Home » » Niat Laksana Benih [Bagian: II]

Niat Laksana Benih [Bagian: II]

Written By Amoe Hirata on Jumat, 12 Juni 2015 | 18.00

“Di balik kedahsyatan selalu beriring rintangan dan halangan. Orang tidak cukup hanya berhenti pada niat awal. Layaknya petani, ia tidak hanya menanam biji kemudian ditinggal pergi sampai panen, Ia harus menjaga dan merawatnya agar biji yang ditanam bisa tumbuh dengan baik. Orang yang hanya niat baik saja –meski diganjar-tapi tidak beriring amal, maka bisa dijamin nanti tidak akan menajdi baik. Karena itu menjaga niat bukan urusan awal, tapi pertengahan hingga akhir harus tetap dipelihara”.
“Beberapa unsur ini harus diketahui bagi mereka yang menanam kebaikan. Pertama, Penanam: Manusia.  Kedua, Yang ditanam: Benih biji dan lain sebagainya (sebagai metafor niat). Ketiga, Ladang: Tempat menanam biji. Keempat, Penumbuh: yaitu Allah ta`ala. Orang yang berniat kebaikan harus tau kebaikan apa yang akan ditanam(diamalkan). Ia juga tau waktu dan tempat mengamalkan. Yang terakhir ia serahkan semua nilai kebaikannya pada Allah ta`ala”.
“Setelah kita tau pentingnya biji(niat). Maka kita harus tau juga sifat penanamnya. Dalam al-Qur`an yang diakui tanamannya (amalan kebaikannya) hanya mereka yang muslim dan mukmin. Orang kafir, musyrik meski menanam akan sia-sia belaka. Dalam al-Qur`an amalan mereka digambarkan sebagai fatamorgana(Qs. An-Nur: 39). Maka niat baik, harus beriring ‘tiket’  keislaman dan keimanan. Gampangannya begini, orang yang secara resmi mendapat ‘sertifikat’ atau ‘surat izin resmi’ menanam hanya orang-orang muslim dan mukmin.”
“Kembali ke masalah niat. Niat ini sangat fundamental karena, sebaik apapun petani, tapi kalau biji yang ditanam berkualitas jelek, atau tidak tau yang ditanam itu apa maka ia tidak akan bisa mencapai yang diinginkan. Niat memang tidak terlihat, karena letaknya dalam hati. Sebagaimana halnya atom yang tidak bisa dilihat dengan kasat mata. Demikian juga fondasi rumah yang tidak terlihat lantaran terletak di dalam tanah. Tapi lihat, bom atom bisa meluluh lantakkan bangunan-bangunan besar. Rumah-rumah yang fondasinya rusak, akan jatuh seketika. Maka jangan sekali-kali meremehkan niat, karena dia sangat penting dan esensial”.
“Terakhir, Sarikhikuluk menasihatkan: “Kalau hakikat hidup ibarat petani, maka anda harus benar-benar cermat dan jeli dalam memilih benih, biji(niat). Sebab, jika anda salah maka anda akan menyesal di kemudian hari. Tanamkan biji kebaikan dalam hatimu, niscaya akan tumbuh amal kebaikan melalui anggota badanmu. Sebab, semua yang tumbuh secara lahiriah adalah bersumber dari biji yang ditanam sejak awal. Kalau kamu mewancarai saya ini niatnya hanya mencari dunia, maka hanya dunia yang kamu dapat. Tapi kalau karena Allah, atau ikhlas beribadah, maka kamu akan mendapat dunia dan akhirat sekaligus”.

Wartawan itu hanya bisa ternganga. Ia tidak bisa melanjutkan pertanyaannya lantaran penjelasan Sarikhuluk yang panjang lebas. Di samping itu, waktu shalat Ashar sudah tiba. Maka, wawancara harus segara diakhiri. Walau terasa singkat, Rio mendapat ilmu berharga tentang niat dengan pengertian yang baru yang tidak dipahami oleh orang pada umumnya. Dalam hatinya ia bergumam: “Yes. Al-hamdulillah. Jos tenan Cak Sarikhuluk ini. Kapan-kapan aku akan mewawancarimu kembali”.
Share this article :

0 komentar:

Speak up your mind

Tell us what you're thinking... !

 
Copyright © 2011. Amoe Hirata - All Rights Reserved
Maskolis' Creation Published by Mahmud Budi Setiawan