yang bernama: ....................................(semua siswa menunggu. Ada yang berkata: pasti si Mustika. Dia kan bintang kelas kita)...........oleh siswi yang bernama: Rani Dwi Trisnawati. (Rani tertegun demikian juga teman-temannya, seolah-olah sedang dalam alam mimpi).
            Kejujuran, usaha, doa, kemandirian dan tawakkal yang dilakukan Rani benar-benar membuahkan hasil. Bukan saja ia mendapat sekedar kelulusan. Lebih dari itu, ia telah mendapatkan nilai terbaik, yang sontak membuat teman-teman lainnya heran. Tidak ada yang meragukan kejujuran Rani. Selama ini memang mereka tak pernah menjumpai Rani berbohong. Meski prestasi dibawah rata-rata dia tetap memiliki kejujuran terbaik diantara kawan-kawannya. Rani adalah anak yang lulus benar lulus. Tak hanya itu, ia juga mendapat bonur dari ketekunan usaha, doa, dan tawakkal berupa nila terbaik. Ia bukan hanya sukses dalam mengamalkan setiap karakter pendidikan yang dicanangkan dalam kurikulum sekolah, ia juga sukses di akhir kelulusannya mencapai nilai akademik terbaik yang patut diabanggakan dan diapresiasi di tengah situasi kondisi  menyebarnya ketidakjujuran ujian nasional di negeri ini.
**********

III
Tak Lulus Benar Tak Lulus

            Ketika diberitahukan kepada Arman bahwa dia tak lulus Ujian Nasional, Arman bersikap dingin dan berkomentar: Ya wajarlah aku gak lulus. Aku jarang masuk, ga pernah belajar, dan aku tidak ada mood untuk sekolah. Tapi meski begitu aku gak pernah nyontek atau pakai kunci jawaban. Kalau ga bisa ya ga bisa aja ngapain dipaksa-paksain lulus. Ini adalah gambaran bagi siswa yang, “Tak Lulus Benar Tak Lulus”. Perlu diancungkan jempol untuk kejujurannya dalam ujian. Ia tidak mencontek, tidak memakai kunci jawaban seperti teman-teman yang lain. Namun kejujuran yang membuatnya tak lulus gara-gara kurang usaha dan pasrah saja merupakan cerminan sikap yang menggambarkan ketidak lulusannya dalam menginstrospeksi diri untuk melakukan perubahan diri yang lebih baik. Ia seolah sudah kehilangaan harapan dan asa. Tak ada masa depan, tak ada rencana, tak ada menejemen. Semua dibiarkan berlalu begitu saja. Nurani dan hati kecilnya tak mempu menciptakan arus kesadaran yang membuatnya bangkit dan bangun dari kegagalan. Kegagalan berupa ketidaklulusan yang mestinya jadi cambuk untuk menjadi lebih baik dari sebelumnya malah hanya dibiarkan bahkan dinikmati. Sungguuh menyedihkan. Ia sudah tak bisa mencapai kelulusan akademis. Ia juga sudah kehilangan asa untuk bangkit dan lulus dari kegagalannya. Hayaatihi ka `adamihi(hidupnya seperti tiadanya). Pasrah pada keadaan.
**********

IV
Lulus Tapi Tak Lulus

            “Saya selaku Kepala Sekolah, mewakili segenap dewan guru merasa bangga dan bersyukur karena siswa dan siswi kami bisa lulus semua, dan berhasil mendapat nilai terbaik. Saya mengucapkan banyak-banyak terima kasih kepada dewan guru dan wali murid yang tak henti-hentinya memberi suport, semangat pada anaknya agar belajar sungguh-sungguh. Semoga hasil yang baik ini bisa dicapai lagi pada masa ke depan. Aamin ya Rabbal `Aalamin”. Demikian salah satu petikan sambutan Bpk. Wagiman selaku Kepala Sekolah di hadapan jajaran guru dan wali murid ketika diundang acara tasyakuran kelulusan. Mendengar pernyataan Kepala Sekolah yang bangga dan percaya diri ini, Pak Romli selaku Keamanan Sekolah alias Satpam membatin dalam nurani: Dasar Kepala Sekolah Mbladhus, ngrowos. Wong lulus karena ada kunci jawaban saja kok dibanggakan. Guru-guru juga nemen. Wong sudah tahu itu salah dan tak baik untuk pendidikan malah didiamkan dan didukung sepenuhnya asal ada fee-nya. Yang penting duit beres, pengawasan luwes. Siswa-siswinya juga gitu(meski tidak semuanya) kebanyakan rada kenthir dan kurang pikir. Apa yang ndak mikir dengan akal sehat: “Buat apa sekolah sampai sekian tahun kalau ternyata ujian nasional diberitahu kunci jawaban”. Yang lebih parah, wes jelas kelulusannya ga jujur, dilampiaskan dengan cara urakan, pakai coret-coret baju, semprot pilok, arak-arakan motor. Halah semua hidup dalam kepalsuan dan tabdzir(pemborosan).
            Betul Pak Romli tak pernah mengenyam bangku sekolah. Pekerjaannyapun hanya menjadi bawahan, yaitu satpam. Tapi masalah kejujuran, kekritisan, dan belajar tak pernah lekang dari semangat hidupnya. Memang secara formal tak pernah belajar, tapi dia belajar langsung dari kehidupan. Kehidupan, mengajarkan padanya kearifan, kebijaksanaan dan pelajaran yang begitu luar biasa yang mungkin tak dijumpai di bangku sekolahan. Tapi tetap saja apa saja yang diomongkan Pak Romli dianggap tak penting. Wong memang dia tak pernah dianggap intelek dan lagian memang tingkatan bawah dan awam ngapain ngurus masalah pendidikan bisa berabe nanti. Demikian citra Pak Romli di mata mereka. Makanya, yang dibisa Pak Romli hanya membatin seperti yang di atas. Yang menarik dari ungkapan hati Pak Romli ialah suatu kenyataan pahit dimana nilai-nilai kejujuran sudah tanggal dari lembaga pendidikan. Orientasi pendidikan hanya pada hasil ujian. Demi pamor, citra, dan nama baik sekolah, rela untuk membeli kunci jawaban agar nama baik sekolah terselamatkan. Apa lagi di zaman yang dana BOS sangat subur makmur, membuat lembaga tertentu merasa terancam secara finansial jika ada siswa yang tak lulus. Logikanya, kalau lulus, pamor sekolah bagus, kalau pamor bagus siswa-siswi semakin banyak masuk terus, kalau masuk terus  duwit  BOS mulus. Seolah Pak Romli mengisyaratkan betapa pendidikan sudah dikapitalisasikan dan dibisniskan. Seakan pendidikan sudah mengalami dan berada pada titik nadir kebejatan pendidikan.
            Siswa-siswi yang sudah tahu bahwa hasilnya tak jujur, tak segera sadar malah mengekspresikannya dengan berhura-hura, corat-coret, arak-arakan motor dan lain sebagainya. Memang benar telah mendapatkan kelulusan. Kelulusan yang tak jujur, ketika tak menggugah benak pikiran dan hati, sejatinya adalah, “Lulus Tapi Tak Lulus”. Ketidakjujuran seharusnya membuat tersadar dan insaf, sehingga bergerak lebih maju untuk menuju perubahan lebih baik. Tapi kenyataannya malah bangga dan berhura-hura. Lebih memilih hidup dalam bayang-bayang semu yang seolah indah menentram hati, padahal merupakan kegagalan besar yang siap menanti. Mereka gembira dengan kelulusan palsunya untuk mendapat kesenangan sesaat, padahal mereka telah gagal bersikap, gagal menghikmahi, gagal mempelajari, bahwa kesemuanya bak galian-galian kolektif yang secara tak sadar digali untuk mengubur diri dalam kubur “KEGAGALAN”. Betapa bijak kata-kata Pak Romli. Tapi, sekali lagi sudah pasti tak akan ada yang memperdulikannya. Karena wujuudihi ka`adamihi(keberadaan Pak Romli dianggap tiada). Menjadi Satpam yang baik dan pendiam sudah merupakan prestasi terbaik, menurut mereka.
**********

V
Tak Lulus Tapi Lulus
            “Meranaa hati meranaa ........ Meranaa hati meranaa........... Meranaa hati meranaa” Demikian ejek teman-teman Asyarafi meminjam lirik lagu: Rindu Merana, karya Davinci Band, gara-gara Asyrafi tak lulus Ujian Nasional. Mereka mengejek Asyrafi karena keteguhan Asyarafi pada prinsipnya: Ia tak mau menerima kunci jawaban dari gurunya. Ia bertekad untuk jujur meskipun tak lulus. Terang saja, dia dianggap sok suci, sok alim, bahkan mereka sudah menyiapkan surprise cibiran dan ejekan khusus kalau-kalau nanti Asyrafi benar-benar tak lulus. Ternyata benar-benar terjadi. Petikan nyanyian Davinci, Rindu Merana di atas diulang-ulang dihadapannya oleh Rico, Slamet, Antok dan Eko. Asyrafi nyantai saja tak menggubris mereka. Baginya, lebih baik ga lulus tapi jujur daripada lulus tapi ga  jujur.
            Ternyata bukan hanya Asyrafi yang tak lulus ujian. Ada juga teman ceweknya yang bernama Artika Cinta Dewi. Kesamaan Artika dengan Asyrafi ialah sama-sama berpegeng teguh pada kejujuran. Cuman bedanya, Artika tak mengungkapkannya secar verbal, dia tak sampai ngomong sama teman-temannya. Dan Artika juga rajin belajar dan berusaha dengan sesungguh-sungguhnya, sedang Asyrafi biasa-biasa saja tak terlalu serius. Yang menarik, pada akhirnya keduanya sampai pada kesimpulan yang sama yaitu: merasa salah dan harus berbenah. Asyrafi merasa salah karena tak sungguh-sungguh dalam belajar. Artika merasa salah karena kurang jeli dalam memahami soal.  Karena itu keduanya ke depan berusaha menjadi lebih baik dan ingin membuat perubahan nyata demi menggapai hasil yang lebih baik. Keduanyapun bersabar, walau tak dapat dipungkiri bahwa keduanya merasa malu. Nilai positif dari keduanya ialah: meski keduanya tak lulus gara-gara ketidaksungguhan dan ketidakjelihan, keduanya mau mengevaluasi diri, bersabar dan tetap berusaha menjadi lebih baik. Kesadaran demikian membuat mereka lulus dalam menyikapi dan menghikmahi ketidaklulusan. Keduanya Tak Lulus(secara formal akademik) Tapi Lulus(secara penyikan dan pengambilan pelajaran).
            Pada dasarnya hidup ini adalah ujian. Ketidaklulusan ujian akademik sangatlah kecil dibandingkan dengan ketidaklulusan dalam hidup. Dengan menginsafi dan menyadari ketidaklulusan akademik dengan kesadaran dan perubahan yang mendasar sehingga membuat maju maka ini merupakan salah satu hasil kelulusan dari ujian kehidupan. Kesadaran ini akan mendewasakan siswa menjadi lebih arif dan bijak dalam menilai setiap ujian yang menimpa. Tidak grusah-grusuh tapi direnungkan, diinstrospeksi sedemikian rupa untuk menggapai kelulusan yang lebih besar.
**********
VI
Kalau Harus Memilih
Kalau harus memilih
Pilihlah!:
Lulus Benar Lulus
Atau
Tak Lulus Tapi Lulus
Jangan pernah memilih!:
Tak Lulus Benar Tak Lulus
Atau
Lulus Tapi Tak Lulus
Bila tak demikian
Selamat menggapai kegagalan


Share this article :

0 komentar:

Speak up your mind

Tell us what you're thinking... !

 
Copyright © 2011. Amoe Hirata - All Rights Reserved
Maskolis' Creation Published by Mahmud Budi Setiawan