Home » » ANGELINA: Tamparan Keras Institusi Keluarga

ANGELINA: Tamparan Keras Institusi Keluarga

Written By Amoe Hirata on Sabtu, 13 Juni 2015 | 19.21


          Baru-baru ini, penduduk Indonesia, dikejutkan oleh kasus pembunuhan anak. Angelina –seorang bocah berumur delapan tahun yang dikabarkan hilang dari Jalan Sedap Malam, No. 29 Sanur, Denpasar, Bali 16 Mei 2015-, dikabarkan tewas. Mayatnya ditemukan pada hari Rabu, 10 Juni 2015 sekitar pukul 12.30 Wita. Ibu Kandungnya, Hamidah histeris ketika mendengar kabar yang putri kandungnya terbunuh.
         Awalnya ia diisukan hilang. Namun, melalui penyelidikan aparat polisi, akhirnya pembunuhnya bisa ditemukan. Mantan pembantu Mama Angkat Angelina(Margareth Megawe), Agustinus Tai Hamdamai(pemuda berusia 25 tahun asal Sumba), ditetapkan sebagai tersangka(baca: ‘Kronologi Hilangnya Angelina Sampai Ditemukan Meninggal di Belakang Rumah’ di: qwerty.co.id 10 Juni 2015).
            Sungguh sadis. Bocah perempuan itu sebelum dibunuh mengalami pelecehan seksual. Bahkan, sesudah mati pun ia sempat diperkosa. Jasadnya dikubur di lubang berukuran enam puluh cm yang terletak di belakang kandang ayam.
Kasus pembunuhan bocah ini bukan saja mengandung keprihatinan dan kesedihan sosial. Di sisi lain, peristiwa ini menjadi semacam tamparan keras bagi institusi keluarga.
             Seorang anak yang semestinya mendapat perlindungan dalam keluarga, sebagaimana ketetapan Undang-undang Republik Indenesia No. 23 Tahun. 2002 (Bab: I, Pasal: I, Ayat: 2) yang menyatakan: “Perlindungan anak adalah segala kegiatan untuk menjamin dan melindungi anak dan hak-haknya agar dapat hidup, tumbuh, berkembang, dan berpartisipasi, secara optimal sesuai dengan harkat dan martabat kemanusiaan, serta mendapat perlindungan dari kekerasan dan diskriminasi.”, ternyata tewas dalam kesia-siaan.

         Dari sudut pandang mana pun(agama, sosial, dan kemanusiaan),  siapapun akan mengutuk perbuatan tidak manusiawi ini. Namun, peristiwa ini tak hanya cukup untuk diratapi atau dicacimaki. Kejadian ini mengandung pelajaran berharga bagi institusi keluarga.
             Di antara pelajaran yang bisa dipetik: Pertama, tidak gampang mengizinkan anak kandungnya untuk dijadikan anak angkat orang lain, kalau tidak benar-benar kenal dan yakin akan identitasnya. Kedua, berhati-hati dalam menerima pembantu rumah tangga. Ketiga, kembali memperhatikan secara serius perkembangan dan kebutuhan anak. Keempat, tidak menyia-nyiakannya. Kelima, mengokohkan dan memaksimalkan kembali fungsi keluarga dalam perlindungan anak. Kalau keluarga sebagai institusi kecil dalam melindungi anak tidak bisa menjaga dengan baik, bisa dipastikan generasi masa depan akan habis sia-sia.
                  Kasus semacam ini bisa jadi masih banyak yang tak terungkap. Setiap keluarga syogyanya lebih intensif lagi dalam melindungi anak. Kita tentu tidak ingin kasus semacam ini, atau penelantaran anak pada bulan Mei di Cibubur terulang kembali.  
         Dalam masalah perlindungan anak, selayaknya kita belajar kepada Nabi Muhammad shallallahu `alaihi wasallam. Di samping karena Al Qur`an sangat menekankan perlindungan keluarga, termasuk anak(baca. Qs At-Tahrim: 6), dalam sejarah kehidupan emas beliau pun, dikisahkan bahwa beliau sangat sayang kepada anak-anak. Beliau tidak pernah memarahi, menghardik, dan menyia-nyiakan anak-anak meskipun itu anak orang lain. Anas bin Malik pun pernah memberi kesaksian bahwa selama menjadi pembantu beliau, ia tidak pernah dibentak atau dikasari. Ketika melakukan kesalahan, ia hanya memberi tahu dengan cara yang sangat lembut.
         Suatu ketika, Sahabat yang bernama Al Aqra` bin Habis At-Tamimi bertemu Nabi Muhammad shalllallahu`alaihi wasallam. Bagi dirinya pribadi, seorang dikatakan gagah atau jantan jika memiliki sikap keras. Hatta pada anak kecil pun ia tidak pernah terlihat sayang, bahkan sekalipun mencium. Rasulullah memberikan komentar yang terdengar sederhanan tapi menukik kesadaran jiwanya: “Siapa saja yang tidak sayang, maka dia tidak akan disayangi”(Hr. Bukhari, Muslim). Ya. Siapapun yang tidak menyayangi, tidak akan disayangi. Sudahkah kita melindungi dan menyayangi anak-anak kita?
Share this article :

0 komentar:

Speak up your mind

Tell us what you're thinking... !

 
Copyright © 2011. Amoe Hirata - All Rights Reserved
Maskolis' Creation Published by Mahmud Budi Setiawan