Home » » AKHWAT HEBAT: Tetap Bermanfaat Meski Berbeda Pendapat

AKHWAT HEBAT: Tetap Bermanfaat Meski Berbeda Pendapat

Written By Amoe Hirata on Kamis, 01 Mei 2014 | 14.41


            Aku hidup dalam keluarga yang bisa dibilang ‘taat beragama’, bahkan pada taraf tertentu bisa juga dikatakan oleh kebanyakan orang sebagai sikap yang fanatik. Bapakku adalah seorang yang juga berprofesi sebagai pedagang sepatu. Meski bukan seorang Ustadz, beliau sangat rajin membaca dan mengaji, Ia juga mempunyai banyak teman yang sepaham dengannya. Ibuku merupakan ibu rumah tangga yang berprofesi sebagai tukang jahit. Sejak kecil aku dididik sedemikian rupa mengenai pentingnya memegang teguh prinsip, pentingnya menjaga nilai-nilai agama di tengah masyarakat modern yang kian menjauh dari nilai-nilai agama. Sebagai muslimah tentu saja sejak kecil aku sudah dibiasakan untuk berjilbab, taat dan patuh kepada kedua orang tua, dan yang sampai sekarang diwanti-wanti oleh kedua orangtuaku ialah mengenai hubungan lawan jenis, atau interaksi dengan cowok yang bukan mahram. Aku sendiri sangat patuh dan menikmati apa saja yang selama ini didoktrinkan orangtua kepadaku - aku sangat sayang dan patuh pada mereka berdua, bagiku setelah cinta Allah dan Rasul-Nya, cinta pada kedua orang tua adalah yang utama-. Dengan sikap keluargaku yang sangat ketat dalam memegang prinsip, tentunya banyak reaksi diantara masyarakat yang tinggal berdampingan dengan kami. Kadang malah banyak stigma-stigma negatif yang disematkan tetangga pada keluarga kami: dibilang kolot, fanatik, kurang ramah, tak toleran, keras kepala, dan yang paling menyakitkan kadang kami dibilang sebagai aliran sesat, bahkan beda agama.
            Apa yang aku rasakan saat di rumah dan di lingkungan desa, juga aku rasakan ketika aku di sekolah. Banyak di antara teman-teman yang memandang perilakuku ini terbilang kolot, puritan, eksklusif dan kurang gaul. Aku memang paling menjaga mengenai masalah busana, dan hubungan lawan jenis. Sesuai dengan apa yang aku dapat dan pahami dari kedua orangtuaku: bagi muslimah yang sudah baligh diwajibkan untuk menutup semua auratnya dengan jilbab kecuali muka dan telapak tangan. Sedangkan dengan masalah hubungan lawan jenis, jangankan bersalaman, wong pandang-memandang saja tidak boleh kok, apalagi kalau sampai ngobrol berduan, nge-date, makan bareng, berboncengan dan yang semisalnya. Untuk masalah bersalaman ada hadits yang seingatku intinya demikian: bahwa ditikam dengan besi itu lebih baik, daripada bersentuhan dengan seseorang yang bukan mahramnya. Sedangkan anjuran untuk mengandalikan pandangan itu seingatku terdapat dalam surat An-Nûr ayat: 32/33, yang diistilahkan oleh para ahli dengan ghaddhul bashar(mengendalikan pandangan). Dengan prinsip-prinsip inilah selama ini aku dan keluargaku berusaha menjaga betul-betul dengan rintangan yang tak sedikit. Tak jarang di berbagai kalangan, kami terkesan dikucilkan, dicuekin, dianggap aneh, dan disindir dengan sindiran yang tentunya membuat hati sakit.
            Anggota keluargaku semua berjumlah enam orang. Bapak, ibu, aku, dua adik cowok dan cewek, serta satu lagi adik cowok yang masih berusia enam bulan. Secara singkat namaku Aisyah Mutiara Qolbi,  Bapakku; Shohibul Khair, Ibuku; Syahidah, adikku; Ridho Muhammad, Sakinah Hilya Auliya, dan yang terkecil bernama Imran Aflah A`ili. Kami terhitung keluarga yang cukup mampu secara finansial, dan dikenal sebagai keluarga yang taat beragama. Tempat yang kami tinggali sekarang terhitung baru, karena kami baru menempatinya sekitar 3 bulanan. Sebelumnya kami tinggal di rumah peninggalan nenek, karena faktor profesi pekerjaan Bapak, akhirnya bapak dan ibu memutuskan untuk pindah membeli rumah baru di lokasi yang lebih prospek untuk berjualan dan tak jauh dari tempat kulakan. Di tempat inilah untuk pertama kali kami bersinggungan dengan suasana, kondisi, tempat, tradisi, komunikasi, yang berbeda dengan yang sebelumnya kami rasakan. Di lingkungan kami ini bisa dikatakan sangat kaya corak, karakter dan tradisi pemikiran yang bermacam-macam. Rata-rata memang muslim, meski juga ada yang Kristen, Hindu, Budha, Konghucu, Kejawen. Meski rata-rata muslim, masyarakat muslim dilingkunganku juga terdiri dari berbagai macam aliran pemahaman. Ada yang mengaku muslim, tapi tak begitu mengaindahkan nilai-nilai Islam, ada yang berjilbab, ada yang tak berjilbab, ada yang pakai kerudung tapi hanya kerudung gaul, dan masih banyak keanekaragaman lain yang tak mungkin disebut semua dalam tulisan ini. Intinya, lingkungan kami sangat heterogen. Di lingkungan yang baru inilah kami merasakan banyak rintangan dan stigma yang negatif, terutama dalam hal komunikasi sosial. Di sisi lain perlu diakui juga, secara umum meskipun beterogen, penduduk sini pada umumnya sangat toleran, baik dan supel.
            Di lingkungan yang baru kami mengalami kendala-kendala yang sangat serius terutama tentang masalah komunikasi sosial. Awalnya mereka sebenarnya sangat terbuka menyambut kehadiran kami, tapi lama-lama mereka mencueki dan menjauhi kami. Bahkan ketika sampai kami tinggal tiga bulan di sini hubungan kami dengan masyarakat sekitar semakin parah. Aku terkadang menyempatkan diri untuk berpikir dan merenung, kenapa ya kok hubungan keluargaku dan masyarakat tak begitu harmonis? Apa karena kegigihan keluargaku yang begitu ketat memegang ajaran agama? Memang keluargaku sangat anti dengan yang namanya acara adat yang berbau agama seperti kenduren, diba`an, tahlilan, mauludan, istighasah, bancaan, ruwatan dan lain sebagainya, karena bagi bapak, semua itu tidak ada tuntunannya dari Nabi. Makanya, setiap kali diundang di acara-acara ritual seperti itu, sudah dipastikan bapak dan keluarga pasti tidak hadir. Kadang kalau kami dikirim makanan-makanan dari masyarakat yang telah melakukan acara-acara misalkan tahlilan, bapak selalu menyuruh untuk membuang karena dinilai haram. Kami juga sangat ketat dalam menjaga hubungan lawan jenis. Keluargaku tidak akan menyalami atau menjabat tangan orang yang bukan mahram. Kalau ibu dari pasar, misalkan ada orang yang mau memberi bantuan mengantar ke rumah selalu tak mau kalau yang menawarkan bukan mahramnya. Keteguhan prinsip seperti inilah yang mungkin barangkali membuat kerenggangan antara keluarga kami dengan masyarakat sekitar. Padahal sebenarnya kami sebagai manusia juga ingin bertegursapa, saling membantu, bersosialisasi, namun terdapat jurang pemahaman yang sedimikian dalam sehingga membuat berat untuk menjalin komunikasi.
            Suatu ketika, ibu di rumah hanya bersama adik terkecil, Imran. Waktu itu ibu mau membuang sampah ke belakang rumah, waktu itu suasana masih mendung, dan baru saja hujan reda. Sewaktu membuang sampah, ibu terpeleset jatuh ke tempat pembuangan sampah yang cukup dalam. Kaki ibu pun patah. Ia menjerit kesakitan, sembari meminta tolong pada orang sekitar. Karena mendengar teriakan minta tolong, akhirnya datang juga tetangga yang menolong. Waktu itu yang mau nolong ibu ialah Pak Jumali, selaku Kepala Rt. Sewaktu mau ditolong, Ibu jelas menolak karena yang akan menolong, mengangkatnya, bukanlah mahramnya, Ia akan meras berdosa jika bersentuhan dengan orang yang bukan mahramnya. Ia sangat mengharap, kalau yang menolongnya itu ialah ibu-ibu, namun mana kuat ibu-ibu mengangkat badannya yang lumayan besar. Hatinya berkecamuk. Sesaat tertahan dalam pikiran yang bimbang – kalau menerima tawaran pertolongan, merasa dosa karena yang nolong bukan mahram, kalau ga diterima siapa lagi yang akan nolong, wong kakinya patah dan membutuhkan segera pertolongan supaya tidak terlalu parah – belum sempat berfikir panjang akhirnya dengan sigap dan lekas, Pak Jumali langsung mengangkatnya –tanpa persetujuannya- sembari berkomentar kesal: ‘Bu, meski bukan mahram, saya tidak akan ngapa-ngapain, saya ini murni menolong, lagian kalau terpaksa kan ga apa-apa’. Ibu terdiam, Ia tidak bisa membalasnya. Al-Hamdulillah, karena waktunya tepat, kaki ibu bisa diselamatkan, dan segera dioperasi.
            Yang senada dengan kejadian itu, suatu saat sewaktu aku mau kuliah, waktu itu di kampus akan diadakan UTS, dalam perjalanan aku menjumpai satu keluarga jatuh dari sepeda dan masuk sawah –aku sendiri tidak tau penyebabnya, apa karena ngantuk atau sebab lainnya-, anak dan istrinya tidak apa-apa hanya wajah dan bajunya dipenuhi lumpur sawah; tapi suaminya sebelum jatuh ke sawah, kepalanya sempat tertabrak pohon asam, sehingga kepalanya luka berdarah dan lumayan parah. Melihat kejadian itu aku secara spontan berhenti membantu ibu dan anak bangkit dari sawah –kebetulan waktu itu masih sangat pagi dan sepi belum terlihat orang lalu-lalang-, alhamdulillah tidak apa-apa, yang membuat aku bingung ialah bagaimana harus menolong suaminya, suaminya masih muda, dia bukan mahramku, sedang waktu itu tidak ada orang yang, kalau ga segera ditolong orang itu bisa meninggal lantaran luka kepalanya sangat parah. Kejadian itu begitu dilematis. Istrinya dengan sangat memohon meminta bantuan aku untuk mengangkat suaminya ke mobilku dan segera di bawa ke rumah sakit terdekat. “Maaf mbak, bukannya aku tak mau menolong, tapi suami mbak mukan mahram saya” jawabku sekenanya. “Aduh tolong mbak, ini darurat, kalau tidak suami saya bisa meninggal, sampean tega kalau gara-gara bukan mahram kemudian tak menolong, lantas suami saya meninggal dunia. Penting mana nyawa orang dengan menjaga diri dari yang bukan mahram” sahut istri lelaki yang sedang kecelakaan. Serasa ditampar kesadaran hatiku, akhirnya dengan lekas aku segera membopongnya dengan bantuan istrinya, sampai aku antarkan ke rumah sakit terdekat. Waktu itu aku merasa dosa, telah bersentuan dengan orang yang bukan mahram, tapi sekaligus merasa bermanfaat pada orang lain karena telah membantunya pergi ke rumah sakit, meski akhirnya aku tidak bisa mengikuti UTS di kampus karena terlambat.
            Aku juga punya teman cewek di kampus yang sepaham dan sealiran dengan pemahaman yang aku pegang teguh dengan keluargaku, namanya Amel –bukan nama sebenarnya-, di sudah bertunangan; sekitar tiga bulan lagi dia akan menikah. Apa yang dialaminya sebenarnya juga masih bertalian erat dengan beberapa kisah yang baru saja aku ceritakan tadi. Amel memang sangat anti dengan yang namanya pacaran, ia membatasi pergaulan hanya sesama teman perempuan, dan cendrung menjauh kalau ada laki-laki yang bukan mahramnya. Amel adalah mahasiswi yang sangat pandai  dalam bidang studi Matematika. Waktu itu ada teman cowok yang minta bantuan untuk diberikan penjelasan mengenai bab-bab tertentu mengenai matematika. Bukannya Ia tak mau membantu, tapi karena teman cowok yang bernama Bagus itu bukan mahramnya, maka ia merasa berdosa kalau dia membantunya, karena jelas nanti akan berhadap-hadapan dan terjadi saling pandang memandang di antara keduanya. Di sisi lain, kalau Bagus tidak dibantu maka resikonya kalau sampai tahun ini gagal lagi dalam ujian, pasti Ia akan terkena DO dari kampus, karena sudah beberapa kali gagal, lantaran ada kesibukan sosial di luar kampus. Akhirnya amel tetap menolak membantu, tentunya dengan alasan bukan mahram. Tapi yang membuat Amel tersentak ialah ketika ia mendengar teguran dari sahabatnya ,Rindi Antika(cewek ini meski belum berjilbab tapi secara pakaian sangat sopan dan baik, Ia termasuk dari sahabat Amel, bahkan sering curhat sama dia-, ‘Mel, maaf sebelumnya. Bukannya aku ikut campur. Kenapa kamu ga mau bantu orang yang sedang kesusahan? Meski bukan mahram dia kan ga bakal ngapa-ngapain. Sekarang aku tanya, tunangan itu mahram apa bukan? Kalau bukan kenapa kamu sering telponan sama dia, chatting-ngan, fb-an, tweeter-ran, dan kadang kalau ada perlu kalian juga bertatap muka meski tak berjabat tangan, bukankah itu lebih parah? Bukankah kedudukannya sama-sama bukan mahram? Kenapa kamu membeda-bedakannya, padahal Bagus itu benar-benar membutuhkan bantuanmu’. Amel sangat tersentak dengan teguran sahabatnya itu. Dalam hati Amel membatin, ‘betul juga kata Rindi, astaghfirullâh...selama ini aku telah berbuat salah, meski sama tunangan kan belum halal’. Dengan pikiran yang berkecamuk dan penuh dilema, akhirnya Amel mau bantu dengan syarat teman-teman ceweknya mendampinginya.
            Beberapa kejadian itu membuat aku bingung. Mungkin gak ya, kita tetap berpegang teguh dengan prinsip nilai yang kita anut, tetapi kita tetap bisa menjaga hubungan yang harmonis dengan orang? Saling membantu, saling menolong, dengan tetap menjaga prinsip. Berbulan-bulan aku berpikir serius mengenai jawaban pertanyaanku itu. Pernah aku bertanya pada bapakku langsung, tentang pertanyaanku tadi tentu saja aku iringi dengan kasus-kasus nyata yang bertentangan dengan prinsip misalkan: “pak bagaimana ketika ada orang yang sedang mengadakan tahlilan, kemudian terjadi kebakaran di rumah itu, apa kita perlu membantu, mereka kan melakukan bid`ah, apa perlu ditolong? Bagaimana kalau ada orang yang bukan mahram mengalami kecelakaan lantas butuh bantuan kita, dan waktu itu yang ada hanya kita, apa harus kita tolong? Apakan menolong orang itu tidak boleh jika orang yang kita tolong tak sejalan dengan pemahaman dan pemikiran kita? Apakah ada pertentangan antara agama dan menolong orang yang tak seagama?” masih banyak lagi sebenarnya yang aku tanyakan ke bapak, tapi jawabannya sama yaitu: “yang berhak ditolong adalah yang tidak melanggar syari`at, kalau kamu menolong orang yang melanggar syari`at, sama saja kamu menolong orang berbuat salah. Kemungkaran itu jangan malah ditolong, tapi kewajiban kita adalah mencegahnya”. Sebagai anak tentunya aku nurut dan takzim pada beliau, dan aku sama sekali tak membantahnya. Tapi tetap saja masih ada yang mengganjal di hati, penjelasan bapak memang benar, kemungkaran memang harus dicegah, tapi kok kurang pas dengan pertanyaannya.
            Berbulan-bulan aku dirundung bingung, sembari berusaha mencari jawaban yang pas dan tepat mengenai pertanyaan-pertanyaan tadi. Selama ini aku dan keluargaku memang sangat memegang teguh prinsip, tapi mengapa kehidupan sosial kami dengan masyarakat kok tak kunjung harmonis, semakin hari semakin senjang. Sampai akhirnya sewaktu ada kegiatan kampus berupa penelitian ke kampung-kampung mengenai kesadaran kesehatan masyarakat, di salah satu kampung aku diperjumpakan dengan seorang yang bernama Sarikhuluk. Sarikhuluk bukan guru, yai, dosen, pakar, kiai, ustadz atau sebutan formal lainnya. Ia mengaku bukan siapa-siapa dan merasa seperti manusia biasa sebagaimana manusia yang lainnya. Ia hanya mengenyam bangku sekolah formal sampai SD saja, namun yang membuat aku heran, dia bukan siapa-siapa dan tak mempunya profesi dan title apa-apa, tapi kenapa dia begitu bisa berpengaruh di kampungnya. Kampungnya termasuk kampung sang sangat sigap dalam hal kesehatan, kebersihan dan lain sebagainya. Di kampungnya pula, konflik-konflik aliran sangat bisa diminimalisir, meskipun di kampungnya jauh lebih plural daripada kampungku. Aku sangat penasaran dan ingin sekali bertanya-tanya tentang resep apa saja yang bisa membuat desa ini begitu rukun, damai dan toleran. Al-hamdulillah akhirnya, aku bisa mewancarianya bersama teman-temanku sewaktu dia lagi sibuk di kebun pisangnya. “Pak maaf menganggu, apa bisa kami meminta waktunya sebentar. Ada teman saya yang mau mewawanzarai bapak?” tanya Irma, temanku. “Ya monggo-monggo, tapi di sini aja ga apa-apa kan mbak?” jawab Sarikhuluk. “Ya pak, ga papa, terimakasih sebelumnya”.
            Aku mulai menyapanya: “Pak, perkenalkan nama saya Aisyah Mutiara Qolbi, panggil saja Tiara. Jujur saya sangat kagum dengan kondisi di kampung bapak ini. Warganya begitu heterogen dan plural, tapi kok bisa ya rukun dan damai dan tetap saling tolong menolong. Lebih kagum lagi, bapak bukan siapa-siapa disini dan tak mempunyai title dan kedudukan apa-apa tapi kok perannya sangat besar di sini, bahkan tak sedikit orang yang meminta bantuan ke jenengan? Pertanyaan saya sebenarnya singkat saja: Mungkin gak pak, kita tetap berpegang teguh dengan prinsip nilai yang kita anut, tetapi kita tetap bisa menjaga hubungan yang harmonis dengan orang?” pertanyaanku singkat.

 “Wah mbok jangan-jangan dibesar-besarkan gitu mbak, sebenarnya kampung di sini juga sama saja dengan kampung yang lain, saya juga perannya biasa-biasa saja. Memang saya tak peduli dengan status dan tak memiliki status apa-apa, kunci hidup itu satu mbak, yaitu apa kita bisa bermanfaat dengan orang lain apa tidak. Walau jabatan tinggi, title juga banyak, tapi kalau sedikit manfaat, bahkan banyak menyusahkan orang itu nonsense(omong kosong) mbak. Kata ar-rahmân dan ar-rahîm sebenarnya memberikan pelajaran berharga pada kita. Kalau ar-rahmân skalanya horisontal dan sesama mahluk, artinya kita dalam berbuat baik tidak memandang apakah yang kita tolong itu orang yang seagama sama kita, orang yang sepaham dengan kita atau tidak, sebagaimana Tuhan yang tak membeda-bedakan dalam memberikan sinar mentari kepada seluruh ciptaannya di bumi, baik itu muslim maupun kafir. Kalau ar-rahîm skalanya itu vertikal dan transenden, maksudnya hubungan dan manfaat khusus kita dengan Tuhan, artinya masing-masing dari kitanmeski secara sosial dituntut baik, tapi kita tetap mempunyai ruang privasi untuk mendekatkan atau mengintensifkan hubungan dengan Tuhan. Gampanganya manfaat kedua ini memang lebih pribadi, dan khusus. Apakah keduanya bisa dipadukan? Ya jelas bisa mbak. Buktinya Allah memadukannya gitu. Bismillahirrahmânirrahîm. Sampean juga bisa melihat kerukunan yang terbina di kampung ini. Bukannya mereka sepaham, seia, dan sekata, tapi mereka sama-sama sadar bahwa masalah keyakinan itu memang masalah privasi dan tidak bisa dipaksakan ke orang lain, namun sebagai manusia, apapun perbedaannya harus tetap bisa bermanfaat pada orang lain. Dalam konsep Islam `kan ada konsep: rahmatan lil `âlamîn, jadi kalau kedatangan agama Islam hanya membuat laknat bagi alam maka batallah kehadiran agama. Agama ada itu untuk mencerahkan, bukan mengelamkan. Kebanyakan konflik-konflik yang terjadi saat ini, khususnya umat Islam ialah ketika perbedaan yang sifatnya tanawwu`(fariativ/cabang berkaitan dengan hukum) dianggap sebagai keyakinan, sehingga yang tidak sepaham dengannya dibenci, dijauhi bahkan diserang baik melalui lisan atau tulis. Padahal secara prinsip(akidah) Tuhannya sama-sama Allah, Nabinya sama-sama Muhammad, Shalat, Zakat, Puasanya juga sama. Yang menyebabkan konflik meluas ialah ketika perbedaan cabang itu dibesar-besarkan sehingga berimplikasi negatif berupa tidak menolong kalau bukan golongannya. Menolong kok dibeda-bedakan. Siapa saja yang butuh pertolongan, asalkan memang benar-benar butuh dan tentunya bukan dalam rangka maksiat maka harus ditolong. Mungkin juga mbak sudah hafal mengenai hadits yang menurut saya bernilai universal yaitu intinya: tingkatan iman yang paling rendah ialah membuang gangguan(duri atau yang lainnya) dari jalan. Coba perhatikan di situ kata kuncinya ialah berusaha bermanfaat dengan menyingkirkan gangguan dari jalan, padahal yang lewat jalan itu `kan bukan hanya orang Islam saja. Makanya kami tidak pernah membeda-bedakan dalam hal menolong asal pertolongannya tepat, dan tidak menggadaikan keyakinan masing-masing. Saya sangat tau betul dengan pemahaman mbak, atau yang semisal dengan sampean, karena saya juga banyak teman yang seperti mbak, bahkan di kampung ini tak sedikit yang berpaham seperti mbak, tapi toh rukun-rukun aja. Kuncinya mereka selalu menjalin komunikasi yang baik. Masalah keyakinan, itu memanga sangat privat, kita tidak bisa memaksa orang untuk sepaham dengan kita, dan masing-masing dari kita akan mempertanggunjawabkannya kelak di hadapan Allah; tapi bahwa kita sebagai manusia harus tetap bermanfaat itu tidak bisa ditawar lagi. Ada yang bilang: Allah butuh akidahmu, sedangkan manusia butuh akhlakmu. Intinya maksudnya, kalau kita ‘dianggap baik’ dalam beragama tapi kok jelek hubungan secara sosial, berarti ada yang tidak beres dengan pemahaman kita. Bedakan antara ‘pemahaman’ kita mengenai al-Qur`an dan hadits dengan al-Qur`an dan hadits itu sendiri” jawab Bapak. Sarikhuluk dengan mengalir tanpa henti, seakan-akan yang sedang berbicara di hadapanku adalah Ustadz, kiai, dosen, pakar sosial dan berbagai title yang lain. Setelah mendapat jawaban dari Pak Sarikhuluk, akhirnya aku lumayan tercerahkan. Kita boleh saja memegang teguh prinsip kita, tapi jangan sampai secara sosial kita menjadi tak bermanfaat gara-gara pemahaman yang beda. Masalah keyakinan masing-masing akan mempertanggungjawabkan sendiri di hadapan Tuhan. Manusia yang tak mau berbuat baik pada orang lain, tak mau menolong orang yang tak sepaham dengannya, adalah manusia yang belum lulus kemanusiannya. Thanks very much Bapak Sarikhuluk, semoga pencerahan ini bisa aku bawa ke lingkungan keluarga dan masyarakatku.
Share this article :

0 komentar:

Speak up your mind

Tell us what you're thinking... !

 
Copyright © 2011. Amoe Hirata - All Rights Reserved
Maskolis' Creation Published by Mahmud Budi Setiawan