Home » » Niat Laksana Benih [Bagian: I]

Niat Laksana Benih [Bagian: I]

Written By Amoe Hirata on Jumat, 12 Juni 2015 | 14.25


          Selepas memberikan pengarahan bagi para rekan-rekan petani, Sarikhuluk ditanya oleh Rio(salah seorang wartawan media Islam lokal) tentang niat. “Cak, menurut sampean apa sih yang dimaksud dengan niat?”. “Niat kalau menurut definisi yang sudah mainstrem(umum, pakem) berarti kehendak atau maksud. Setiap orang `kan –yang masih normal- sebelum melakukan sesuatu pasti berlatar maksud dan kehendak.” Jawab Sarikhuluk.
            Rio melanjutkan pertanyaannya: “Tadi dikatakan menerut pengertian umum. Lha menurut sampean niat sendiri apa sih?”. “Gampangannya begini: niat itu ibarat benih. Aku sendiri tidak ngarang-ngarang dalam masalah ini. Secara etimologis niat diderivasi dari kata, ‘nawāt’ yang berarti benih, unsur terkecil(atom), atau inti sesuatu. Dengan demikian, bisa dikatakan bahwa niat ibarat benih, atau esensi sesuatu.” Jawabnya datar.
            “Bisa dijelaskan lebih spesifik terkait metafor biji dan urgensinya?”. “Orang hidup itu laksana petani Mas atau wong kang tandhur. Lha menanam itu `kan memerlukan biji atau yang ditanam. Kalau bijinya bengkowang, nanti tumbuhnya juga bengkowang. Kalau pada nanti tumbuhnya juga pada. Makanya, pengetahuan dan penentuan akan benih ini penting supayah panennya nanti jelas”.
            “Jika petani ingin menanam tanaman yang berkualitas, maka benihnya harus berkualitas. Demikian halnya niat. Kalau buruk akan menjadi buruk, kalau jelek akan menjadi jelek.  Menariknya dalam Islam, orang baru niat baik saja sudah diganjar. Sedangakan yang niat buruk belum diberikan sanksi. Tapi perlu diingat, tugas petani hanya menanam benih dengan ikhlas. Masalah menumbuhkan hanya Allah yang tau”.
            “Kesadaran petani mengenai menanam benih sedari awal memang tidak bisa dipisahkan dari kehendak Tuhan. Ada hubungan yang baik antara Khaliq dan makhluk. Ia tidak boleh angkuh dan sombong dengan tanamannya. Sebab ada kejadian dalam al-Qur`an(Qs. Al-Qalam:  18) yang menggambarkan tentang orang yang percaya diri memanen, padahal ia tidak melibatkan kehendak Allah, akhirnya tanamannya ludes tak jadi panen. Demikian juga dalam Surah Al-Kahfi: 42. Gambaran orang kafir yang sombong dengan tanamannya sehingga ludes dan berakhir dengan penyesalan”
“Mengingat aktivitas menanam selalu terkait dengan Tuhan, maka urusan menanam, juga termasuk ibadah(dalam pengertian yang luas). Dialah yang Maha Menumbuhkan, maka manusia harus mengikhlaskan niat dan bertawakkal pada-Nya setelah beriring usaha. Orang-orang yang memiliki kualifikasi demikianlah yang akan beruntung. Uniknya, dalam al-Qur`an kata ‘beruntung’ menggunakan kata ‘falāh, muflih, aflaha’ yang kesemuanya ada kaitannya dengan petani”.

“Niat itu sangat dahsyat dan penting karena ibarat biji yang kita tanam –katakanlah biji padi- bayangkan! Satu biji padi saja, kalau tumbuh bisa menghasilkan ratusan biji. Artinya, niat baik akan dilipatgandakan jika sudah diamalkan. Di sisi lain niat memiliki urgensi berikut: Pertama, membuat hidup terarah dan jelas. Kedua, membuat diri fokus. Ketiga, khusyu` dan tenang, Karena benih yang ditanam sejak awal sudah jelas”. [Bersambung]
Share this article :

1 komentar:

 
Copyright © 2011. Amoe Hirata - All Rights Reserved
Maskolis' Creation Published by Mahmud Budi Setiawan