Home » » Al-Qur`an Bagaikan Hujan

Al-Qur`an Bagaikan Hujan

Written By Amoe Hirata on Kamis, 18 Juni 2015 | 13.19

            Dalam buku yang berjudul, ‘Marātibu Qirā`ati al-Qur`ān(Level-level Pembacaan Al-Qur`an)’ karya: Fahmi Islam Jiwanto, ada kata-kata menarik ketika menggambarkan Al-Qur`an. Beliau menuturkan: “Al-Qur`an bagaikan hujan yang hasilnya ditentukan sesuai dengan apa yang dikandung tanah berupa biji(benih), kesuburan, dan tipe tanah. Kadang hujan turun pada satu tanah yang subur sehingga bisa menumbuhkan pohon yang berbuah masak dan nikmat. Sedangkan ketika turun di tanah lain, hanya menumbuhkan rerumputan dan ilalang. Ada juga yang  tidak menumbuhkan apa-apa. Bahkan terkadang malah mengakibatkan tanah longsor dan banjir”(hal. 12).
            Metafor ‘Al-Qur`an bagaikan hujan’, terinspirasi hadits nabi yang menyatakan: “Permisalan petunjuk dan ilmu yang Allah mengutusku dengannya adalah bagaikan ghaits(hujan yang bermanfaat)yang mengenai tanah. Maka ada tanah yang baik, yang bisa menyerap air sehingga menumbuhkan tumbuh-tumbuhan dan rerumputan yang banyak. Di antaranya juga ada tanah yang ajadib(tanah yang bisa menampung air), maka dengan genangan air tersebut, Allah memberi manfaat untuk banyak orang, sehingga manusia dapat mengambil air minum dari tanah ini. Lalu manusia dapat memberi minum untuk hewan ternaknya, dan dapat mengairi tanah pertaniannya. Jenis tanah ketiga adalah tanah qi`an(tanah yang tidak bisa menampung dan tidak bisa menyerap air). Inilah permisalan orang yang memahami agama Allah, bermanfaat baginya ajaran Allah dan dia mengajarkan kepada orang lain. Dan demikianlah orang yang tidak mengangkat kepalanya terhadap wahyu, dia tidak menerima petunjuk yang Allah mengutusku untuk membawanya”(Hr. Bukhari, Muslim).
            Penjelasannya sederhana. Jika Al-Qur`an ibarat hujan, maka tanahnya ialah hati-hati manusia. Di antara mereka ada yang memiliki hati yang bersih, lembut dan tulus sehingga ketika mendapat siraman ‘hujan petunjuk’ Al-Qur`an hatinya semakin berbinar yang berbuah amal. Ada pula yang hatinya keras, penuh maksiat, sehingga ketika mendapat siraman ‘hujan petunjuk’ Al-Qur`an, hatinya semakin congkak dan enggan beramal.
            Rupanya, permisalan ini bila ditarik benang merahnya bertalian erat dengan tamsil bulan Ramadhan(sebagai momen diturunkannya Al-Qur`an). Kata ‘Ramadhan’ dalam bahasa Arab berasal dari kata ‘ramadh’. Kebanyakan ulama mengartikannya: sangat panas. Namun ada yang memberi pengertian lain yang jauh lebih menyejukkan. Dalam kitab Lisān al-`Arabi misalnya, Ibnu Mandhur menyatakan:
والرَّمَضُ: الْمَطَرُ يأْتي قُبُلَ الْخَرِيفِ فَيَجِدُ الأَرض حَارَّةً مُحْتَرِقَةً.
Sedangkan (kata) al-Ramadh, berarti: Hujan yang datang sebelum musim gugur. Maka didapati tanah dalam kondisi panas membakar”(Lisān al-`Arab, 7/161).
            Hubungannya keduanya, Al-Qur`an dan Ramadhan laksana hujan, yang turun ketika peradaban manusia lagi berada pada titik panas kerusakannya. Kedatangannya menjadi semacam kesejukan bagi tanah yang kering kerontang. Bagi tanah yang bagus, maka akan tumbuh tanaman yang baik. Ini laksana orang yang berhati bersi lalu mau mengimaninya. Sedangkan tanah bebatuan keras, tidak akan mampu mengambil manfaat darinya. Laksana orangyang berhati keras, yang menolak petunjuk Al-Qur`an.
            Bila Al-Qur`an ibarat hujan, serta turun pada momen kesejukan Ramadhan, maka tergantung kita: maukah kita membersihkan ‘tanah hati’ agar mampu mengambil manfaat dan menyerap secara optimal dari ‘hujan Al-Qur`an’ sehingga menumbuhkan iman dan amal? Atau sebaliknya, kita biarkan ‘tanah hati’ kita keras bagai bebatuan, yang tak akan mengambil manfaat dari hujan? Pilah ada pada kita masing-masing. Yang jelas, Al-Qur`an dan Ramdhan membawa kesejukan bagi orang-orang yang berhati bersih. Wallāhu a`lam.
Share this article :

0 komentar:

Speak up your mind

Tell us what you're thinking... !

 
Copyright © 2011. Amoe Hirata - All Rights Reserved
Maskolis' Creation Published by Mahmud Budi Setiawan